Kurnia Effendi, Mengawinkan Dunia Otomotif dengan Sastra

  • Bagikan
Kunia Effendi (dok pribadi KEF)
SUATU siang pada awal Agustus 2005, tiga puluhan karyawan
sebuah perusahaan otomotif terheran-heran saat memasuki kafe di kompleks
perusahaan otomotis di Jalan M.T. Haryono, Jakarta.
Semula, puluhan karyawan yang sudah lelah rapat sejak pagi
itu mengira Kurnia Effendi, rekan mereka, akan mengajak makan bersama. Namun, siang
itu Kurnia Effendi, karyawan perusahaan otomotif yang juga seorang cerpenis
itu,  tidak segera mempersilakan
rekan-rekannya mencicipi hidangan makan siang.
Siang itu Kurnia Effendi sengaja ingin membuat kejutan. Ia akan
meluncurkan buku cerpen terbarunya berjudul Aura Negeri Cinta. Kawan-kawannya
yang sehari-hari bergelut dengan dunia otomotif akan diperkenalkan dengan
sastra.
Di kafe sudah ada Asma Nadia dari penerbit Lingkar Pena
Publishing House, Chusnato (pengelola situs www.sriti.com), Sisi Arsianti
(editor penerbit Metafor), Emiria Dita Prasanti (keponakan Kurnia yang menjadi
tokoh salah satu cerpen Kurnia Effendi), dan beberapa kontraktor yang menjadi relasi
perusahaan otomotif tempat Kurnia bekerja.
“Pada kesempatan ini, saya memperkenalkan sebuah buku bacaan
sehat untuk para remaja. Saya bilang sehat  karena cerpen-cerpen di dalam buku ini bebas
dari adegan gandeng tangan, pelukan, bahkan ciuman; meskipun bicara tentang
cinta. Jadi Anda semua yang telah memiliki anak-anak remaja, sudah selayaknya
untuk memiliki buku ini. Buku yang tidak perlu dicurigai oleh orang tua sebagai
bacaan anak-anaknya. Harga resmi di toko 24 ribu, di sini hanya 20 ribu,” ujar
Kurnia, membuka acara.
Undangan sepakat mendengar pembacaan cerpen dulu. Tak lama
kemudian Dita Prasanti, mulai membaca salah satu cerpen Kurnia Effendi. Sehabis
mereka makan siang, bursa buku dibuka. Dari 50 eksemplar buku baru yang dijual,
sebanyak 46 eksemplar langsung terbeli siang itu, selain dua judul buku karya
Kurnia lainnya, yaitu Senapan Cinta dan Bercinta di Bawah Bulan.
Begitulah cara Kurnia Effendi, cerpenis Indonesia yang juga
seorang group head for network development sebuah perusahaan otomotif itu memperkenalkan
dunia sastra kepada rekan-rekannya.
Peluncuran tiga buku kumpulan cerpen Kurnia lainnya selalu
dikemas dalam acara sastra yang serius, meski ada nuansa budaya popnya. Buku
kumpulan cerpen pertama karya Kurnia (Senapan Cinta, penerbit Kata Kita,
2004), misalnya, peluncurannya ditandai dengan pembacaan cerpen oleh artis
sinetron Cornelia Agatha. Sementara buku cerpen keduanya (Bercinta di Bawah
Bulan
, penerbit Metafor, 2004) artis Wulan Guritno bertindak sebagai
bintang tamunya.
Menempuh studi di jurusan desain interior di Fakultas Seni
Rupa dan Desai (FSRD) Institut Teknologi Bandung, pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah,
tahun 1960 ini sejak remaja sudah aktif di dunia sastra. Sewaktu masih
mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Kurnia Effendi pernah menjadi
Presiden Grup Apreasiasi Sastra (GAS) ITB pada tahun 1986.
Kurnia Effendi sudah mulai
mengarang sejak 1978, saat dia masih sekolah di STM Pembangunan di Semarang.
Karya-karyanya ketika itu sudah dimuat di majalah Gadis, Aktuil, dan
surat kabar Sinar Harapan. Sejak itu, rajin mengikuti sayembara
penulisan fiksi dan puisi, menghasilkan sekitar 30 penghargaan, enam di
antaranya juara pertama.
Kesibukannya sebagai seorang professional di dunia otomotif,
tidak menghalangi Kurnia untuk tampil sebagai cerpenis. Rutinitas kerja yang
menuntutnya haruss sering keliling Indonesia untuk mendatangi showroom-show
room mobil dimanfaatkannya untuk bertemu dengan rekannya sesama pengarang.
“Kalau bertemu dengan kawan-kawan, saya merasa seperti
baterai yang diisi kembali. Banyak dari cerita teman-teman saya itu kemudian
saya tuangkan menjadi cerpen. Intinya, dari semua tulisan saya itu, saya
memberikan satu pelajaran, meskipun bukan secara verbal. Dalam menulis saya
juga sangat memperhatikan keindahan bahasa. Saya menjaga melodius dari bahasa
itu,” ujar  pria yang waktu remaja
menggemari  tulisan Alistair Mc Lean itu.
