Korrie Layun Rampan, dari Borneo Menjaga Sastra Indonesia

  • Bagikan
Oyos Saroso H.N.
Korrie Layun Rampan (dok pribadi)
Setelah sejak 1997 pindah dari Jakarta ke Lampung, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Korrie Layun Rampan. Kami kembali bertemu  pada perhelatan Kongres Cerpen Indonesia (KCI) kelima di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, akhir Oktober 2007 lalu. Saat itu,Korrie masih menjabat sebagai anggota DPRD Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Sejenak merangkap profesi sebagai politikus, tidak menyurutkan perhatianKorrie Layun Rampan—salah satu cerpenis, novelis, dan
kritikus terbaik dalam dunia sastra Indonesia—kurang perhatian terhadap
perkembangan sastra Indonesia. 

Hal itu dibuktikan Korrie Layun Rampan saat diundang menjadi salah satu pembicara pada KCI di Banjarmasin. Dalam acara itu  Korrie Layun Rampan tidak hanya tampil sebagai
salah satu bintang. Korrie, yang tampil sebagai pembahas soal warna lokal
cerita pendek Indonesia, juga menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi salah
satu pengamat dan kritikus sastra Indonesia hingga saat ini. Hal
itu dibuktikannya dengan kefasihannya membicarakan pengarang Indonesia mulai
tumbuhnya sastra Indonesia hingga pengarang paling mutakhir.

Obsesi Korrie untuk menebitkan banyak buku (yang sudah siap terbit) terpaksa terhenti. Sejak beberapa tahun terakhir, nama
Korrie Layun Rampn seolah tenggelam.Ia tidak lagi mempublikasikan
karya-karyanya.Kepada kawan-kawannya, melalui istri dan anaknya, Korrie mengabarkan bahwa dirinya perlu
banyak istirahat pascaoperasi matanya.
Sosok yang Tekun
Hasil ketekunan berkarya dan pengamatannya
terhadap karya sastra Indonesia itu, sudah dibukukan dalam bentuk 200-an buku.
Antara lain 7 novel, 31 kumpulan cerita pendek, 7 kumpulan puisi, 11 kumpulan
kritik sastra, 35 buku cerita anak, 6 buku tentang sastrawan Indonesia, dan 7
buku teks sastra. Selain itu karya-karyanya juga dimuat di lebih dari 80
antologi.
Meski sudah menghasilkan ratusan buku
sastra, Korrie masih masygul. Pertama, karena dia kesulitan mengelola Pusat
Dokumentasi Sastra Korrie Layun Rampan yang berada di Bekasi, Jawa Barat, dan
Jakarta. Kedua, karena masih banyak tulisannya yang belum bisa diterbitkan.
Di dunia sastra Indonesia, Korrie
memang seorang dokumentator sastra yang tekun. Ia bisa disejajarkan dengan H.B.
Jassin, yang selama ini menjadi ikon kritikus dan dokumentator  sastra Indonesia.
Korrie mengaku ada keinginan memboyong
buku-buku dokumentasi sastra miliknya ke Kalimantan Timur. ”Tapi itu perlu
biaya besar karena kalau dibawa dengan kapal laut perlu beberapa kontainer.
Sementara di Kutai Barat saya belum punya rumah. Rumah saya di Bekasi masih
ada. Tapi di tanah kelahiran saya sendiri saya masih ngontrak,” ujar ayah 6
anak ini.
Bahan-bahan berupa hasil ketikan siap
cetak ditumpuk akan lebih dari 2,5 meter. Menurut Korrie, bahan buku-buku
sastra yang siap diterbitkan itu sampai sekarang tidak kunjung terbit karena
tidak ada penerbit yang menerbitkannya.
”Mereka (penerbit) takut buku-buku
sastra tidak laku. Penerbit lebih tertarik untuk menerbitkan karya-karya
populer ketimbang karya sastra. Apalagi, karya esai dan kritik sastra, nyaris
tidak ada penerbit yang mau menerbitkan,” penulis ratusan buku sastra itu.
Sastrawan yang lama tinggal di
Yogyakarta dan Jakarta ini mengaku sangat kecewa dua jilid bukunya tentang para
sastrawan Angkatan 2000 tidak jadi diterbitkan sebuah penerbit terkemuka di
Indonesia.
”Jilid pertama dengan judul Angkatan
2000 dalam Sastra Indonesia
. Kalau dua jilid itu jadi diterbitkan maka  akan melengkapi perkembangan sastra Indonesia
mutakhir. Tapi saya tidak mau menyerah. Meskipun masih banyak karya saya yang
belum diterbitkan, saya masih terus menulis puisi, cerpen, novel dan kritik
sastra. Novel saya belum lama ini memenangkan lomba cipta roman yang
diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta,” ujar peraih Hadiah Seni dari
Pemerintah Republik Indonesia ini.
Sastrawan berdarah Dayak ini mengaku
meski kini terjun ke dunia politik—saat ini Korrie menjadi ketua DPD Partai
Demokrat Kabupaten Kutai Barat—dunia sastra tidak mungkin ditinggalkannya. ”Sastra
adalah panggilan jiwa saya. Kini saya berusaha menyeimbangan antara aktivitas
di dunia sastra dengan dunia politik. Saya membuktikan ternyata dua dunia itu
bisa berjalan seiring,” ujar pemenang utama Hadiah Mengarang Roman Dewan
Kesenian Jakarta pada 1976 ini.
Dilahirkan di Samarinda 17 Agustus
1953, semasa muda Korrie Layun Rampan lama tinggal di Yogyakarta. Sambil kuliah
di Yogya, Korrie aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi
Klub, sebuah kelompok sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam
grup yang mewadahi ratusan aktivis sastra ini telah lahir sejumlah sastrawan
ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif, Arwan
Tuti Artha, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Suminto A. Sayuti,
Naning Indratni, Yudhistira A.N.M. Massardi, dan Gunoto Saparie.
Saya memoderatori Korrie Layun Rampan dan cerpenis Agus Noor pada forum Kongres Cerpen Indonesia di Banjarmasin , Oktober 2007. Ketika itu Ma Korrie masih sangat sehat dan semangat terus berkiprah di dunia sastra Indonesia. 

