Beranda Views Kopi Pagi Kritik

Kritik

1309
BERBAGI

Sunu Wasono

Maksud hati ingin pamer, ternyata malah mendapat kritik. Siapa lagi pengkritiknya kalau bukan Lik Mukidi. Terlalu panjang kalau harus awak ceritakan bagaimana kisahnya sampai Lik Mukidi tega mengkritik habis awak yang malang dan hina dina ini. Karena itu, awak sampaikan yang penting-penting saja. Begini ceritanya.

Tak seperti biasanya, hari ini awak tak melakukan senam buang lemak. Habis subuh awak langsung didaulat bini untuk membereskan tanaman.

“Hari ini ada lomba. Lingkungan kita akan dinilai. Karena itu, tanaman depan rumah harus ditata ulang. Got-got dibersihkan. Saya semalam mendapat instruksi dari pengurus RT agar sebagian tanaman di pot kita dibagi. Sebagian harus ditaruh di depan rumah tetangga kita agar di sana juga ada tanaman,” begitu antara lain yang dikatakan bini awak. Sebetulnya masih buanyak lagi yang dia katakan, tapi tak perlu disampaikan di sini.

Atas dasar “titah” itulah awak sejak pagi sudah harus menggeser, mengangkat, dan memindahkan pot-pot dengan tanamannya dari satu tempat ke tempat lain.

Bukan hanya itu, awak juga harus mengangkat tutup got, lalu mengeruk dan mengangkat lumpur yang ada di got. Saking banyaknya yg mesti dibereskan, jam 12 siang pekerjaan belum selesai. Usai makan siang dengan menu amat sederhana, tanpa tongseng (maklum tanggal tua), kegiatan dilanjutkan. Kira-kira jam satu bersih-bersih dimulai lagi. Alhamdulilah sebelum ashar, sudah selesai.

Awak pun bisa istirahat. Seperti biasa, setelah kerja keras, awak duduk santai dan ngopi. Baru sekali seruput, datang tamu tak istimewa. Siapa lagi kalau bukan Lik Mukidi. Dalam hati, awak bilang: kini saatnya Lik Mukidi melihat hasil kerja awak. Supaya dia tambah bahagia, awak seduhkan kopi yang paling enak: kopi luwak Cisadon. Tak hanya itu, awak “perintahkan” (gantian dia yang harus kuperintah) bini awak untuk menyediakan rondo royal.*

Awak pun membuka percakapan.

“Lik, apa sampeyan tak melihat perubahan di rumah ini?”

“Apa ya? ” Dia melihat sekeliling, lalu melongok ke dalam. “Rasanya tak ada perubahan apa-apa. ”

“Coba amati lagi, Lik. Masa tak ada yang berubah.” Aku sedikit mendesak.

“Bagiku, tak ada. Kau tetap seperti kemarin. Masih begini begini saja. Tidak berubah jadi kaya. Bisa dilihat dari apa yang kau suguhkan kepadaku. Kalaupun ada perubahan, paling dua hal saja: kau tampak tua dan kian kusam.”

Kalau saja dia bukan paman awak, kata-kata dia sudah awak sambar dengan satu kata mutiara, “Bajirut.”

Tapi awak sabar dan menghormati dia. Awak tekan dan simpan kekesalan awak. Jawaban Lik Mukidi sungguh menyakitkan. Awak tanya tentang rumah, jawabnya tentang awak. Ingin rasanya awak lempar Lik Mukidi dengan rondo royal, tapi … sudahlah. Bagaimanapun, dia yang awak tuakan. Awak harus menghormatinya.

Sebelum Lik Mukidi menyakiti awak lebih jauh, awak langsung saja menceritakan kegiatan awak dari pagi hingga sore. Awak jelaskan tentang lomba lingkungan yang diadakan RW. Panjang lebar awak ceritakan bagaimana awak mengeruk got, mengangkat pot-pot tanaman, mengganti media tanaman, mencuci bak sampah, menyapu, mengepel, dan lain-lain.

“Semua awak kerjakan sendiri, Lik. Terkuras tenaga awak. Sekujur tubuh mandi keringat. Semua awak kerjakan agar mendapat nilai maksimal sehingga menang. Hasilnya bisa Lik Mukidi lihat. Tampak indah kan? Ini yang awak maksudkan perubahan itu, Lik. Andaikata Lik Mukidi jurinya, awak yakin bakal menang.”

“Aku juga yakin,” kata Lik Mukidi. Alhamdulilah, gumamku dalam hati.

“Tapi yakin gak menang,” lanjutnya.

Awak hampir saja bilang “bajirut” kalau saja Lik Mukidi tak cepat-cepat melanjutkan kata-katanya.

“Aku paling tak suka dengan orang yang berbuat sesuatu karena lomba.”

“Apa salahnya, Lik?”

