Kusir Disepak Jaran

  • Bagikan

Syamsul Arifien

Di tengah keramaian malam Malioboro Yogyakarta, aku bopong kedua gadis kecilku naik ke atas kereta kuda (dokar). Kudanya berkulit coklat sawo matang, sang kusir berkain jarik Sidomukti, berbaju surjan warna ping,  dan blangkon model Mataraman.

Kusir dokar yang usianya sudah berbilang 60-an tahun itu dengan penuh kelembutan melecutkan cemeti (cambuk) ke bokong kuda. Hiiiiaaaaat...!!!!!!!!!!! dan kuda pun berjingkat jalan kalem ‘ala Jogja’,  menapaki aspal hitam berpendar cahaya khas Malioboro.

Kedua gadis kecilku yang usianya hanya terpaut satu tahun lima bulan itu, tampak kegirangan  bercampur rasa takut duduk di atas kereta kuda di belakang pak kusir. Saya dan istri turut senang, walau juga sedikit waswas.

Hmmm… petang ini, saya jejakkan kaki di Jalan Malioboro. Kenangan 15 tahun silam itu kembali terurai terang benderang di pelupuk mata. Kedua putriku itu kini telah remaja. Harapan dan doa saya, semoga mereka hidup bahagia, terjaga harkat martabat dan kehormatannya, serta jangan sampai mengalami keburukan diperkuda oleh apa saja,  siapa saja dan kapan saja. Amiin Allahumma amiin.

BACA JUGA:   Badak Lampung, Niku Mak Nenggalan

Akan halnya kereta (dokar), kusir dan kuda, yang aku tuliskan ini, aku membayangkan bagaimana seandainya  kuda yang dipecut itu alih-alih menurut, bahkan sebaliknya justeru kakinya menyepak kepala dan dada sang tuan (kusir), ah… pasti sakitnya tuh di sini. Belum lagi jika kereta dokarnya juga ikut terguling. Ah… pasti kekacauan terjadi.

Maka gelombang air pasang jagat politik yang diperkeruh ontran-ontran KPK vs Polri sekarang, jangan – jangan ini memang kusir sedang disepak (ditendang) oleh kuda dokarnya sendiri sehingga kusir murka, sakit memar dadanya, puyeng kepalanya, sempoyongan tubuhnya. Sedangkan seluruh penumpang dokar kocar-kacir lari tunggang langgang. Lantas pertanyaaanya, kenapa kuda penurut mendadak berubah brutal dan liar?

Di tengah kekacuan ini, sebagai rakyat biasa kita tidak perlu hanyut  terombang-ambing. Soal kabar pengusiran seorang presiden oleh orang bukan lagi presiden, misalnya, yang entah benar atau sekadar isu, anggap saja itu peristiwa biasa.

BACA JUGA:   Karto Israel

Semakin terbiasa kita membiasakan diri mendengar, menyaksikan kegaduhan – kegaduhan politik, maupun pertengkaran para petinggi negeri, maka akan semakin terbiasa juga kita memahami dan tidak gampang terkecoh atau kecele oleh  sandiwara-sandiwara politik yang mereka mainkan. Kita sudah terlalu lama dan sering didustai, jadi tidak  perlu juga  kaget oleh rancangan – ranncangan tipu daya berikutnya lagi, dan berikutnya lagi.

Dulu pernah saya mendapatkan pelajaran, “anjing menggigit orang itu biasa, tapi kalau orang menggigit anjing itu baru barita”. Artinya kalau para pemanggul amanah rakyat sibuk bertengkar, saling berebut pengaruh dan kuasa, menipu dan menyengsarakan, membikin bingung dan pengkhianatan, itu semua adalah hal biasa, bukan berita.

Kalau mereka menyejahterakan dan mendamaikan, sehingga rakyat hidup tentram olehnya, itu baru berita besar. Hmmm… apa ya ada negara yang pemimpinya bisa berbuat yang demikian?

  • Bagikan