Beranda Seni Teater La Tansa Pentaskan “Azan” Karya Chavchay Syaifullah

La Tansa Pentaskan “Azan” Karya Chavchay Syaifullah

121
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM, Jakarta – Teater La Tansa menggugat pandangan sempit sekelompok manusia tentang azan, apalagi jika menistakan eksistensi azan. Melalui naskah “Azan” karya Chavchay Syaifullah, Teater La Tansa menyibak sejarah dan falsafah azan dalam peradaban Islam di panggung Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 16 Oktober 2018.

Pementasan “Azan” merupakan puncak acara Panggung Azan: Khusyu’ Negeriku yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 15-16 Oktober 2018 lalu.

Pementasan yang ditunggu-tunggu itu pun menggebrak panggung dan membangun suasana haru, sedih, lucu dan tragis. Dari satu babak ke babak berikutnya, bahkan di akhir setiap babak ketika lampu panggung mulai meredup dan gelap, tepuk tangan penonton membuncah seperti gelombang ombak. Hadirin benar-benar larut dalam kisah “Azan”.

Tampak di antara hadirin antara lain: Pimpinan Pesantren La Tansa KH Adrian Mafatihullah Kariem, KH Sholeh, dan KH Ahmad Faisal Hadziq, budayawan dan pimpinan Teater Kosong Radhar Panca Dahana, pendiri Teater Bulungan Uki Bayu Sejati, aktor Imam Ma’arif, Ketua Umum Himpunan Seni Budaya Islam Prof. Dr. Pramudya Ardanta, Wakil Ketua Umum Lesbumi Dinaldo, serta sejumlah alumni pesantren Daar el Qolam dan La Tansa. 450 kursi yang ada di dalam gedung semuanya telah terisi sebelum pentas dimulai, sehingga banyak penonton sebagian terpaksa berdiri dan sebagian lagi memilih berkumpul di ruang sayap kiri dan kanan ruang pentas.

Pentas Azan yang disutradarai Chavchay Syaifulah dimulai dengan tari kolosal yang berpangkal dari simbol-simbol gerakan azan dan shalat. Beberapa gerakan terlihat dinamis untuk mengggambarkan potret kehidupan dunia saat ini, termasuk di Indonesia. Lalu pentas melakukan flashback ke situasi musyawarah Rasulullah beserta para sahabatnya tentang alat yang akan dipakai sebagai panggilan shalat, lonceng atau terompet. Namun ketika Abdullah bin Sa’ad dan Umar bin Khattab menjelaskan perihal mimpinya di hadapan Rasulullah tentang azan beserta struktur lafadznya, Rasulullah pun menyetujui azan sebagai panggilan shalat dan meminta Bilal bin Rabbah sebagai menjadi muazin pertama dalam sejarah peradaban Islam.

Pentas kemudian berkembang ke dalam tragedi keluarga pengusaha kaya yang rajin bersedekah dan mendirikan masjid di mana-mana, namun berujung pada kebangkrutan bisnisnya dan situasi keluarganya yang runyam. Di luar dugaan, ajudan pengusaha yang bernama Bilal tampil sebagai tokoh yang mampu menunjuk jalan keluar dari kemelut hidup yang kian membeku. Hubungan yang bermula sebagai tuan dan ajudan berkembang ke hubungan yang lebih humanis. Di saat istri sang pengusaha semakin gila belanja dan anaknya yang kian kecanduan gadget, Bilal yang selalu tampil lugu dan polos bukan saja mampu mengembalikan semangat hidup tuannya, namun menunjukkan jalan menuju ridha Allah melalui azan dan shalat.

“Ya benar, bapak sudah membangun masjid di mana-mana. Tapi yang bapak bangun itu hanya fisik-fisik masjid saja. Bapak belum pernah membangun masjid di hati bapak, di jiwa Bapak. Padahal itu jauh penting,” ujar Bilal kepada tuannya dengan polos.

Azan menjadi perbincangan yang serius antara Bilal dan tuannya, juga di dalam majelis taklim Kyai Rojali. Penjelasan Kyai Rojali bahkan menukik lebih dalam ke dalam persoalan falsafah azan dalam konteks ibadah shalat dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Eksistensi azan seperti mendapat gugatan baru yang lebih luas dan mendalam, sehingga pentas teater menguak perspektif baru tentang azan yang berdimensi cinta dan perdamaian, juga tentang kebangkitan dan kemenangan manusia dari reifikasi berhala-berhala palsu dunia modern.

Teater La Tansa merupakan kelompok teater dari Pondok Pesantren La Tansa, Cipanas, Lebak, Banten di bawah kepemimpinan KH Adrian Mafatihullah Kariem. Aktor yang seluruhnya merupakan santri La Tansa, didukung penuh oleh para gurunya yang tampil sebagai penata musik, penata cahaya, penata pangggung, hingga ke bagian dokumentasi dan kru pertunjukan.

“Pentas ini menjadi perjuangan santri dalam meluruskan pengertian azan di tengah masyarakat luas, juga sebagai ikhtiar mengoptimalkan media dakwah santri melalui kreasi seni dan budaya,” ujar Chavchay.

Loading...