Korupsi Proyek Bandara, Mantan Kadishub Lampung Mengaku Diperas

  • Bagikan
Sidang kasus korupsi proyek pembebasan lahan untuk Bandara Radin Inten II dengan terdakwa mantan Kepala Dinas Perhubungan Lampung, Albar Hasan Tanjung, di PN Tanjungkarang, Senin (28/11/2016).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pembebasan lahan untuk (land clearing) perluasan Bandara Radin Intan II, Lampung Selatan tahun 2014 senilai Rp 8,7 miliar, Albar Hasan, kembali  menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (28/11/2016). Pada persidangan tersebut, mendengarkan kesaksian mantan kepala Dinas Perhubungan Lampung tersebut.

Dalam kesaksiannya, mantan Kadis Perhubungan yang juga mantan Pj Bupati Way Kanan itu mengaku adanya dugaan pemerasan terhadap dirinya. Namun di hadapan Majelis Hakim, Albar tidak mengungkapkan siapa orang yang memerasnya tersebut.

Dikatakannya, ada seseorang pengacara yang menyampaikan melalui Sugiharto, yang juga sebagai salah satu terdakwa kasus korupsi, bahwa anaknya akan diperiksa terkait kasus yang melibatkan dirinya dengan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Jadi ada pemerasan yang mulia. Saya diminta untuk menyiapkan uang Rp 600 juta kepada orang itu untuk (menyelesaikan) kasus anak saya. Lalu saya pancing dan saya mengiyakannya. Rekaman itu ada pada saya yang mulia. Kita (bisa) lihat siapa orang yang di rekaman itu,” mantan Komandan Kodim Lampung Barat itu.

Albar mengungkapkan, dirinya tidak menerima uang atau honor satu sen pun dalam kasus dugaan landclearing Bandara Radin Intan II yang merugikan negara Rp 4,8 miliar tersebut. Jabatan dirinya sebagai Kadishub Provinsi Lampung, sejak Juni 2014 silam dan ia ditugaskan sebagai pengguna anggaran karena menggantikan Kadishub sebelumnya yang telah meninggal dunia.

“Saat saya masuk dalam proyek tersebut, sudah mulai berjalan dan panitianya juga sudah terbentuk. Saya berani bersumpah, kalau saya tidak menerima honor sedikit pun dan dari siapapun orangnya yang menerima hanya PPTK,”kata Albar dengan nada keras.

Dikatakannya, ia juga tidak mengetahui terkait proses pekerjaan tersebut, karena seluruh tugasnya sudah diserahkan kepada Bambang Sumbogo selaku Kepala Bidang Perhubungan Udara dan sebagai koordinator proyek tersebut. Albar mengaku, hanya mengetahui tanda tangan kontrak atas desakan Bambang.

Dalam persidangan ini, bahwa adanya upaya untuk menghentikan kasus ini dengan memberikan sejumlah uang. Albar mengutarakan, bahwa dirinya pernah didatangi oleh Bambang Sumbogo selaku Kabid Perhubungan Udara dan Lukman sebagai stafnya.

“Bambang dan Lukman pernah datang ke rumahnya saat saya masih menjabat sebagai pejabat Bupati Way Kanan,”ucapnya.

Saat itu, kata Albar, Bambang mengatakan bahwa kasus korupsi landclearing ini, bisa ditutup asalkan menyerahkan uang sebesar Rp 1 miliar. Namun, ia menolak permintaan Bambang tersebut karena ia sudah tidak menjabat lagi sebagai Kadishub Provinsi.

“Bambang bilang ke saya, bapak tinggal bilang iya saja nanti biar kami yang carikan uangnya untuk menutupi kasus ini,”terangnya.

Albar pun menegaskan, dirinya ingin membiarkan kasus tersebut di proses Kejaksaan, ia juga siap menghadapi segala resikonya. Sebab, ia sangat menyakini bahwa kesalahan tersebut bukanlah terjadi karena dilakukan oleh dirinya.

Menurutnya, saat ia memberikan tugas tersebut kepada Bambang, ia menekankan agar semua pekerjaan landclearing dapat terawasi tanpa ada masalah. Kalau memiliki kendala, untuk dapat melaporkan segera kepada dirinya. Namun dalam pekerjaan, ia tidak mendapatkan laporan apapun hingga akhirnya Kejaksaan datang menyelidiki hasil pekerjaan landclearing tersebut.

“Saya serahkan pekerjaan itu ke Bambang, saya juga menegaskan ke Bambang kalau hasilnya tidak sesuai saya tidak akan membayar pekerjaan itu. Tapi Bambang mencoba meyakini saya, kalau pekerjaan itu tidak ada kendala dan hasilnya sudah sesuai,”ungkapnya.

Albar juga menegaskan, bahwa dalam kasus tersebut, tidak sedikit pun ia menyesali atas perbuatan yang menurutnya sama sekali tidak pernah dilakukannya.

“Saya tidak menyesal, mau ditembak mati pun tidak takut. Karena saya hanya fokus mengenai penegakkan kebenaran saja,”jelasnya.

Usai persidangan, Albar enggan mengungkapkan dan membeberkan siapa orang yang dimaksudkannya melakukan pemerasan tersebut.

  • Bagikan