Kota Sebagai Entitas Lingkungan Berkelanjutan (2)

  • Bagikan
City Forest Singapore (Foto Dok National Geograpich)
City Forest Singapore (Foto Dok National Geograpich)

Fritz Akhmad Nuzir*

Konsep-konsep ini telah banyak diterapkan di kota-kota di negara-negara maju yang notabene pada awalnya banyak melakukan kesalahan pada konsep pengembangan kotanya. Sehingga, kemudian perlahan kota-kota tersebut dapat mengurangi dampak negatif pengembangan kota pada lingkungan alami.

Kota Amsterdam, misalnya, mengonsumsi air paling sedikit di seluruh dunia yaitu 146 liter per orang per hari. Walaupun negara Belanda dialiri banyak sungai dan seperti tak pernah kekurangan air, tetapi faktanya memag negara tersebut terletak di bawah permukaan air laut yang saat ini semakin meninggi akibat dari perubahan iklim menyebabkan terjadinya krisis air minum akibat dari berkurangnya air tanah.

Contoh yang lain, saat ini level pencemaran udara di kota-kota di Eropa adalah 25% lebih rendah dari kota-kota di Amerika Latin dan 50% lebih rendah dari kota-kota di Asia. Hal ini berkebalikan dari kondisi pada awal abad ke-20. Fakta yang tak kalah mengejutkan, bahwa Kota San Francisco and Los Angeles telah berhasil mendaur-ulang sebanyak 77% dan 62% dari produksi sampah mereka dengan baik (The Green City Index, 2012).

Namun, di lain pihak, lingkungan alam adalah satu kesatuan jaringan yang pada akhirnya saling mempengaruhi dalam skala planet bumi. Sementara dampak negatif yang diakibatkan oleh pengembangan kota-kota di negara maju masih terus dirasakan oleh penduduk bumi secara keseluruhan, misalnya fenomena global warming (pemanasan global) yang merupakan hasil dari pola pembangunan pada berpuluh-puluh tahun yang lalu, kota-kota di negara berkembang yang saat ini secara drastis mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti tidak pernah belajar atas kesalahan yang dibuat oleh kota-kota di negara maju sebelumnya.

Ketika pertumbuhan ekonomi memicu pembangunan infrastruktur kota yang terjadi kemudian adalah penerjemahan konsep-konsep pengembangan kota tadi dalam bentuk angka-angka perhitungan ekonomi dan menghasilkan pembangunan-pembangunan fisik yang tak jarang merupakan metode instant dalam pengembangan kota. Dan akhirnya hanya kembali untuk memenuhi kebutuhan manusia belaka.

Seperti misalnya konsep “Kota Hijau” yang saat ini sedang getol dikembangkan oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi dan Kota di seluruh Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Konsep ini pada prinsipnya adalah sebuah konsep kota yang ramah lingkungan, dalam hal pengefektifan dan pengefisiensian sumber daya alam dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin adanya kesehatan lingkungan, dan mampu mensinergikan lingkungan alami dan buatan. Atau dengan kata lain:  kota yang berdasarkan pada perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (lingkungan, sosial, dan ekonomi).

Sayangnya, pelaksanaan konsep “Kota Hijau” ini kemudian cenderung mengutamakan pembangunan infrastruktur Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau taman, sehingga muncul proyek pembuatan taman-taman yang kemungkinan besar tidak dibutuhkan dan tidak dimanfaatkan masyarakat. Walaupun ada elemen sosialisasi dan pembentukan komunitas, kegiatan-kegiatan tersebut sepertinya akan bersifat seremonial belaka dan mudah terlupakan.

Kenapa bisa begitu? Karena penerapan konsep ini belum dilakukan secara menyeluruh, baru merupakan proyek Kementrian PU saja. Sementara Kementerian lain pun menciptakan konsep-konsep yang lain seperti Kota Batik, Kota Sehat, dan sebagainya. Penerapan konsep untuk pengembangan kota seharusnya dari awal merupakan suatu konsep yang lintas bidang. Seperti misalnya yang diterapkan oleh pemerintah Singapura dengan membuat suatu kerjasama antara Kementerian Pariwisata, Kementrian Ekonomi, dan Badan Perencanaan Kota dalam membuat dan mengimplementasikan konsep pengembangan kawasan Orchard Road.

Begitu pula seperti yang dilakukan pemerintah kota Kitakyushu dalam mengembangkan konsep Eco-Town yang melibatkan Badan Lingkungan Hidup, universitas-universitas, dan perusahaan-perusahaan swasta untuk bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan mulai dari pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat sampai dengan pengelolaan sampah terpadu.

