Beranda Kolom Kopi Pagi Kyai Said dan Bupati Lamsel, Medsos dan Bingkai Persaudaraan yang Retak

Kyai Said dan Bupati Lamsel, Medsos dan Bingkai Persaudaraan yang Retak

3416
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Apa pun isu di dunia maya yang kemudian menjadi trending, ujung-ujungnya hanya akan menemukan dua garis lurus Garis yang kemudian bermuara pada pemihakan: pilihanku A maka A selalu benar, A salah karena ia bukan B.

Kalau ingin mencoba membuktikan, carilah informasi tentang Jokowi, Prabowo, Habib Rizieq, Amien Rais, K.H. Said Aqil Sirajd, Setya Novanto, Ridho Ficardo, Herman HN, Mustafa, Arinal Djunaidi, dan tokoh-tokoh lain yang diyakini banyak pemuja dan pembencinya.

Ini pula yang terjadi dalam kasus Bupati Lampung Selatan yang diduga salah mengutip pernyataan K.H. Said Aqil Siradj sehingga menyulut kemarahan nahdliyin di Lampung. Berita seputar kasus ini yang tersebar di media sosial seolah menjadi kurang penting dan tidak menarik karena kalah menarik dibanding perang opini di kolom komentar.

Api telanjur menyala, orang sudah marah. Namun, komentar dan serangan dari pihak yang pro dan yang kontra justru tidak meredakan kemarahan.

Saya termasuk orang yang tidak yakin Zainudin Hasan bermaksud buruk dan menyerang K.H. Said Aqil Siradj. Pada awal pidatonya, isinya sangat bagus: memberikan motivasi, mengapresiasi para santri, memuji ulama dan kyai. Zainudin pun masih mendapatkan tepuk tangan ketika menyitir ucapan Kyai Said soal orang bejenggot.

Namun, menjadi lain penerimaan warga nahdliyin ketika Bupati Lamsel itu mengeluarkan kalimat ajakan agar tokoh (kyai) NU protes atau demo ke PB NU, mendemo Kyai Said. Tapi, lagi-lagi, sampai di sini kita belum bisa meyakini bahwa maksud Zainudin itu sungguh-sungguh. Untuk itu, semestinya sebelum kasus ini mencuat, akan lebih elok jika ada tokoh NU Lampung Selatan minta klarifikasi pernyataan Zainudin Hasan.

Sejak awal mestinya perlu dimintakan klarifikasi pernyataan Kyai Said yang disitir Bupati Lamsel itu sumbernya dari video Youtube yang mana. Ini penting karena alangkah banyak video tentang jenggot panjang dengan sumber Kyai Said Aqil Siradj. Sebagian video tersebut sudah diedit dengan memotong bagian yang menjadi pelengkap konteks sehingga seolah-olah Kyai Said mengatakan bahwa orang berjenggot panjang itu bodoh karena syarafnya ketarik. Bahkan, ada video yang lebih jahat lagi: editan dan diberi judul seakan-akan Kyai Said menghina  K.H. Hasyim Asy’ari karena Kyai Hasyim Asy’ari berjenggot.

Dalam konteks pernyataan tentang orang berjenggot panjang, Kyai Said sudah habis-habisan dicaci maki di medsos sejak dua tahun lalu. Siapa yang mencaci maki? Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini, bisa dilacak latar belakang pilihan politiknya dan siapa yang mereka tokohkan.

Fakta menunjukkan bahwa bermedsos yang hanya mengandalkan insting dan malas cek ulang akan menyebabkan firnah. Ironisnya, fitnah yang sudah menjadi hobi itu kerap tidak mencerminkan latar belakang orang yang menyebarkannya di media sosial. Layak diduga, hal itu disebabkan persepsi awal yang sedemikian kuat menancap di otak dan hati, sehingga yang ‘bukan kita’ dan akan jadi pesaing bagi kehidupan politik dan ‘kelompok kami’ harus selalu diserang.

Semua itu menyebabkan batas-batas etika menjadi hancur. Persaudaraan pun hancur. Islam yang rahmatan lilalamin pun seolah hanya jadi pajangan yang cuma mudah diucapkan.

Di tengah suasana panas di Lampung, saya masih berharap ada islah antara warga NU dengan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan. Tidak perlu mereka berseteru. Cari titik temu. Cabut laporan di polisi dan kembali berangkulan.

Selebihnya: jangan mudah menghakimi orang lain. Apalagi alat untuk menghakimi orang lain diragukan kebenarannya.