Pada 1978 Korrie pindah ke Jakarta dan
bekerja sebagai wartawan dan editor buku di beberapa penerbit. Tahun 1980-an
hingga 1990-an ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta,
mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah,
Jakarta.
Dengan maksud membangun tanah
kelahirannya, pascareformasi Korrie kembali ke Kutai Barat, Provinsi Kalimantan
Timur. Mula-mula ia mendirikan koran Sentawar Pos pada 2001,sambil mengajar di
Universitas Sendawar, di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Lalu pada Pemilu 2004
ia mencalonkan diri sebagai anggota legistatif Kabupaten Kutai Barat dari
Partai Demokrat. Kini Korrie menjadi salah satu anggota DPRD Kabupaten Kutai
Barat periode 2004-2009.
Meskipun telah menjadi angota DPRD,
Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya.
Pekerjaan itu pula yang menjadikan Korri kini bolak-balik Kutai Barat-Jakarta.
Sebagai sastrawan, Korrie dikenal
sebagai sastrawan yang kreatif. Berbagai karya telah ditulisnya, seperti novel,
cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Ia juga menerjemahkan sekitar seratus
judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis
dunia, seperti Leo Tolstoy, Guy de Maupassabt, Knut Hamsun, Anton Chekov,
O’Henry, dan Luigi Pirandello.
Novel karyanya berjudul Upacara meraih
hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1976. Sementara
novel karyanya berjudul Api Awan Asap meraih hadiah serupa pada 1998.
Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya
mendapat hadiah dari berbagai sayembara.
Beberapa cerita anak yang ditulisnya
ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia
Langit
(1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan
referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi.

  • Bagikan