Beranda Teras Berita KPK Tetapkan Menteri ESDM Jero Wacik Sebagai Tersangka

KPK Tetapkan Menteri ESDM Jero Wacik Sebagai Tersangka

170
BERBAGI
Menteri  ESDM Jero Wacik. (dok)

Bambang Satriaji/Teraslampung.com

JAKARTA– KPK kembali menetapkan salah satu menteri Kabinet Indonesia Bersatu II menjadi tersangka korupsi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik ditetapkan jadi tersangka, Rabu (3/9) dengan tuduhan melakukan tindak pidana korupsi dalam bentuk pemerasan terkait dengan jabatannya sebagai menteri dalam kurun waktu 2011-2012. Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) untuk status tersangka Jero sudah ditetapkan KPK sejak Selasa (2/9).

KPK akan menjerat politikus Partai Demokrat itu dengan r Pasal 12 e atau Pasal 23 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 421 KUHP.

“Pasal yang dijadikan dasar adalah Pasal 12 huruf e juncto Pasal 23 juncto Pasal 421 KUHP berkaitan dengan 23 penyalahgunaan kewenangan 421 itu pemerasan,” kata Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dalam jumpa pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (3/9/).

Bambang menuturkan, saat menjabat Menteri ESDM, pada kurun waktu 2011-2012 Jero Wacik diduga mengupayakan untuk mendapatkan dana operasional menteri yang lebih besar dari yang dianggarkan. Untuk memuluskan rencananya, kata Bambang, Jero diduga meminta anak buahnya untuk melakukan beberapa hal agar dana operasional menteri di Kementerian ESDM bisa lebih besar.

“Contohnya adalah peningkatan atau pendapatan yang bersumber pada kick back, satu pengadaan, misalnya pengumpulan rekanan dana-dana program tertentu. Contoh lainnya ialah dengan menggelar rapat-rapat yang sebagian besar merupakan rapat fiktif. Itu dana-dana yang menurut penyelidikan penyalahgunaan wewenang,” kata Bambang.

Menurut Bambang, setelah menetapkan Jero sebagai tersangka, KPK segera mencegah yang bersangkutan bepergian ke luar negeri.

Saat kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, KPK pernah meminta keterangan Jero dan istrinya, Triesnawati Jero Wacik. Seusai dimintai keterangan KPK beberapa waktu lalu, Jero mengaku diajukan pertanyaan seputar dana operasional menteri (DOM).

Jero mengatakan bahwa DOM tersebut anggarannya sudah ditetapkan dalam APBN melalui surat keputusan Menteri Keuangan.Namun, Jero tidak mau menyebutkan berapa jumlah DOM yang diterima di tiap-tiap kementerian.

Selain itu, Jero mengaku diajukan pertanyaan seputar dugaan penyimpangan dana di Kementerian ESDM dari tahun 2010 hingga 2013. Namun, dia mengaku baru menjabat menteri ESDM pada Oktober 2011 sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam Kementerian ESDM pada medio 2010 hingga Oktober 2011.

Sebelumnya, dua pejabat Kementerian ESDM, yakni Rudi Rubiandini (bekas Kepala SKK Migas) dan Waryono Karyo (bejas Sekjen Kementerian ESDM) juga ditetapkan sebgai tersangka oleh KPK. Mereka diduga terlibat suap Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Ketika Waryono ditetapkan sebagai tersangka pada 17 Januari 2014 lalu, sempat santer diiusukan bahwa Jero Wacik juga akan ditetapkan sebagai tersangka.

Nama Jero banyak diperbincangkan publik dalam kasus ini setelah Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat itu dinilai tidak konsisten (plin-plan) saay  menjawab asal usul uang USD 200 ribu yang ditemukan di ruang Waryono.

Seperti diketahui, tak lama setelah KPK menyita uang itu di kantor Kementerian ESDM, Jero menyebut fulus tersebut untuk uang operasional. Namun, hal ini dipertanyakan oleh Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. “Uang operasional itu harus pake dolar (Amerika) ya? Operasional untuk apaan ya?” tanya Bambang Agustus tahun lalu.

Barulah setelah dipertanyakan, Jero meralat pernyataannya. Jero akhirnya mengatakan tidak mengetahui perihal uang itu. Saat dimintai konfirmasi soal penetapan tersangka Waryono, Jero juga kembali menegaskan hal itu.

“Jadi saya tidak tahu itu apa yang ada di sana. Uang yang di Pak sekjen, saya enggak tahu. Jadi sekarang karena sudah masuk ranah hukum, kita serahkan pada KPK. Kita harus percaya pada KPK,” ujar Jero usai sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, pertengahan Januari 2014 lalu.

Baca Juga: Tangis Jero Bukanlah Isu

Loading...