Pilkada, KPU Bandarlampung Gelar Simulasi Pencoblosan bagi Para Penyandang Disabilitas

Bagikan/Suka/Tweet:
Simulasi pencoblosan pilkada langsung yang digelar KPU Bandarlampung, Rabu (18/11).

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com –  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bandarlampung, menggelar sosialisasi dan simulasi tentang tata cara pencoblosan surat suara pemilihan Walikota dan Wakil Walikota tahun 2015, kepada kelompok kaum difabel (penyandang cacat) di Aula Bapelkes, Bandarlampung, Rabu (18/11).

Ketua KPU Bandarlampung Fauzi Heri, mengatakan, kegiatan sosialisasi ini sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab penyelenggara dalam memberikan hak untuk para penyandang disabilitas.

“Para difabel kami ajak untuk melakukan simulasi  proses tata cara pencoblosan dalam menyongsong pelaksanaan pemilihan umum. Mereka yang ikut simulasi ini mewakili para penyandang disabilitas adalah dari Panitia Pemilihan Umum  Akses Penyandang Cacat (PPU Apenca) Kota Tapis Berseri. 100 peserta yang ikut simulasi ini nantinya akan melakukan sosialisasi lagi kepada teman-temannya,” kata Fauzi.

Fauzi mengatakan  kedatangan PPUA Penca ini sangat ditunggu, mengingat Undang -undang yang menjamin hak kesamaan antar warga negara agar memiliki kesetaraan hak yang sama.

“Setiap penyandang cacat datang ke TPS boleh didampingi, dengan syarat mengisi form C3 nanti diberitahukan kepada pemilih. Ini semua karena keterbatasan KPU untuk mengakses kaum difabel. Dan ini pertama kalinya di Bandar Lampung,” ujarnya.

Sementara itu Sukron Rodisno selaku Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Lampung sekaligus Ketua Panitia Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat Bandarlampung mengapresiasi KPU Bandarlampung yang sudah terbuka dan mau mensosialisasikan proses dan tata cara pencoblosan kepada para penyandang cacat.

“Alhamdulillah KPU cukup konsen melakukan sosialisasi kepada rekan rekan penyandang cacat sejak tiga bulan lalu, bahkan jauh sebelumnya kami juga sudah koordinasi dengan KPU,” kata Sukron.

Menurutnya melalui PPUA Penca ini pihaknya memang mendorong agar demokrasi melalui pilwakot ini bisa berjalan baik dengan memfasilitasi para penyandang cacat untuk menyalurkan hak politiknya.

“Mereka kan juga bagian dari masyarakat yang memiliki hak politik. Dan mereka juga ingin berkontribusi terhadap prosesndemokrasi ini,”ujarnya.

Diungkapkannya sebagai penyandang cacat pihaknya meminta kepada pihak KPU agar diberikan kemudahan dalam memberikan suaranya. 

“Penyandang Disabilitas ini kan macam-macam kalau tunanetra tentu harus mengetahui siapa sih yang ada di kertas suara. Maka kami dari PPUA sudah merekomendasikan ke KPU untuk membuat media bantu untuk mencoblos dinamakan tamplate yang lengkap dengan huru braile nya. Tujuannya agar teman teman lebih mandiri dalam menentukan pilihannya,” beber dia.

Sedangkan untuk penyandang cacat tubuh ujarnya lebih kepada desain tempat pencoblosan atau TPS dan kotak suara bisa dijangkau dengan keterbatasan fisik mereka.

“Kemudian kepada teman teman tunarungu agar diberikan informasi yang jelas tentang apa kewajiban mereka dalam menyalurkan hak pikih serta peraturan-peraturan didalamnya,”tutup dia.

Sebelumnya dalam sesi tanya jawab, para peserta dari penyandang tunanetra sempat melomparkan beberapa pertanyaan yang cukup antusias.

Hadiburrahman salah satunya meminta adanya pendamping saat pemilihan nanti.

“Saya tidak ingin suara saya akhirnya dialihkan ke calon yang lain karena kurang tepatnya dalam pemilihan,” kata dia.

Selain meminta pendamping, dirinya juga meminta agar saat pencoblosan dilengkapi alat khusus dilengkapi huruf braile untuk mengetahui pasangan calon yang akan dipilih. 


Dewira