Beranda Ekbis Bisnis Kunjungan Menperin ke Lampung, Pemerintah akan Berikan Kemudahan Fiskal bagi Perusahaan...

Kunjungan Menperin ke Lampung, Pemerintah akan Berikan Kemudahan Fiskal bagi Perusahaan yang Terintegrasi

1052
BERBAGI

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Menteri Perindustrian Saleh Husin mendapat penjelasan dari Associate Director Factory PT Great Giant Pineapple Imanudin Abdullah mengenai proses pencucian buah nanas sebelum pengalengan ketika meninjau pabrik PT Great Giant Pineapple di Terbanggi, Lampung Tengah, 27 Juni 2015. (Foto: Ist)

BANDARLAMPUNG– Pemerintah pusat  akan mendukung industri mengintegrasikan penanaman dengan bahan jadi. Bahkan pemerintah  akan memberikan berbagai  kemudahan dalam insentif fiskal dan nonfiskal.

“Kita akan mendukung industri yang sangat terintegrasi dari penanaman sampai dengan bahan jadi. Pemerintah  akan memberikan berbagai  kemudahan insentif fiskal dan non fiskal,” kata Menteri Perindustrian RI Saleh Husin, seusai acara buka puasa dan  kunjungan kerjanya di PT Tunas Baru Lampung (Sungai Budi Group)  di kawasan Way Lunik, Panjang, Bandarlampung, Sabtu (27/6).

Menurut Husin, kunjungan kerja  ke Provinsi  Lampung untuk melihat secara langsung sejauh mana produksi gula di PT Sugar  Labinta . Mulai dari produksi gulanya yang  hampir seluruhnya untuk industri besar  makanan dan minuman.

Menperin juga mengunjungi PT Great Giant   Pineaple Coorporation  (GGPC) di Lampung Tengah. GGPC selama ini menjadi salah satu perusahaan nanas kaleng yang sangat terkenal di dunia. Banyak produk nanas kaleng terkenal di dunia bahan jadinya diambil dari PT GGPC. Mereka hanya tinggal menyiapkan kemasan kaleng, memberinya label, dan memasarkannya dengan merek-merek terkenal.

Nanas kaleng yang diproduksi PT GGPC terinegrasi antara kebun nanas, pengolahan limbah nanas menjadi pupuk,  dan pengolahan nanas kaleng sehingga nyaris tidak ada sisa sampahnya (zero waste). Penanaman nanas, proses panen, hingga produksi akhir juga teringrasi dengan baik.

Produk PT GGPC seluruhnya diekspor dengan nilai sekitar 220 juta dolar AS per tahun.

“Di GGPC kami melihat langsung  mulai dari proses membuat kebun dan produksi, bahan baku kalengnya dan dikemas sendiri sesuai pembeliannya. Industri dari hulu sampai hilir hingga ampasnya diolah dan bermanfaat dan bernilai jual sejalan dengan  industri agro turunannya yang mempunyai  nilai tambah dengan membuka lapangan pekerjaan untuk devisa negara,” jelasnya.

Saleh Husin mengatakan, hal seperti  itulah yang akan didukung pemerintah. Termasuk dukungan untuk memperluas jaringan usaha dan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan yang masih lemah pemasarannya.

Editor: Oyos Saroso HN

Loading...