Beranda Teras Berita Kronologi Pelarangan Peliputan di PPLN Swiss

Kronologi Pelarangan Peliputan di PPLN Swiss

232
BERBAGI
Menjelang penghitungan suara (Dok PPLN Swiss)

Tanggal 30  Maret 2014 saya wawancara ketua PPLN Swiss, Sdr Bambang Susetyo, tentang persiapan pemilu, sekaligus menyatakan akan mengadakan liputan saat coblosan langsung 5 April 2014.

Tanggal 31 Maret saya ditelpon Sdr Bambang Susetyo, menanyakan bagaimana rencana peliputan saya nanti. Apakah sebagai wartawan, pemantau, atau yang lain. Saya jawab, liputan saja, sebagai wartawan. “Kalau begitu kirimkan kartu identitas wartawan,” katanya.

Hari itu juga, tak sampai sejam saya kirimkan tiga kartu identitas saya sebagai wartawan via email, yakni kartu Koran Sindo, Kartu Co Media, kartu anggota serikat pekerja press Swiss, dan kartu IFJ, kartu wartawan internasional. Khusus yang terakhir ini, sudah kadaluarsa tahun 2010, tapi datanya masih valid, termasuk alamatnya, yang di Swiss sebenarnya  sangat dijaga kerahasiaannya.  Sedangkan kartu Seputar Indonesia dan Co Media, masih berlaku sampai sekarang.

Sampai hari H, yakni 5 April 2014,  tidak ada respon sama sekali dari panitia. Tidak ada penolakan, tidak ada larangan, tak ada apapun. Saya pun merasa apa yang saya kirim itu  cukup untuk syarat liputan. Lagi pula, selama ini, KBRI Bern sudah  sering mengundang saya untuk acara lain. Meskipun PPLN badan terpisah dari KBRI Bern, mayoritas anggota PPLN sudah saya kenal lama. Selama tak ada respon apapun dari PPLN, saya anggap tidak ada masaalah dengan peliputan itu.

Ketika saya datang ke TPS yang juga bertempat di KBRI Bern, saya disambut dengan baik, disalami, bahkan dibantu oleh  orang orang yang bekerja di KBRI Bern, karena kami sudah lama saling mengenal. Tapi ketika minta izin masuk ke TPS untuk memfoto pencoblosan, saya dilarang oleh Lina Schmidlin, salah satu panitia. Saya tanyakan alasannya, katanya dilarang KPU. Saya tanyakan ke ketua PPLN, disuruh menanyakan ke Lina Schmidlin. Hasilnya sama, saya dilarang mengambil gambar di TPS PPLN Bern. Saya tak tahu apa yang terjadi di dalam TPS, bagaimana situasi pencoblosan dan lain lain. Saya minta kepada Bambang Susetyo untuk bisa mendapatkan foto dari panitia.

Bambang Susetyo kemudian memanggil Arpan Ramadhani, yang saya lihat bertugas menjadi fotografer PPLN saat itu. Arpan menyanggupinya, dan saya kemudian meninggalkan TPS Bern karena memang dilarang meliput acara ini.
Sampai sore tagl 5 April, tidak ada foto yang dijanjikan. Saya pun mengirim artikel pemilihan umum   di Swiss tanpa foto panitia. Artikel ini saya tulis setelah wawancara dengan Bambang Susetyo sore harinya, melalui telepon, karena tak bisa liputan langsung ke TPS.

Krisna Diantha
Bern, Swiss

Loading...