Krisis Obat RSU Ryacudu, Suntikan Dana Rp14, 4 Miliar Ternyata Bukan untuk Bayar Utang Obat

  • Bagikan
RSUD Ryacudu Lampung Utara
RSUD Ryacudu Lampung Utara

‎Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi–Meskipun mendapatkan suntikan dana dari Pemkab Lampung Utara Rp3,4 miliar dana akan ditambah lagi Rp 11 miliar di APBD 2022, ternyata kucuran dana sebanyak itu bukanlah untuk membayar utang obat – obatan Rumah Sakit Umum H.M.Ryacudu. Dana itu untuk mengatasi krisis obat – obatan dan sejenisnya di rumah sakit pelat merah itu.

“Bantuan sebesar Rp3,4 miliar‎ dari pemkab dalam Perubahan APBD tahun 2021 ini untuk membeli obat – obatan dan belanja medis habis pakai, dan bukannya untuk membayar utang obat. Begitu juga dengan bantuan pemkab sebesar Rp11 miliar ‎tahun 2022 mendatang,” jelas Direktur RSU H.M.Ryacudu, Cholif Paku Alamsyah, ‎Selasa (23/11/2021).

Menurut Cholif, sebagian bantuan itu akan digunakan untuk membeli obat – obatan. Sebagian lainnya untuk membayar insentif dokter spesialis dan tenaga medis lainnya, serta rehab beberapa gedung RSUR.

‎Sementara mengenai utang RSUR dengan pihak penyedia, Cholif menjelaskan, utang itu tetap menjadi tanggung jawab mereka. Tidak elok rasanya jika utang tersebut juga mereka bebankan pada pemkab.

“Untuk tunggakan jasa pelayanan yang terjadi di manajemen sebelumnya, kami sedang mengupayakan solusi terbaiknya,” kata dia.

Untuk mengatasi krisis obat – obatan dan lainnya di RSUR, Pemkab dan DPRD Lampung Utara menyuntik anggaran sebesar Rp14,4 miliar. Bantuan itu dialokasikan dalam Perubahan APBD tahun 2021 dan APBD tahun 2022.

Adapun rinciannya, Rp3,4 miliar dianggarkan dalam Perubahan APBD 2021. Rp11 miliar dial‎okasikan pada APBD tahun 2022. Bantuan yang diberikan dalam Perubahan APBD dipergunakan untuk membeli obat sebesar Rp2,8 miliar, dan sisanya untuk belanja medis habis pakai.

Untuk bantuan sebesar Rp11 miliar tahun 2022 akan dipergunakan untuk membeli obat, insentif dokter spesialis. Sisanya akan digunakan untuk merehabilitasi beberapa gedung di RSUR.

‎Krisis obat – obatan dan sejenisnya di RSUR terjadi pada bulan Mei 2021 lalu. Penyebab krisis ini dikarenakan RSUR memiliki tunggakan obat – obatan dan sejenisnya sekitar Rp11 Miliar pada pihak penyedia.‎ Pihak penyedia enggan menyalurkan obat – obatan dan sejenisnya karena pihak RSU belum melunasi atau membayarkan separuh dari tunggakan tersebut.

  • Bagikan