KSEI Gelar Seminar Peluang dan Tantangan “Depositary Receipt” di Indonesia

  • Bagikan
Ludfiati (Kepala Divisi Hukum KSEI) selaku moderator, Iqbal Darmawan (Partner dari Konsultan Hukum Hadiputranto, Hadinoto & Partners), David Rich (Vice President of Depositary Receipt ServicesCitibank N.A Asia Pasifik), dan Daniel Wijono (Director Securities and Fund Services Head Citi Transaction Services, Citibank N.A)
JAKARTA,
Teraslampung.com —
 PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
mengadakan kegiatan seminar yang ditujukan kepada Pemakai Jasa KSEI, di Ballroom Hotel
Mulia, Senayan – Jakarta, Selasa
(2/12). Seminar dihadiri perwakilan dari perusahaan efek, bank kustodian, biro administrasi efek, dan bank pembayaran.
Pada seminar kali ini, dibahas tentang Sertifikat
Penitipan Efek Indonesia (SPEI) atau lebih dikenal sebagai Depositary Receipt, dengan
menghadirkan narasumber yang pakar dibidangnya. Pada dasarnya, SPEI adalah
saham perusahaan asing yang sudah tercatat di bursa mancanegara, yang juga
dapat dicatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Dalam pelaksanaannya,
terdapat dua jenis Depositary Receipt.
Yang pertama, sponsored program, yaitu
penerbitan SPEI yang diketahui dan dicatatkan di BEI oleh perusahaan asing yang
akan mengikuti peraturan dan ketentuan yang ada di BEI. Kemudian, unsponsored
program
 yaitu penerbitan Depositary Receipt yang
tidak dicatatkan di BEI. Hal penting yang harus diperhatikan bahwa SPEI di
Indonesia dititipkan dan diterbitkan oleh Bank Kustodian di Indonesia yang
merupakan perwaklian dari perusahaan asing di luar negeri.
Seminar sesi pertama, diawali dengan penjelasan David
Rich, Vice President of Depositary Receipt Services Citibank N.A Asia
Pasifik, yang membahas instrumen Depositary Receipt secara
keseluruhan, serta perkembangannya di kawasan Asia. 
Menurut David, Depositary Receipt di kawasan Asia
Pasifik telah diimplementasikan sejak tahun 60-an, namun lebih banyak berkembang di kawasan Asia Timur,
seperti Jepang, Hong Kong dan Taiwan.
“Bahkan, saat
ini Jepang merupakan salah satu negara dengan volume perdagangan instrumen Depository Receipt terbesar
di dunia dengan total volume sebesar 25 persen,” kata dia/
Disampaikan juga manfaat-manfaat dengan diterbitkannya Depositary
Receipt
 baik bagi Perusahaan Penerbit maupun investornya. Di
penghujung pemaparannya, menurut Rich, pasar modal di Indonesia memiliki peluang dan potensi
yang cukup baik untuk perkembangan instrumen Depositary Receipt di
dalam negeri.
Sesi kedua seminar, dibawakan lqbal Darmawan, Partner
dari Konsultan Hukum Hadiputranto, Hadinoto & Partners, yang membahas
instrumen SPEI dari sisi ketentuan dan peraturan yang berlaku di Indonesia.
Menurut Iqbal, untuk implementasi SPEI  ini memerlukan beberapa
penyesuaian dari segi peraturan pasar modal , mekanisme yang ada dan penerapan
di Bursa Efek dalam negeri dengan Bursa luar negeri dimana saham perusahaan
asal tersebut listing.
Dari sisi peraturan yang mengatur tentang SPEI, saat ini
yang paling relevan adalah Peraturan OJK No. IX. A.10 yang memuat definisi dan
tata cara penawaran umum di Indonesia. Namun, berdasarkan penjelasan Iqbal,
peraturan perlu disesuaikan karena ada hal-hal detail untuk implementasinya
yang belum ada,  sehingga diperlukan peraturan lain yang dapat mengatur
SPEI di Indonesia secara lebih menyeluruh.
Direktur Utama
KSEI, Heri Sunaryadi,
mengatakan pembangunan infrastruktur pasar modal yang telah
diimplementasiklan selama ini tidak terlepas dari peran dan kerja sama Pemakai Jasa
KSEI.
“Kami harapkan
juga kerja sama yang baik akan terjalin untuk pembangunan infrastruktur karena
hal ini penting untuk pengembangan pasar modal ke depannya,”
katanya.
Menurut Heri,
seminar bertujuan  memberikan  informasi terkini seputar
perkembangan dan produk  pasar modal di Indonesia atau luar negeri yang
bermanfaat bagi Pemakai Jasa KSEI. Dalam acara tersebut, turut hadir perwakilan
dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kliring
Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
Acara yang dihadiri oleh sekitar 320 orang peserta ditutup dengan acara
makan siang dan ramah tamah. Kegiatan seminar kali ini diharapkan dapat memberikan
masukan, pengetahuan dan pandangan yang bermanfaat bagi peserta yang hadir,
khususnya dalam penerapan SPEI di Indonesia.

  • Bagikan
You cannot copy content of this page