Selain menerbitkan sebuah
antologi puisi tunggal berjudul Kartu Nama Putih (Penerbit
Biduk, Bandung, 1997), hingga saat ini Kurnia juga sudah menghasilkan empat
buku kumpulan cerpen. Antara lain  Senapan
Cinta
(Penerbit KataKita, Jakarta, April 2004), Bercinta di Bawah Bulan
(Penerbit Metafor Publishing, Mei 2004), Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena
Publishing House, Juli 2005), dan Kincir Api (Gramedia Pustaka Utama,
Agustus 2005). Sedangkan puisi-puisi dan cerpen -cerpen yang lain dikumpulkan
dalam puluhan antologi bersama.
Cerpen Kurnia berjudul “Terompet”
masuk dalam 14 cerpen terbaik Anugerah Majalah Sastra Horison 2004,
sementara cerpennya berjudul “Roti Tawar” masuk dalam 10 cerpen terbaik dalam
Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas 2005.
Cerita-cerita Kurnia hampir semuanya bertema cinta. Menurut
Kurnia tema cinta di Indonesia belum selesai digali sehingga selalu menarik
untuk ditulis. Cinta, kata Kurnia, tak selalu berjalan mulus dan  lurus.
“Dalam kesedihan, kepahitan, keperihan, sebenarnya ada
cinta. Jadi saya menulis perselingkuhan, cinta yang tak sampai, intinya
semuanya itu cinta. Bahwa manusia itu, seberapa jahatnya juga ia tetap punya
cinta,” tutur suami dari Ratu Ade Wasna ini.
Selain hasil pengamatan, cerpen Kurnia rata-rata merupakan
pengalaman orang lain yang ia ramu kembali. Teknik lain, kata Kurnia, dia
mengumpulkan judul yang menurutnya sangat menarik.
“Dengan menulis judul, saya akan dengan cepat mengingat apa
yang ada dibalik judul itu. Jadi misalnya saya punya gagasan, kemudian saya
tulis judulnya. Jadi dari judul itulah saya teringat kembali gagasan itu,” ujar
bapak dari Najma Amtanifa dan Afi Syaifi Irzan itu.
Kalau gagasan itu tak sempat dicatat biasanya Kurnia akan
menceritakan gagasan itu kepada teman yang sedang berada di dekatnya. “Jadi
kalau lupa saya akan bertanya kepada teman yang sudah saya kasih gagasan cerita
itu,” tambahnya.
Setiap perjalanan menumbuhkan benih cerita bagi Kurnia.
Beberapa perjalanan tugasnya  telah
menghasilkan cerpen. Perjalanan Kurnia ke Surabaya, terurai menjadi cerpen
berjudul “Abu Jenazah Ayah”. Tokoh-tokoh di dalamnya nyata, tetapi
peristiwa menabur abu jenazah adalah gagasan.
Suatu malam ketika sedang jalan-jalan di Tokyo, Kurnia
diguyur gerimis. Saat merencanakan perjalanan ke Disney Sea keesokan harinya,
semua koridor pertokoan penuh orang. Demikian juga dengan cafe Starbucks. Semua
itu menjadi sebuah suasana yang melatari cerpen Kurnia berjudul “Lelaki
yang Menghilang dalam Gerimis.”
Peristiwa tsunami yang menyapu Aceh dan Sumatera Utara juga
mengilhami Kurnia Effendi menulis cerpen berjudul “Laut Lepas Kita
Pergi”, sebuah cerpen yang begitu mistis dan kaya cerita.
Selain dipublikasikan di Kompas, Koran Tempo,Media
Indonesia,Republika, Suara Karya, Suara Merdeka, Lampung Post
dan beberapa
koran lokal, cerpen-cerpen Kurnia juga sering muncul di majalah seperti Femina,
Kartini,
dan Matra. Kurnia juga masih masih menulis cerpen remaja di
majalah Gadis dan kumpulan cerpen Cinta dan sesekali menulis
untuk jurnal (Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Cak, Jurnal Kolong)
atau majalah sastra Horison.
“Saya juga menulis cerita anak-anak di Bee Magazine.
Prinsipnya saya menulis tidak dengan cara membeda-bedakan media,” Kurnia
memberi alasan kenapa karyanya tersebar di aneka media.
Meski cerpen-cerpennya digarap secara serius, Kurnia menolak
ketika penyair Acep Zamzam Noor menyebut cerpen-cerpennya dibuat dengan
“memeras” keringat, airmata, dan darah. Soalnya, kata dia, banyak cerpen yang
dihasilkannya secara enjoy.
“Saya menulis cerpen ‘Lagu Malam Braga’, misalnya, di kamar sebuah
hotel di Bandung dan Bandarlampung. Suasana sangat enjoy,” ujarnya.
Oyos Saroso H.N.

  • Bagikan