Label Keliru “Begal Kelompok Lampung”

  • Bagikan
Seorang tersangka pembegalan sehabis diperiksa di Polsek Tanjungkarang Timur, Bandarlampung. (Ilustrasi/dok Teraslampung.com/Zainal Asikin).

KARENA nila setitik rusak susu sebelanga. Barangkali itulah peribahasa yang pas untuk menggambarkan psikologi  perasaaan penduduk Lampung – dari suku apa pun—terkait maraknya begal sepeda motor dan pencurian kendaraan bermotor di Lampung dan Jabodetabek. Karena dalam banyak kasus kriminal itu ketika pelaku yang tertangkap mengaku sebagai warga Lampung, kesan orang luar Lampung terhadap warga Lampung pun jadi sedikit agak miring.

Dulu, ketika warga Lampung bertemu dengan orang baru di Jakarta dan berkenalan, yang ditanya kenalan baru hampir selalu tentang gajah Lampung. “O…. dari Lampung… Sering naik gajah Way Kambas dong?” ujar kenalan baru itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, kalau warga Lampung berkenalan dengan orang baru di luar Lampung, pertanyaan kenalan baru pun sudah banyak berubah.

“Dari Lampung ya? Wuih… ngeri ya begalnya?”

Sialan. Begitulah, kita orang Lampung mengumpat. Bagaimana kita bisa menepis persepsi itu? Bukankah anggapan atau persepsi salah dan keblinger itu memang ada dasarnya? (Sialnya) Dasarnya apa lagi kalau bukan pemberitaan yang masih tentang maraknya begal dan pencurian kendaraan bermotor yang acap melibatkan pelaku yang mengaku sebagai warga Lampung itu.

Terkait begal dan pencuri kendaraan bermotor yang juga merambah wilayah Jakarta, Depok, dan Tengerang yang konon banyak ber-KTP Lampung, sebenarnya banyak hal yang harus diluruskan. Misalnya, penyebutan oleh polisi “begal kelompok Lampung”.

Kalaupun faktanya memang benar ada kelompok begal ber-KTP Lampng, penyebutan “begal kelompok Lampung” tentu tidak pas dan merugikan. Itu adalah semacam stigma atau label atau cap. Pelabelan itu jelas merugikan warga Lampung yang baik, pekerja keras, kreatif, dan sama sekali tidak pernah terlibat aksi kriminal. Label “begal kelompok Lampung” juga bisa tergelincir menjadi semacam pars pro toto: hanya sebagian kecil bagian masyarakat yang terlibat, tetapi semuanya dapat getah.

Sialnya, ketika ada begal tertangkap dan dihakimi massa hingga tewas, khalayak ramai belum-belum sudah meyakini sebagai ‘pasti warga Lampung nih….” Padahal belum tentu. Hal itu terbukti pada kasus terakhir yang terjadi di Tangerang, ketika ada begal sepeda motor yang tertangkap, dihajar ramai-ramai, lalu dibakar hingga tewas. Sehari setelah peristiwa tragis itu, seoang perempuan tua datang ke rumah sakit untuk mengecek korban. Dan….. benar! Anak muda malang itu bukan remaja Lampung! Ia orang dekat, warga Tangerang juga.

Nah, kalau sudah begitu maka alasan pelabelan ‘begal kelompok Lampung’ menjadi tidak pas. Lagi pula, bukankah Lampung itu luas? Sementara kita tahu, kita yang di Lampung sama-sama paham—tetapi tidak berani tunjuk hidung—bahwa sekelompok orang yang berprofesi sebagai begal atau pencuri sepeda motor tak jauh-jauh dari kelompok yang selama ini kita kenal. Mereka sudah beraksi sejak lama. Bahkan ada proses regenerasinya. Dan faktanya, polisi di Lampung tidak bisa memberantasnya. Ironisnya, akhir-akhir ini pemberantasan begal sepeda motor justru dijadikan jualan politik untuk menyambut pilkada.

Kalau sejak dulu aksi begal di Lampung diberantas, tentu saja kelompok begal tidak beranak pinak. Kapolda, Kapolres, dan Bupati silih berganti. Tetapi kekhawatiran warga dari ancaman begal dan pencurian sepeda motor tidak pernah sirna,

Runyamnya, ketika banyak warga Lampung Timur yang diduga kuat sebagai begal dan tertangkap di Jakarta lalu didor dan mayatnya dikirim ke kampung halamannya, cap “begal kelompok Lampung” seolah makin ditekan kuat-kuat biar makin jelas capnya. Sementara di Lampung sendiri, aparat keamanan masih kedodoran. Publik tidak tahu apakah pengiriman mayat yang disangka sebagai begal itu membuat aparat keamanan di Lampung malu atau tidak.

Tentu saja, kita tidak berharap para begal dihabisi dengan cara seperti itu. Kita ingin hukum benar-benar diitegakkan dan ada kepastian bahwa para begal, pencuri, atau perampok sadistis tidak beranak pinak. Mereka berhenti menekuni profesi itu atas kesadarannya sendiri.

Oyos Saroso H.N.

  • Bagikan