Kursi Berkaki Tiga

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Senja itu membaca piranti media sosial group alumni waktu program sarjana lebih dari 40 tahun lalu; Pak Ketua membagikan postingan kunjungan beliau kesalahsatu masjid di salah satu kabupaten provinsi Sumatera Selatan. Tampak aneh di sana ada semacam penanda kursi besar dibawahnya untuk jalan dan kursi itu berkaki tiga. Takjub rasanya melihat ini, sepanjang perjalanan hidup baru ini ada perlambang yang ditabalkan sebagai kursi berkaki tiga; apa gerangan maksud dan tujuan.

Ternyata dari hasil penelusuran Pak Ketua diperoleh jawaban maksud dari icon tadi; bahwa mau berbuat baik, termasuk bersedekah, tidak harus menunggu sempurna atau cukup. Kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun; tidak ada halangan untuk kita melakukan kebajikan kepada siapapun. Pesan moral ini kita tinggalkan untuk Pak Ketua terus menelusuri relung relung kehidupan di usia senja bersama anggota; namun kita tilik lebih jauh makna dari Kursi Berkaki Tiga dari sisi lain.

Pembuat Kursi Berkaki Tiga perancang ikon Masjid itu sudah atau paling tidak sedang mendalami hakekat dari perbuatan baik. Lambang seperti itu hanya dipahami oleh mereka yang mengkaji sesuatu dari hakekat; bukan realita; karena realita tidak selamanya mampu menggambarkan pesan yang akan disampaikan oleh hakekat. Bahasa lainnya realita sering terlalu kecil untuk memuat hakekat; oleh karena itu banyak diantara kita menjadi gagal paham; hanya karena kecilnya wadah realita yang dimiliki untuk memaknai sesuatu.

Persoalan lambang ini menjadi tidak sederhana jika berdasar pada pemikiran maknawi bawa berbuat baik tidak perlu menunggu sempurna, atau sedekah tidak harus menunggu lebih; menjadi lebih mengasyikkan lagi jika kita mau berfikir ..”berbuat baik seperti apa.’’’ Menunggu lebih apanya”… kedua kutub ini sering berbenturan dalam melaksanakannya; bahkan tidak jarang membuat gagal paham.

Bisa jadi kesesatan pertama terjadi yaitu dorongan untuk berbuat baik tidak ada karena memaknai hidup masih kurang untuk dirinya. Tidak salah jika ada pejabat yang sudah selesai periodesasinya, masih pingin terus memimpin karena merasa kurang terus dan harus; sampai sampai melakukan upaya hukum untuk meminta jabatannya diperpanjang ke Mahkamah yang membidangi hal ini, dan itupun tidak cukup sekali, bahkan berkali kali.

Kesesatan kedua; dorongan untuk berbuat baik ada, namun selalu dibayangi nanti menunggu cukup untuk dirinya, baru untuk orang lain. Kesesatan ini setali tiga uang dengan kesesatan pertama, karena yang kedua ini memposisikan dirinya seolah tuhan yang tau akan kecukupannya; padahal semua kita mengetahui tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menjamin apakah dirinya besok pasti ketemu matahari terbit.

Kesesatan ketiga, dorongan untuk berbuat baik tidak ada, namun berbuat hanya untuk sekadar melepas hasrat nafsu duniawi. Dengan kata lain, pemberian yang diberikan sebatas melaksanakan hasrat memuaskan diri semata. Pemberian tidak lebih hanya suka suka; apakah itu baik atau tidak bukan menjadi wilayahnya. Model saweran seperti ini banyak kita jumpai pada saat ada pesta dan atau apapun namanya. Pemberi sawer merasa senang melihat orang bertabrakan hanya mengambil rupiah yang ditebar.

Sekadar mengingat kembali pesan orang tua tua dulu; ..”yang singkat itu waktu…yang suka menipu itu dunia….yang dekat itu mati….yang besar itu nafsu…..yang berat itu amanah ….yang mudah untuk dibuat itu dosa…..yang sering dilupakan itu syukur…….yang berharga itu iman….yang tajam itu lidah……sedangkan yang ditunggu Tuhan itu tobat kita….” Manakala kita menyadari rangkaian peringatan tadi; maka sebagai manusia sudah sewajarnya jika tidak perlu menunggu ada baru sedekah, tidak perlu menunggu waktu untuk beramal, tidak harus menunggu tobat baru ibadah.

Lambang kursi berkaki tiga sudah seharusnya menggugah kita semua untuk mawas diri bahwa hidup ini tidak seperti yang kita inginkan, tetapi seperti apa yang Tuhan rencanakan. Jalani saja dengan penuh rasa keihlasan, karena diujung sana kita akan ketemu kenikmatan. Jika kita mampu bersyukur dengan apa yang ada, maka kita tidak akan risau dengan yang hilang, karena itu bukan untuk kita, dan bukan lagi milik kita. Takdir itu milik Tuhan, tetapi usaha dan doa itu milik kita; maka mari kita terus berusaha dan berdoa, sampai bismillah menjadi alhamdullilah.

Selamat ngopi pagi.