“Mentalitas begini harus dikikis. Membersihkan lingkungan tak harus dikaitkan dengan lomba. Karena itu, seindah apa pun yang kauhasilkan hari ini, bagiku tak ada artinya kalau yang hidup di kepalamu itu hanya lomba dan lomba.”

Awak tak punya pilihan lain kecuali mendengarkan ceramah Lik Mukidi. Panjang lebar dia bicara tentang lingkungan. Awak tak tahu Lik Mukidi ini belajar dari mana dan siapa. Rasanya yang dia katakan logis. Tak hanya bicara soal lingkungan, dia juga bicara soal pendidikan, penelitian, dan dunia tulis-menulis. Bidang yang sedikit-banyak relevan dengan bidang yang awak tekuni selama ini.

Dia bilang bahwa awak ini tipe orang yang baru bergerak kalau terdesak. Jleb. Kena lagi awak. Dia juga bilang bahwa dalam pengembaraanya sering bertemu dengan banyak orang, di antaranya bertemu dengan penulis-lomba, bahkan lebih tepat disebut penulis-rencana.

Dikatakannya bahwa penulis-rencana itu cuma pandai bicara tapi tak pandai menulis. Mau menulis kalau ada lomba. Setelah dekat deadline baru mulai bekerja, tapi ujung-ujungnya tak jadi ikut lomba dengan berbagai macam alasan. Banyak rencana di kepalanya, tapi tak pernah terlaksana.

“Nah, untukmu, ” katanya, “kalau kau mau menulis, menulis saja. Tak usah banyak bicara. Kerjakan apa yang bisa kaukerjakan. Ada lomba atau tidak ada lomba, tetaplah menulis. Jangan menulis semata-mata karena lomba atau karena lain.”

“Karena lain itu apa contohnya, Lik?” selaku.

“Scopus, misalnya. Ada atau tak ada “jin” scopus, menulislah kalau kau memang menyandang predikat penulis,” tegas Lik Mukidi.

Meskipun “sakit”, awak tetap berusaha mendengar dan menyimak kata-kata Lik Mukidi. Konon Lik Mukidi juga pernah bertemu, bahkan berteman dekat, dengan dosen. Dia bilang dosen yang menjadi sahabatnya itu “hobinya” menunda-nunda pekerjaan. Kalau waktunya sudah dekat dengan deadline baru heboh. Laporan penelitian selalu dihadapi dengan panik dan stres. Manajernya sampai dibuatnya stres juga. Juga kalau mengoreksi tugas-tugas mahasiswanya: selalu meleset dari rencana.

Di sela-sela ceramahnya, Lik Mukidi mengunyah rondo royal yang disuguhkan bini awak. Mungkin saking cocoknya, dia minta agar awak bikinkan kopi. Kadang matanya dipejamkan saat menyesap kopi. Lalu dikeluarkannya bunyi “deh” seusai menyeruput kopi. Dan ceramah pun dilanjutkan. Dia bilang dirinya amat bangga dan salut dengan sejumlah guru yang dinilainya gigih dan kreatif.

“Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga menulis dan tulisannya bagus. Bahkan cukup banyak yang menempuh studi hingga doktor,” katanya.

Lik Mukidi menyebut sejumlah nama yang katanya berasal dari Bogor, Semarang, Ngawi, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya, termasuk sejumlah kota di Madura, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Aku salut sama mereka, ” imbuhnya.

Masih banyak lagi yg dia katakan, tapi tak sanggup awak sampaikan. Hampir semua yang disampaikannya berupa kritik pedas.

Awak mendengarkan dengan perasaan gelisah. Rasanya semua yg dia katakan tertuju ke awak. Buruk sekali awak ini di mata Lik Mukidi. Rupanya Lik Mukidi menyadari kegelisahan awak.

“Kau jangan gelisah begitu dong. Yang kukatakan tak tertuju kepada kau saja walaupun hampir seratus persen sesuai dengan yang kau alami. ”

“Bajirut! ” Kali ini awak sungguh memaki. “Cukup, Lik. Boleh Lik Mukidi mengkritik, tapi jangan begitu dong caranya. Bisa kan Lik Mukidi tak membelejeti.”**

Lik Mukidi meneguk kopi terakhir. Ada ampas kopi di bibirnya, tapi awak tak menyampaikan kode agar ampas itu diusapnya.

“Terima kasih atas kopinya. Tumben kopinya enak sekali. Oh ya, ada ungkapan bagus untukmu, ‘tambah tua tak berarti tambah dewasa.’ Sampai jumpa. Asalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Awak lepas kepergian Lik Mukidi dengan perasaan cinta, hormat, sekaligus dongkol.***

Catatan:

*rondo royal = nama kue atau pengamanan terbuat dari tape. Tape goreng berbalut tepung terigu
**membelejeti= ‘menelanjangi’, ‘menguliti’ mengkritik dengan “kejam”.

*Dr. Sunu Wasono adalah staf pengajar di Program Studi Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Indonesia (FIB) Universitas Indonesia

Loading...