Beranda Teras Berita KTT ASEAN: Presiden SBY akan Mediasi Vietnam-China atasi Masalah Laut China Selatan

KTT ASEAN: Presiden SBY akan Mediasi Vietnam-China atasi Masalah Laut China Selatan

219
BERBAGI

Bambang Satriaji/Teraslampung.com

Baliho ucapan selamat datang di Kota Nay Pyi Daw, Vietnam

JAKARTA – Indonesia akan memanfaatkan momen Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-24 ASEAN di Nay Pyi Daw, Myanmar, untuk mengusulkan penyelesaian masalah Vietnam-China.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menawarkan bantuan kepada Vietnam untuk menjembatani komunikasi dengan pihak Cina terkait perkembangan terakhir di Laut Cina Selatan.

Selain soal ketegangan Vietnam-China, menurut Marty, Indonesia juga akan menyampaikan visi Indonesia atas 10 tahun terakhir pencapaian masyarakat ASEAN. 

Marty mengatakan KTT ke-24 ASEAN di kota Nay Pyi Daw, Myanmar, sangat penting bagi Indonesia, terutama karena KTT ini menjadi yang terakhir bagi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden SBY didampingi Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II mulai Sabtu kemarin  (10/5) melakukan kunjungan kerja ke Myanmar guna menghadiri KTT ke-24 ASEAN dan KTT Brunei – Indonesia – Malaysia – Philippines East Asian Growth Area (BIMP-EAGA).

Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah mengatakan, Presiden SBYa akan memanfaatkan kehadirannya untuk mengajak negara-negara anggota ASEAN agar semakin mempersiapkan diri dalam memasuki Komunitas ASEAN 2015, di tengah berbagai perubahan dan tantangan internasional yang muncul ke permukaam.

Selain itu, Presiden SBY juga akan menyampaikan harapannya bagi keberlanjutan kohesivitas di dalam ASEAN di tengah berbagai tantangan yang mengemuka di masa kini dan masa datang.
Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, mengatakan, pihaknya menyiapkan Hotel Royal Ace yang berseberangan dengan venue KTT ASEAN sebagai tempat bermalam selama mengikuti KTT yang akan berlangsung hingga Selasa (12/5) lusa.

Pihak KBRI Myanmar sendiri sejak beberapa hari ini sudah memindahkan seluruh aktivitasnya di Hotel Royal Ace guna mendukung tugas-tugas delegasi Indonesia yang akan menghadiri KTT ke-24 ASEAB dan dan KTT Brunei – Indonesia – Malaysia – Philippines East Asian Growth Area (BIMP-EAGA).

Terkait upaya mediasi yang akan dilakukan Presiden SBY untuk penanganan ketegangan di Laut China Selatan, dikabarkan Vietnam menyambut baik tawaran Bapak Presiden itu.

Menlu Marty Natalegawa mengatakan, Menlu Indonesia diinstruksikan untuk segera mungkin menghubungi Menlu Tiongkok (Cina) untuk menyampaikan keprihatinan dan harapan agar masalah ini bisa dikelola dengan baik dan tidak dibiarkan berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Menurut Menlu, dalam pertemuan bilateral itu Presiden Yudhoyono menegaskan kembali keprihatinan Indonesia atas situasi yang berkembang di Laut Cina Selatan. Ia menilai ketegangan di kawasan itu sama sekali tidak bisa diselesaikan melalui penggunaan kekuatan dan kekerasan.
“Justru sebaliknya memerlukan penyelesaian secara damai sesuai prinsip-prinsip dalam COC (Tata Perilaku/Code of Conduct),” katanya.

Sebelumnya dalam forum retreat Pertemuan Puncak ke-24 ASEAN, Presiden juga menggarisbawahi bahwa sebenarnya bangkitnya Cina merupakan suatu peluang bagi ASEAN, bukan sesuatu yang harus dilihat sebagai tantangan.

“Kita punya komitmen yang sama terhadap situasi di Laut Timur dan Laut Tiongkok Selatan, begitu juga dengan penanganannya yang harus damai. Apapun harus diselesaikan dengan damai secara politik dan menghindari penggunaan kekuatan militer,” tambahnya.

Sementara itu PM Nguyen Tan Dung, kata Menlu, mengklaim bahwa saat ini terdapat hampir 83 kapal Cina yang mengawasi kegiatan pengeboran gas dan minyak di Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) dan landasan kontinen Vietnam. Disampaikan pula bahwa sempat terjadi insiden dorong-mendorong antara kedua belah pihak.

Mary mengatakan, Vietnam mengaku telah menawarkan kepada Beijing untuk membahas masalah ini dengan PM Cina. Namun, disebutkan bahwa belum tepat waktunya untuk mengadakan komunikasi seperti itu.

Loading...