Kota Berwajah Ruko

  • Bagikan

Jauhari Zailani

Menyaksikan perkembangan sebuah kota, adalah menyaksikan budaya manusia-manusia penghuninya. Bagaimana manusia-manusia di kota itu memaknai ruang, waktu, dan dirinya. Meskipun nampaknya berubah menjadi modern, manusia bertambah jumlahnya, meningkat pendidikannya, tetapi pola pikirnya tak beranjak.

Manusia memang pemelihara status quo dari warisan budaya leluhurnya. Karena itu enggan membuat kreasi. Dalam arti ekstrm: antiperubahan. Dan itu juga yang membuat satu kota berbeda dengan kota yang lain. Celakanya, bila sebuah kota mengambil jalan pintas dan serampangan. Bagi saya, kenangan pada kota Tanjungkarang dan Teluk Betung adalah kenangan pada pasar.

Pada awal tahun tujuh puluhan (1970-an). Sebagai anak,saya acap “ngintil” ayah “ke Pasar”. Ketika itu, perjalanan dari Wayhalim, mobil tersaruk-saruk menghindari kubangan jalan. Apalagi musim penghujan. Dengan mobil Land Rover yang gagah, bersama ayah menuju dan menelusuri Pasar Bambu Kuning, Pasar SMEP, Pasar Tengah, Pasar Bawah. Pusat “kota” Tanjung Karang adalah pasar. “Opelet” “ngetem” dan “mangkal” mencari penumpang di sepanjang Jalan Bengkulu, Jalan Pangkal Pinang, Jalan Pemuda, jalan Medan, dan jalan Radin Intan.

Riuh rendah pekik kenek dan “cakil” mobil berebut penumpang. Copet leluasa beroperasi, kasar dan terang-terangan di tengah ruwetnya lalu lintas penumpang dan pelintas jalan. Dari pasar, tetap menjadi pasar.

Kini, meski 50 tahun telah berlalu, “Pasar” itu tak berubah. Bisa saja bangunan lama dibongkar dan bangunan baru berdiri. Tetapi, Bandar Lampung yang pasar tetap berwajah pasar. Pasar Bambu Kuning, Pasar SMEP, Pasar Bawah masih tetap bertahan menjadi pasar tradisional. Pasar Tengah, Jalan Pemuda, Jalan Pangkal Pinang tetap dijejali ruko. Usaha kaki lima di sepanjang Jalan Mesjid Taqwa, Gereja dan kantor di sebelahnya masih tetap tak terurus.

Pasar Bawah, dari dulu, adalah pasar dan terminal. Dulu terminal antar kota antar propinsi, kini angkot dan bis Damri masih mangkal di sini. Ada perubahan fisik, tetapi tempat dan fungsinya tetap sama. Bioskop Sederhana, Raya, King, dan Enggal sudah berubah menjadi toko. Di jalan Radin Intan, masya Allah. Rumah Pak Zainal Abidin Pagar Alam, sang gubernur, juga telah menjadi ruko. Melengkapi deretan ruko di Bandar Lampung, berbagai spanduk, baliho komersial berjejer di sepanjang jalan dan lekat pada ruko-ruko.

Perjalanan diteruskan ke Jalan A. Yani dan Jalan Kartini yang sudah penuh dengan ruko. Gambaran tak jauh beda, kita dapat temui jika perjalanan kita lanjutkan ke Teluk Betung, menuju Panjang. Anda akan berkata dan bertanya apanya yang salah? Bukankah kota ini sudah berubah dan maju?

Setuju, pasti tidak ada yang salah. Bahkan benar, jika logikanya adalah dengan membangun ruko, mudah dan menguntungkan. Harga tanah naik berlipat, pajak retribusi meningkat, kota menjadi ramai, seramai pasar. Tetapi apa indahnya, bangunan berbentuk kotak, bersekat-sekat, yang rakus dan pelit lahan?

Bangunan yang tak hendak menyisakan tanah kosong, dengan begitu kota menjadi gersang. Berbagai pohon lenyap dari pinggir jalan, tanah tak lagi berfungsi sebagai cerapan air. Apalagi tata kota yang semrawut dan alur jalan yang tak terencana. Ruko adalah sumbangan nyata untuk sebuah wajah kota yang berwatak kapitalis primitif, wajah kota yang sangat kampungan. Tentu, tak boleh kita henti berharap.

Jangan lelah kita menunggu hadirnya pemikiran dan tindakan yang cerdas untuk sebuah kota yang humanis. Yang menjadi wadah dan ajang kreativitas bagi warganya. Semoga

 

  • Bagikan
You cannot copy content of this page