Beranda Ekbis Bisnis Kriuk dan Gurihnya Keripik Bonggol Pisang Produksi Warga Lampung Selatan

Kriuk dan Gurihnya Keripik Bonggol Pisang Produksi Warga Lampung Selatan

399
BERBAGI
Kemasan keripik bonggol pisang hasil olahan Sukamto, warga Dusun Pujirahayu RT 02 Desa Pujirahayu, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan siap dipasarkan.
Kemasan keripik bonggol pisang hasil olahan Sukamto, warga Dusun Pujirahayu RT 02 Desa Pujirahayu, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan siap dipasarkan.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Pisang (Musa Paradisiacaini) merupakan jenis tanaman buah tropis beriklim basah yang sangat popular di Indonesia. Buah pisang sering diolah menjadi keripik pisang dan selai pisang. Sedangkan jantung pisang kerap diolah menjadi sayur, lalapan, dendeng, dan abon.

Bagian lain pohon pisang seperti daun digunakan untuk pembungkus makana. Kulit pisang diolah menjadi keripik kulit pisang, serat dari batang sebagai barang kerajinan seperti tas, dompet maupun kerajinan lainnya.

Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi serta kreatifitas masyarakat, limbah tanaman pisang (bonggol pisang) yang biasanya dibiarkan membusuk begitu saja karena tidak memiliki nilai jual kini mampu diolah menjadi produk makanan bernilai ekonomi.

Seperti yang dilakukan Sukamto dan istrinya, Karyani, warga Dusun Pujirahayu RT 02 Desa Pujirahayu, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, bonggol pisang tak lagi sebagai limbah melainkan diolah menjadi makanan ringan (cemilan) keripik tidak hanya renyah, gurih dan enak untuk dikonsumsi.

Bonggol adalah bagian batang pisang yang ada dibawah tanah hingga ke akar. Siapapun pastinya tidak menyangka, bonggol pisang yang selama ini selalu dibuang dan hanya dianggap sebagai limbah, ternyata dapat diolah menjadi penganan keripik atau kerupuk yang enak untuk dikonsumsi serta bernilai jual.

Bonggol pisang mengandung serat tinggi serta dapat memperlancar pencernaan. Berdasarkan penelitian, keripik bonggol pisang mengandung karbohidrat sebesar 10 % dan kandungan seratnya mencapai 40 persen.

Sukamto tengah mengambil bonggol pisang jenis kepok di pekarangan rumahnya di Dusun Pujirahayu RT 02 Desa Pujirahayu, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan dengan cara digali menggunakan alat berupa linggis besar (dodos).
Sukamto tengah mengambil bonggol pisang jenis kepok di pekarangan rumahnya di Dusun Pujirahayu RT 02 Desa Pujirahayu, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan dengan cara digali menggunakan alat berupa linggis besar (dodos).

Sebenarnya keripik yang terbuat dari bonggol pisang ini, sudah cukup lama dikembangkan oleh berbagai industri rumahan di Pulau Jawa seperti di daerah Bantul, Yogyakarta. Cemilan keripik bonggol pisang banyak dijual dalam bentuk kemasan karena rasanya gurih sehingga disukai banyak konsumen.

Saat teraslampung.com berkunjung ke kediaman Sukamto di Desa Pujirahayu, pria 47 tahun ini tengah mengambil bonggol pisang jenis kepok di pekarangan rumahnya dengan cara digali menggunakan alat berupa linggis besar (dodos). Setelah digali, bonggol pisang dibersihkan dari kulitnya.

“Bonggol pisang ini, yang mau diolah jadi makanan ringan (cemilan) keripik. Mulai memproduksi keripik bogol pisang pada tahun 2017 lalu,”kata dia mengawali obrolannya kepada teraslampung.com, Kamis (13/2/2020).

Kamto sapaan akrabnya menuturkan, bonggol yang digunakan adalah bagian yang ada di bawah tanah hingga ke akar, bagian itulah yang dibersihkan hingga diperoleh bagian dalam bonggol yang berwarna putih. Untuk proses pengolahannya, bonggol pisang dipotong menjadi beberapa bagian ukuran kecil terlebih dulu lalu di rendam dalam wadah bak berisi air bersih untuk mengeluarkan getah.

Proses perendamannya itu sendiri, kata Kamto, selama satu hari. Setelah itu, ditiriskan dan diiris tipis-tipis dan dimasukkan ke dalam adonan tepung yang sudah diberi racikan bumbu baru kemudian di goreng dan dikemas.

Sukamto membersihkan kulit bonggol pisang kepok hingga diperoleh bagian dalam bonggol berwarna putih yang akan diolah menjadi makanan ringan (cemilan) keripik.
Sukamto membersihkan kulit bonggol pisang kepok hingga diperoleh bagian dalam bonggol berwarna putih yang akan diolah menjadi makanan ringan (cemilan) keripik.

