Kopi Pagi: Yang Bersahaja, Yang Menyentuh

  • Bagikan
Iswadi Pratama

Iswadi Pratama

Keindahan, seringkali memang tak membutuhkan aksesori. Ia telah cukup
dengan tubuh dan ruh. Dan bagi seorang aktor, tidak ada tubuh selain
yang telah ditempa habis habisan dalam disiplin latihan yang terjaga,
sebelum akhirnya menjadi patut hadir di sebuah pentas, di hadapan
ratusan pasang mata. Pula tidak ada ruh atau jiwa selain yang telah
kenyang didera pahit-getir proses kreatif yang tak pernah mendua. Tekun
dan setia, meski di sekelilingnya bertabur godaan untuk memilih hal hal
yang lebih pasti dan menyenangkan dalam pandangan orang kebanyakan.
Semua itu, tak mungkin dipilih oleh mental yang gampang tugal atau hati
yang mudah sempal.

Demikianlah saya kembali  tergetar, koyak dan berdarah, menyaksikan
penampilan dua aktor asal Yogjakarta, Jamaluddin Latief dan Inyoņg dalam
nomor Pantomim mereka; “Prahara Rumah Tangga”, dalam penutupan Festival
 Teater Mahasiswa Indonesia ke XI, di Kampus Universitas Muhammadiyah
Makassar, Sulawesi Selatan, 18 November 2015 lalu.

Mereka tak mengenakan make up, tidak ada kostum khusus selain kaos
oblong warna putih pudar yang mereka tambahkan dengan sebuah tulisan
berwarna merah: “Endonesiah”. Tanpa tata cahaya, bahkan sonder musik
atau sekadar bunyi dari sebuah instrumen, selain suara gendang dari
mulut mereka sendiri dan penerangan menggunakan lampu neon dalam
ruangan.


Keduanya berdiri di belakang ratusan penonton yang duduk di lantai.
Sebentar lampu dipadamkan. Gelap yang sesaat itu tak hendak menjanjikan
sebuah kejutan. Ia hanya memberi sugesti bahwa pentas akan segera
dimulai. Lalu keduanya berjalan memasuki area permainan melewati sela
sempit di antara tubuh penonton. Jamal di depan dan memberi isyarat
dengan tubuh dan wajahnya kepada setiap orang untuk berkenan memberi
jalan pada Inyong yang mengikuti di belakangnya dengan memanggul tas
cukup besar, tas yang hanya ada dalam imajinasi, namun ia seakan benar
benar ada. Urat-urat di kedua lengan Inyong menyembul dari balik daging
yang pejal, seakan ia sedang menahan beban amat berat. Sampai di area
permainan, Inyong meletakkan tas itu dan Jamal berbicara dengan seluruh
audiens–juga hanya dengan mimik dan tubuhnya. Setiap orang bisa memilih
kalimatnya sendiri untuk mengerti apa yang disampaikan Jamal.

Lalu cerita bergulir. Dimulai dari pemain sulap jalanan, lalu sebuah
transisi, dilanjutkan dengan Ayah dan anak yang pergi bertamsya ke kebun
binatang. Mereka menjadi harimau, menjadi kera, mereka saling terpisah
lalu bertemu lagi. Penonton dibikin asyik, sesungguhnya  bukan oleh
cerita–melainkan oleh tubuh dan emosi keduanya: presisi gerakan, emosi
yang terukur, tempo dan dinamika yang terjaga. 

Dari sini cerita beralih
ke soal kekerasan dalam rumah tangga. Jamal menjelma jadi seorang suami
yang menakutkan, buas, dan kalap. Inyong menjadi seorang anak yang
gemetar dan tertekan di sudut ruangan. Melalui pilihan bentuk
pemeristiwaan yang lumrah: keduanya bisa mencekam kita dengan sebuah
teror dari dalam rumah. Kembali sebuah transisi. 
Cerita beralih pada
kisah penari topeng yang mengamen di jalanan. Jamal memainkan gendang
dan menirukan bunyinya. Setiap satu jenis  tarian topeng akan dimainkan,
Jamal memberikan gambaran mengenai topeng yang akan dipakai dengan
membentuk wajahnya sedemikian rupa. Lalu Inyong memakai topeng itu, dan
membentuk wajahnya serupa dengan ekspresi Jamal. Berganti-ganti topeng
dan tarian diperagakan, berkali kali pula kita disuguhi bentuk bentuk
yang memikat, mengundang tawa, kejutan kejutan kecil lewat ekspresi
gerak dan teknik yang sebenarnya tidak gampang. Dan di antara itu, kita
juga bisa menitikkan air mata. 
Membayangkan bagaimana si penari dan si
pemain gendang mengembara dari jalan demi jalan untuk meraih simpati dan
rasa hormat yang patut. Tapi keduanya, seakan tengah menghadapi orang
ramai yang acuh, yang tak memerlukan sesuatu yang memiliki kedalaman.
Mereka hanya butuh hiburan, tertawa, dan badutan. Dan si penari merasa
tak mampu lagi. Ia capek menjadi aktor yang ditertawai. 
Dari matanya
kita bisa tahu; sesuatu yang amat perih, luka yang mengorak di dalam dan
disembunyikan. Dan rasa perih itu, tidak menitik menjadi air mata.
Melainkan banjir keringat di sekujur tubuh Inyong dan Jamal. Tubuh dan
jiwa yang fasih menghadapi deraan. Dan penonton berbahagia. Dan penonton
disapa keindahan, disentuh keharuan melalui yang bersahaja, yang tanpa
aksesori. ***

*Iswadi Pratama adalah seorang penyair. Berhikmat di Teater Satu, Lampung

Blog Iswadi: http://iswadi-pratama.blogspot.co.id

  • Bagikan