Oleh karena itu, penerapan konsep “Kota Hijau” tidak bisa sepenuhnya bergantung pada peningkatan kuantitas luasan RTH tapi harus didukung oleh perubahan menuju perilaku dan kebiasaan masyarakat yang mencerminkan keramahan terhadap lingkungan. Mulai dari inisiatif sederhana seperti penanggulangan sampah, hingga program sosialisasi, edukasi dan diskusi yang meningkatkan wawasan serta kesadaran untuk menjaga lingkungan. Komunitas masyarakat, dari strata terkecil yaitu keluarga, RT, RW dan desa juga harus dilibatkan. Semua unsur masyarakat ini harus bergerak menerapkan gaya hidup hijau dan ramah lingkungan.

Kembali ke isu awal mengenai perubahan iklim dan bencana-bencana alam yang muncul sebagai bentuk reaksi dari lingkungan alami, saat ini sedang berkembang pula gagasan mengenai suatu konsep pengembangan kota yang baru, yaitu Resilient City (Kota Tangguh).  Konsep “Kota Tangguh” ini pada dasarnya berarti bahwa suatu kota akan siap menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi dengan meminimalisir perubahan dan dampak yang akan ditimbulkan. Untuk menerapkan konsep ini diperlukan strategi-strategi yaitu yang pertama perubahan pola pengelolaan listrik, air, dan sampah dari yang pada umumnya sekarang adalah secara terpusat dalam skala yang besar, menjadi dengan sistem pembagian dalam lingkungan-lingkungan yang berskala kecil.

Strategi yang kedua yaitu penerapan sistem pengelolaan sampah yang terpadu sehingga dapat menghasilkan produk daur ulang yang baik dan bahkan energi alternatif. Ini erat juga kaitannya dengan strategi yang ketiga yaitu pengenalan dan penggunaan energi yang dapat diperbarui seperti energi surya, angin, panas bumi, dan sebagainya sebagai pengganti energi yang berbahan dasar fosil.

Kemudian strategi yang keempat adalah peningkatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau dan ekosistem lainnya sebagai sarana untuk mengurangi gas karbondioksida yang ada di udara. Ruang terbuka hijau ini juga sebaiknya memiliki manfaat lain, misalnya untuk urban farming (kebun kota) sebagai bagian dari strategi yang kelima yaitu menciptakan pasar-pasar tradisional yang dekat dengan tempat tinggal kita sehingga mengurangi energi yang terbuang akibat dari bertransportasi.

Berkaitan pula dengan strategi selanjutnya yang berupa penataan kota yang compact and walkable, dalam artian segala fasilitas mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi energi yang digunakan ketika naik kendaraan bermotor sekaligus juga mengurangi emisi gas karbondioksida yang dihasilkan. Dan yang terakhir adalah penerapan sistem transportasi umum yang baik, tidak berpihak lagi kepada produsen kendaraan bermotor, akan tetapi pada hakikat masyarakat kota sebagai manusia yang “tunduk” pada lingkungan alami.

Sebagai pelengkap, namun tidak kalah penting, adalah mulai dikenalkan konsep manajemen resiko akibat bencana yang merupakan karakter dari konsep “Kota Tangguh”. Konsep ini dapat diterapkan melalui beberapa pendekatan. Yaitu: pertama, pembentukan komunitas yang mandiri dan solid. Kedua, pengelolaan komunitas tersebut dengan prinsip dari masyarakat, untuk masyarakat, dan oleh masyarakat sehingga benar-benar memahami situasi dan kondisi langsung di lapangan pada saat terjadinya bencana alam.

Ketiga, penerapan teknologi dan pengetahuan yang tepat guna dan sasaran untuk mengantisipasi kejadian bencana alam dimana teknologi ini tidaklah harus yang canggih dan mahal, akan tetapi bisa jadi merupakan teknologi yang bersumber dari pengetahuan dan kebiasaan masyarakat setempat. Langkah-langkah pendekatan seperti inilah yang menjadi kunci suksesnya penerapan konsep “Kota Tangguh”.

Namun, sekali lagi, apa pun konsep pengembangan suatu kota, apabila tidak benar-benar dipahami sebagai suatu entitas yang menyeluruh dan mendasar dengan melihat the bigger picture yaitu kota sebagai bagian dari lingkungan alami, bukan alat ataupun mesin pencetak uang manusia. Maka, dapat dipastikan bahwa alam akan mengambil alih proses daur ulang kehidupan. Seleksi alam akan berulang kembali berupa bencana-bencana alam yang silih berganti. Manusia, jika tetap sombong, hanya akan menyesal di kemudian hari.***

*Arsitek, Staf Pengajar Universitas Bandar Lampung (UBL). Sedang menyelesaikan studi di Department of Architecture Graduate School of Environmental Engineering The University of Kitakyushu, Japan

  • Bagikan