‘“Bonggol pisang yang yang dibuat keripik, yakni batang pisangnya yang sudah tua (sudah berbuah) lalu diambil bonggolnya yang paling bawah dengan cara digali dengan alat Linggis (Dodos),”ucapnya.

Menurutnya, tidak semua bonggol pisang enak dibuat makanan ringan (cemilan) keripik. Hanya jenis pisang kepok, pisang raja dan pisang klutuk saja yang bisa digunakan. Penganan dari bonggol pisang ini, mengandung serat sehingga bisa memperlancar pencernaan.

“Jadi tidak semua bonggol pisang bisa diolah keripik atau layak dikonsumsi, kalau keripik bonggol pisang yang saya olah ini sendiri jenisnya pisang kepok,”ujarnya.

Kamto menceritakan, ia bersama istrinya memulai usaha membuat olahan keripik bonggol pisang pada tahun 2017 lalu atau sekitar dua tahun belakangan ini. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh serabutan. Meski tidak memiliki bekal apapun didunia usaha, namun tekadnya menekuni usaha membuat keripik bonggol pisang terus dilakukannya.

“Memulai usaha, yang dibutuhkan adalah modal niat dan tekad yang kuat serta kesabaran. Alhamdulilah cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,”ungkapnya.

Dikatakannya, membuat olahan bonggol pisang menjadi cemilan yang renyah dan enak dikonsumsi tidaklah mudah. Diakuinya, butuh waktu agak lama untuk menemukan racikan yang pas karena rasa sepah bonggol pisang inikan sedikit sulit dihilangkan.

“Awalnya-awalnya beberapa kali saya coba gagal. Tapi saya terus berusaha, mencari racikan bumbu yang tepat mengolah bonggol pisang ini menjadi cemilian keripik yang enak dikonsumsi,”terangnya.

Setelah direndam, Bonggol pisang kepok diiris tipis-tipis
Setelah direndam, Bonggol pisang kepok diiris tipis-tipis

Setelah menemukan racikan yang pas, lanjut Kamto, barulah ia bersama istrinya memulai produksi mengolah bonggol pisang menjadi makanan ringan yang enak, gurih dan renyah hingga berlangsung dua tahun sekarang ini. Makanan ringan hasil olahannya tersebut, diberi lebel “Keripik Bonggol Pisang Desa Pujirahayu”.

Keripik bonggol pisang hasil olahannya, ditawarkan dalam bentuk keripik siap konsumsi dan bentuknya menyerupai kerupuk dengan warna sedikit kecoklatan. Untuk satu kemasan (seplastik) keripik bonggol pisang, dibandrol Rp 10.000 – Rp 15.000. Keripik bonggol pisang tersebut, tidak hanya dimintai warga di desa tempat tinggalnya saja, tapi di desa lainnya di Kecamatan Merbau Mataram dan daerah lainnya di Lampung Selatan.

“Awalnya konsumen juga heran, bangaimana bisa bonggol pisang yang dipenuhi getah dan rasanya sepah ini kok bisa diolah jadi cemilan keripik yang enak dan bernilai jual,”pungkasnya.

Karena citarsa yang berbeda dengan keripik lain pada umumnya, keripik bonggol pisang hasil olahan Sukamto dan istrinya memiliki citarasa yang unik dan rasanya gurih seperti keripik tempe. Sehingga banyak digemari masyarakat dan banyak ditemui di sejumlah warung atau toko di Kecamatan Merbau Mataram.

Kini keripik bonggol pisang tersebut, menjadi salah satu ikon cemilan khas warga Desa Pujirahayu dan desa lainnya di Kecamatan Merbau Mataram. Bahkan setiap ada kegiatan ataupun acara lainnya, warga tidak pernah lupa membeli cemilan keripik bonggol pisang.

Keripik bonggol pisang bisa menjadi peluang bisnis yang cukup tinggi jika diolah dan dipasarkan secara tepat. Potensi peluang pasarnya pun terbuka lebar, ketersediaan jumlah bahan baku melimpah yang ada di masyarakat akan menjadi nilai tambah tentunya.

Bahkan produk olahan keripik bonggol pisang, masih sangat jarang ditemui atau dipasarkan di Lampung Selatan bahkan dibeberapa kabupaten lainnya di Provinsi Lampung. Apalagi bahan baku bonggol pisang tersedia dalam jumlah banyak, mengingat populasi tanaman pisang yang cukup berlimbah dan selama ini tidak banyak dimanfaatkan.

Selain itu juga penyediaan bonggol pisang sebagai bahan dasar keripik, mempunyai prospek yang cukup baik untuk meningkatkan pendapatan keluarga tani. Oleh karena itu, hendaknya dimanfaatkan oleh para produsen-produsen kecil dan petani tanam pisang guna menambah pendapatan dan menjadikan keripik ini menjadi kuliner khas Kecamatan Merbau Mataram.

Loading...