Beranda News Teras Jabar Korban Erupsi Gunung Tangkubanparahu 24 Orang

Korban Erupsi Gunung Tangkubanparahu 24 Orang

11759
BERBAGI
ATAP warung di sekitar Kawah Ratu, Sabtu 27 Juli 201,9 tertutup abu vulkanik letusan freatik Gunung Tangkubanparahu, Subang.*/ANTARA
ATAP warung di sekitar Kawah Ratu, Sabtu 27 Juli 201,9 tertutup abu vulkanik letusan freatik Gunung Tangkubanparahu, Subang.*/ANTARA via Pikiran Rakyat

TERASLAMPUNG.COM — Dinas Kesehatan Jawa Barat menyatakan, terdapat 24 orang terdampak erupsi Gunung Tangkubanparahu yang telah ditangani. Selain itu, Dinkes Javar juga telah menaruh bantuan logistik di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat dengan lokasi kejadian.

BACA: PVMBG: Erupsi Gunung Tangkubanparahu Tak Pengaruhi Sesar Lembang

Bantuan logistik itu di antaranya 1.000 masker agar warga tidak menghirup debu vulkanik yang berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani Gelung Sakti mengatakan, terkait erupsi Gunung Tangkubanparahu pada Jumat 26 Juli 2019, Dinkes sudah berkoordinasi dengan BPBD serta petugas di faskes yang berada dekat dengan di lokasi kejadian seperti Puskemsas Cikole dan RSUD Lembang.

“Kami langsung meluncurkan logistik berupa masker. Tadi malam sudah kami simpan di lokasi dan kami sampaikan informasi kepada masyrakat agar tetap tenang dan ikuti petunjuk dari petugas yang ada di lapangan,” kata Berli, Sabtu 27 Juli 2019.

Dia mengatakan, 24 orang yang terdampak kebanyakan mengalami sesak napas. Mereka sudah menjalani perawatan di RSUD Lembang.

“Mereka tadi malam sudah pulang. Ada satu orang yang mengalami luka bakar karena berada terlalu deket saat terjadinya erupsi. Tapi kami sekarang tetap turunkan tim, semua ada di lapangan dan kami ikut memantau. Mudah-mudahan erupsi tidak berlanjut,” kata dia.

Berli menuturkan, selain masker, tenaga medis kesehatan siap siaga sudah ada di faskes terdekat dengan Gunung Tangkubanparahu. “Kami juga sudah buat pengajuan ke Kemenkes untuk penambahan logistik sebagai stok,” kata dia.

Masker menjadi prioritas saat ini karena jika abu vulkanik terhirup, akan membahayakan saluran pernapasan karena banyak mengandung partikel yang hanya debu tapi juga logam berat dan gas beracun. “Selain sesak napas, kalau sampai gas beracun terhirup, bisa berdampak fatal,” katanya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, jika masih ada debu vulkanik di sekitar Gunung Tangkubanparahu, warga maupun yang beraktifitas di sekitar lokasi harus memakai masker.

”Tolong dipakai. Saya lihat tadi, radius 500 meter masih tidak boleh ke sana,” kata dia.

Nila Moeloek meminta aparat terkait mengecek kondisi warga sekitar, terlebih jika ada warga yang mengungsi. “Nanti kami lihat apakah ada pengungsi atau tidak, mudah-mudahan masih aman dalam hal ini,” kata dia.

Erupsi freatik Gunung Tangkubanparahu terjadi pada Jumat 26 Juli 2019. Erupsi tersebut sempat membuat kepanikan warga di sekitar wilayah Lembang. Apalagi dalam video erupsi yang tersebar di media sosial menunjukkan pergerakan gumpalan erupsi tampak dahsyat.

Meskipun begitu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan erupsi Gunung Tangkubanparahu pada Jumat petang itu tidak banyak berdampak terhadap pergerakan Sesar Lembang. Pergerakan Sesar Lembang bisa muncul jika dipicu erupsi magmatik Gunung Tangkubanparahu.

Pikiran Rakyat

 

Loading...