Beranda Teras Berita Korban Tabrak Lari yang Sempat Ditahan Rumah Sakit Handayani Akhirnya Meninggal

Korban Tabrak Lari yang Sempat Ditahan Rumah Sakit Handayani Akhirnya Meninggal

471
BERBAGI

Feaby/Teraslampung.com

Mardi dibawa dengan ambulans untuk dirujuk ke RS Abdoel Moeloek Bandarlampung, Sabtu petang (18/4).

Kotabumi–Keputusan pihak Rumah Sakit Handayani (RSH) Kotabumi, Lampung Utara (Lampura) yang diduga lebih mementingkan uang jaminan ketimbang nyawa pasien harus ditebus dengan nyawa Mardi, pasien korban tabrak lari, Sabtu (18/4) malam. Mardi, pasien RSH yang sempat tertahan ‎selama dua jam di RSH karena tak ada uang jaminan sebesar Rp.2,4 juta sebelum akhirnya dapat dirujuk ke RS Bandar Lampung akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di RS Abdul Moeloek Bandarlampung, Minggu dini hari (19/4).

Kabar duka ihwal meninggalnya Mardi pertama kali didapat dari Dedy Andrian‎to, Sekretaris Komisi III DPRD Lampura melalui rekannya yang juga tetangga korban, Santori. Menurut Dedy, meski sempat dirawat di RS Abdul Moeloek Bandar Lampung tapi nyawa yang bersangkutan tak dapat ditolong. Korban menghembuskan nafas terakhir pada Minggu(19/4) dini hari. (Baca: Ini Alasan Karyawan Rumah Sakit Handayani Menahan Pasien Korban Tabrak Lari).

“Saya dapat kabar dari Santori pagi ini kalau Mardi meninggal dunia tadi malam sekitar pukul 00:00 WIB,” tuturnya melalui pesan Blackberry-nya, Minggu (19/4) pagi.

Menurut Dedy, jika saja pihak RSH tak mengutamakan uang jaminan yang ‎berujung pada tertahannya keberangkatan Mardi menuju Bandar Lampung untuk dirujuk, mungkin nyawa yang bersangkutan akan dapat tertolong.

“Terlepas ini sudah ajal, tapi mungkin ceritanya lain (tidak meninggal) kalau yang bersangkutan saat itu diizinkan dirujuk tanpa uang jaminan,” sindir dia.

Legislator muda ini berjanji akan membawa persoalan ini ke DPRD agar tidak ada lagi Mardi – Mardi lain yang meninggal dunia akibat peraturan kaku RS. “Kalau tidak bisa lewat Komisi, saya akan dorong persoalan ini melalui lintas‎ Partai (Fraksi),” tandasnya.

Sebelumnya, ‎uang sepertinya lebih berharga ketimbang nyawa pasien bagi Rumah Sakit Handayani (RSH), Kotabumi, Lampung Utara. Pasalnya, RS swasta ini sempat menahan Mardi, korban kecelakaan yang harus segera dirujuk ke RS Abdoel Moeloek Bandarlampung, Sabtu (18/4) sekitar pukul 17:30 WIB.

Penyebabnya, Mardi yang merupakan pasien Jamkesmas tidak memiliki uang jaminan sebesar Rp.2,4 juta yang diminta pihak RSH. Alhasil, Mardi sempat ‘terkatung – katung’ selama dua jam di RSH tanpa ada kejelasan kapan akan dirujuk. Padahal, kondisi Mardi saat itu ‎harus segera dirujuk ke RS Bandarlampung  akibat luka parah di bagian kepalanya. (Baca: Tak Bisa Bayar Uang Jaminan, Korban Tabrak Lari Ditahan Rumah Sakit Handayani Kotabumi).

‎Melihat kondisi Mardi yang tengah berjuang ‘melawan’ maut dan tak sama sekali tak memiliki biaya, Dedy Andrianto, anggota komisi III DPRD Lampura yang secara kebetulan menemani rekannya Santori membesuk Mardi langsung berinisiatif menemui pihak RSH untuk menjamin secara pribadi yang bersangkutan setelah sebelumnya memberitahukan kedudukannya sebagai wakil rakyat kepada pihak RSH. Sayangnya meski telah mengetahui dirinya sebagai anggota DPRD, permohonan Dedy tetap tak digubris. ‎

Merasa tak digubris, Dedy pun memberikan kunci mobil Toyota Innova miliknya kepada pihak RSH sebagai jaminan atas pasien dimaksud. Namun, lagi – lagi, Dedy harus kecele karena jaminan mobil yang diajukannya kembali ditolak oleh RSH. “Pasien itu sedang sekarat dan harus segera dirujuk tapi mereka tetap tak bergeming dan harus menelpon  pimpinannya dulu. Hasilnya, mereka masih tetap menolak permohonan saya,”‎ kata dia saat ditemui di RSH.