Beranda Views Sepak Pojok Kuda Troya Beda Kelas

Kuda Troya Beda Kelas

3287
BERBAGI

Sunardian Wirodono*

Dengan pengakuan Darmawan Sepriyosa mengenai Obor Rakyat, kemudian kita tahu soal inilah.com, Setiyardi, Andi Arief, Hatta Rajasa (pemilik saham inilah.com), kemudian orang Gerindra, bekas anak buah Prabowo di Kopassus yang menculik Andi Arief, dan seterusnya dan seterusnya; Sebenarnya kita-kita yang mengerti situasi 1998 akan paham apa yang terjadi pada Obor Rakyat.

Karena masalahnya bukan hanya seperti yang disebut Darmawan soal semua orang bebas berpendapat dan meniru nabi-nabi, tetapi pendapat itu yang oleh orang Istana dianggap karya jurnalistik biasa dan harusnya dilawan juga dengan karya jurnalistik (makanya Andie Arief mengatakan cetak ulang dan sebarkan biar orang tahu), pertanyaan menjadi lebih mudah. Kenapa mesti dicetak on-paper dalam jumlah besar, pakai duit siapa, dan kenapa serta untuk apa disebar ke desa-desa dan pesantren? Kalau Darmawan cerdas, dengan dalilnya itu, maka yang jadi objek harusnya dua capres itu sekaligus. Jika itu dilakukan, maka segala macam alasannya, bisa diterima dengan acungan jempol.

Tanpa ilmu intelijen seklas kepolisian dan BIN (yang akhirnya mbulet ke jawaban normatif prosedural, dan pasti akan ngegombal dengan beribu alasan), kita-kita mengerti siapa di balik semua aksi Obor Rakyat ini dan apa targetnya.

Pilpres 2014 ini persis dengan pemilihan presiden 1999 ketika Amien Rais dan kawan-kawan mencoba melawan untuk menyingkirkan Megawati. Dan sekarang ketika Jokowi muncul sebagai capres, pertarungannya juga tak berubah, berkumpulnya vested interest kekuasaan dan arus baru perubahan. Dengan bergabungkan Demokrat, FPI, FUUI (ulama yang mengharamkan Jokowi), Komunitas ‘Piye Kabare’ (Soehartois), dan segala apapun yang diklaim Gerindra mendukung Prabowo yang akan memahlawannasionalkan Soeharto, petanya sudah jelas.

Sayangnya, Amien Rais dkk tidak mendapatkan figur sekuat Gus Dur yang waktu itu mampu menggeser Megawati. Prabowo, kuda troya yang kurang memadai untuk ini (belum lagi koalisi obar-abir ini juga terdiri beragam agenda yang tumpang-tindih di dalamnya).

Jika Jokowi mampu membaca sejarah reformasi 1998, mimpi rakyat untuk perubahan agar Ind nesia segera on the track, tidak akan terbendung. Rakyat hanya membutuhkan cukup sandang, pangan, dan papan (serta hajat hidup sosialnya), tidak membutuhkan retorika elite politik yang hanya membuka segala blunder politik.

Semoga 9 Juli segera datang, dan biarkan 190 juta rakyat pemegang hak suara menentukan. Sayang sekali, Pemilu kita kali ini belum beranjak ke arah yang lebih mencerahkan, karena masih berkutat pada isu ecek-ecek tentang apa dan siapa, bukan pada bagaimana Indonesia ke depan mesti dibangun.

Maka, rakyat berdaulat dan mandiri yang akan menentukan, yakni kita yang akan
mengawasi kekuasaan itu, seperti lagu hiphop si Juki:

lebih penting dari politik, kawan
adalah kemanusiaan
guru bangsa mengajarkan
kita saudara dalam kebhinekaan

setelah
pilihan dan kemenangan
kami akan mundur menarik dukungan
membentuk barisan parlemen jalanan
mengawasi amanah kekuasaan

*Sunardian Wirodono adalah kolumnis dan  budayawan. Tulisan-tulusan Sunardian bisa dibaca di www.bukusunardian.blogspot.com