Lakon, Scopus, dan Buku

  • Bagikan
Sunu Wasono. Foto: Istimewa

Oleh: Sunu Wasono

Kalau tak salah, lakon itu artinya (naskah) cerita yang dipersiapkan untuk suatu pertunjukan drama. Kata atau istilah dengan pengertian itu awak kenal ketika awak kuliah di semester pertama pada tahun 1978. Ibu Boen S. Oemarjati, salah seorang dosen awak, pernah menulis buku Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia. Pada buku itu dibahas lakon yang pernah ditulis sastrawan Indonesia. “Bebasari” karya Rustam Effendi adalah salah satu lakon yang dibicarakan dalam buku itu. Tentu saja “Sandyakalaning Majapahit” dan “Manusia Baru” karya Sanoesi Pane juga dibahas. Lakon-lakon yang terbit pada zaman Jepang, terutama karya Usmar Ismail, lumayan banyak mendapat porsi pembicaraan.

Buku itu menurut awak bagus. Melalui buku itu awak mendapat informasi tentang perkembangan (sastra) drama Indonesia di awal pertumbuhannya. Awak tahu sejumlah nama, seperti Andjar Asmara, Sanusi Pane, M. Yamin, Merayu Sukma, dan Usmar Ismail dari buku tersebut. Sayangnya, istilah lakon kurang populer. Orang lebih senang menyebut drama. Kata drama dengan demikian bisa dimaknai sbg naskah cerita (fiksi) untuk pentas drama (dikenal juga sastra drama) maupun drama dalam wujud pentasnya atau peristiwa di panggung. Ada lagi istilah lain, yakni teater, yang salah satu artinya adalah drama juga.

Dengan memberi judul Lakon pada tulisan ini sejujurnya awak tidak sedang bermaksud membahas perkembangan drama di Indonesia. Awak hanya ingin mengulas–ah, sebetulnya tak tepat juga disebut mengulas–kata lakon dalam konteks lain. Karena itu, bukan lakon dalam pengertian naskah drama yang akan awak singgung, melainkan kata lakon dalam kaitannya dengan persoalan tertentu. Apa itu? Sabar.

Dalam bahasa Jawa, lakon artinya ‘cerita’. Dulu, ketika awak masih sering menonton wayang bersama Lik Mukidi, sebelum sampai di lokasi pertunjukan, selalu yang awak tanyakan ke Lik Mukidi adalah “lakonnya” apa. Lik Mukidi sering mendapat bocoran informasi tentang lakon pertunjukan wayang. Entahlah bocoran itu ia dapatkan dari mana.

Seingat awak, info dari Lik Mukidi senantiasa benar. Awak senang kalau lakon pertunjukan wayangnya “Wirata Parwa”, “Kartapiyaga Maling,” “Kongso Adu Jago,” “Brubuhing Alengka,” “Anoman Obong”, “Sastra Jendra”, “Gandamana Luweng”, atau sejenisnya. Awak kurang bersemangat kalau lakonnya kurang seru. Misalnya “Wahyu Purba Sejati,” “Makutha Rama,” atau “Wahyu Cakraningrat.” Tapi kalau dalangnya pas, dalang yang awak sukai, tak apa-apa juga nonton wayang dengan lakon yang tak seru itu.

Sebetulnya seru tidaknya pertunjukan wayang bergantung pada dalangnya. Kalau dalangnya pintar mengolah ceritanya, memainkan wayangnya (sabetan), atau melucu, apalagi kalau berani menyinggung yg saru, pasti seru juga. Pendek kata, kalau dalang bisa menyuguhkan pertunjukan yang terasa nges dan sem-nya, lakon apa pun tak mjd masalah.

Begitulah sekelumit pengalaman awak tentang lakon dalam konteks pertunjukan wayang. Buru-buru awak sampaikan bahwa sebetulnya awak tak juga ingin bicara tentang itu, maksudnya tentang lakon dalam pertunjukan wayang, di sini. Awak hanya ingin berbagi cerita tentang teman awak yang bertanya macam-macam tentang jurnal ilmiah kepada awak. Teman awak ini ingin mengurus kenaikan pangkatnya. Dia tampaknya terhambat karena tak punya karya ilmiah yang dimuat di jurnal. Setahu awak, teman awak ini rajin menulis buku. Berikut penggalan percakapan awak dengan dia.

“Mas, aku pengin urus kenaikan pangkat, ditanya tentang jurnal. Sudah ada berapa yg masuk di Sinta 1 dan Sinta 2. Kalau ada yang tembus scopus lebih baik. Q1 juga boleh. Aku bingung, Mas.”

“Selama ini kau nulis apa?” tanya awak.

“Ya, seperti sampeyan, menulis buku,” jawabnya polos.

“Ha ha ha. Hentikan menulis buku. Lakonnya sekarang ini jurnal. Lakon favorit sekarang jurnal terindeks scopus atau jurnal bereputasi internasional,” kata awak.

“Mas, nulis utk scopus?”

“Ah, kau ini. Mana bisa orang macam awak nembus scopus. Sudahlah, mulai sekarang kau fokus pada scopus saja. Lakonnya sekarang ini jurnal. Para penggagas ketentuan ini kalau lagi mimpi, mimpinya ketemu Scopus. Mungkin mereka kalau punya cucu, akan diberi nama Scopuswati atau Bambang Sakti Scopus.”

“Ha ha ha ha.”

Alhamdulilah, teman awak masih bisa tertawa.

Dia sebelum menutup teleponnya, tanya kepada awak begini, “Mas akan berhenti menulis buku juga, kan?”

“Sama sekali tidak. Awak justru akan lebih giat menulis buku, kalau mampu,” tegas awak.

“Kenapa masih menulis buku? Kata mas sekarang lakonnya jurnal scopus. Kok malah nekad nulis buku. Gimana sih?”

“Ini ngelmu tuwa,” kata awak. “Kau masih perlu belajar lama dan puasa yang lama juga utk bisa memahami. Kalau kau sudah bisa menembus jurnal terindeks scopus, nanti awak kasih tahu jawaban kenapa awak masih ingin bertahan pada penulisan buku meski lakonnya scopus.”

Awak tak bilang kepadanya bahwa awak sudah hampir pensiun. Kalau awak bilang buat apa awak menyiksa diri dengan mengejar scopus, pastilah kata-kata awak itu akan melemahkan semangat dia. Sebelum telepon awak akhiri, awak tekankan sekali lagi pentingnya dia mengikuti lakon sekarang.

Satu pesan lagi awak sampaikan kepadanya tentang pentingnya juga dia menjaga kesehatan. Jangan sampai dia strok gara-gara terlalu “ngesrong” (bersemangat) mengejar scopus. Urip ana ngalam donya mung sepisan, yak apa gelem dijajah scopus. (Hidup di dunia ini hanya sekali. Kenapa kita mau dijajah scopus). Tetapi ungkapan yang terakhir itu hanya tertuju pada awak, hanya berlaku untuk awak. Dia, teman awak itu, dan sampeyan yg sedang membaca tulisan ini, terutama yg sedang mengejar kum utk kenaikan pangkat, jangan mengikuti awak. Sing gendheng sitok ae, cukup aku dhewe (Yang gila cuma satu saja, cukup saya saja). Tabik.

*Dr. Sunu Wasono, staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia

  • Bagikan