Lampung Capai Target 10 Besar, Mari Menengok ke Maiyusi Ade Putra

  • Bagikan
Mesiyusi Ade Putra diberi semangat oleh Ketua KONI Lampung (kiri). Meiyusi Ade Putra dipeluk Ketua KONI Lampung usai dinyatakan meraih emas pada cabang senam nomor palang sejajar, Senin sore waktu Papua (4/10/2021). Foto: lampungsport/Jul
Mesiyusi Ade Putra diberi semangat oleh Ketua KONI Lampung (kiri). Meiyusi Ade Putra dipeluk Ketua KONI Lampung usai dinyatakan meraih emas pada cabang senam nomor palang sejajar, Senin sore waktu Papua (4/10/2021). Foto: lampungsport/Jul

Oyos Saroso H.N.

Sampai hari ini (14/10/2021), dipastikan Lampung mencapai target berada di posisi 10 besar peraih medali di PON XX Papua. Dengan 14 emas, 10 perak, dan 12 perunggu, Lampung hanya selisih dua medali dari peraih posisi ke-9, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kontingen NTB meraih 15 emas, 11 perak, dan 10 perunggu.

Namun saya tidak ingin bicara soal peraihan medali. Sebab, perolehan medali — bisa jadi — kelak hanya semacam prestise. Bahkan suatu saat mungkin tidak ada artinya bagi sang peraihnya.

Saya ingin mengajak warga Lampung — juga Tuan Gubernur, Tuan dan Puan Bupati/Walikota di Lampung — untuk menengok sebentar ke arah salah satu peraih medali emas cabang senam: Maiyusi Ade Putra.

Dari Papua, wartawan senior Lampung, Edi ‘Don Pechy’ Purwanto menulis kemasyagyulan dan rasa gundah gulana yang dialamu atlet senam andalam Lampung, Maiyusi Ade Putra. Ia memang akhirnya meraih dua medali emas pada di nomor palang sejajar, 4 Oktober 2021. Namun, sehari sebelumnya, satu medali emas yang sebenarnya sudah ada di depan mata seolah lepas begitu saja saat ia tak sanggup lagi melakukan gerakan pamungkas.

Kepada Don Pechy, Ade mengaku sempat kesal sendiri dan membuat kesal kontingen Lampung saat tampil di nomor Kuda-kuda Pelana (Pomel). Itu karena Ade tibap-tiba berhenti di pengujung penampilannya. Padahal, sebenarnya tinggal satu dua gerakan dan finish. Apa mau dikata, kaki Ade  nyangkut dan berhenti.

“Saat itu saya syok sebenernya. Karena saya tahu persis mereka lawan-lawan tampil tidak maksimal dan menyangkut juga. Namun saya lebih parah karena saya harus turun. Saya sendiri tidak mengerti kondisi ini berjalan cukup cepat dan tangan saya lepas,” kata Ade.

Ade melepas nomor ini. Padahal, di tiga PON sebelumnya, inilah nomor andalan Ade untuk meraih medali emas. Istilah lainnya, emas sudah menjadi ‘langganan’ Ade di nomor ini.

”Tinggal beberapa detik dan saya finish, karena tampil aman. Tapi yaah, apa boleh buat. Karena semua kan juga ada campur tangan Allah dalam semua penampilan kita,” ujar Ade.

Ade merasa plong dan bisa lebih tenang ketika ia tampil prima dan meraih medali emas di nomor palang sejajar.

Ade merupakan atlet senior Lampung di cabang senam. Ia andalan Lampung. Dengan tampil di PON Papua, berarti Ade sudah empat kali berturut-turut memperkuat Provinsi Lampung di arena PON. Hebatnya, ia selalu mempersembahkan emas untuk Lampung.

Usai PON Papua, pria sederhana ini memiliki rencana sederhana sekembalinya di rumah. Ia ingin makan nasi. Ya, sejak mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan tempur PON Papua, Ade berhenti makan nasi untuk mempertahankan penampilannya agar prima.

“Saya mau istirahat dulu dan makan nasi, karena selama ini saya harus berani menahan untuk tidak makan nasi demi penampilan di PON. Karena kan sudah empat PON saya meraih medali emas, ya tetap gini aja,” kata Ade, seperti ditulis Don Pechy.

Di mata saya dan mungkin sebagian besar warga Lampung, Maiyusi Ade Putra adalah seorang pahlawan. Pahlawan yang menempuh jalan keras dan pedih. Keras, karena ia memang harus berlatih sangat keras dan disiplin agar bisa melampaui ketangkasan para pesaingnya di level nasional. Pedih, karena setiap pulang ke rumah sehabis memperkuat tim PON Lampung ia harus melanjutkan hari-hari sepinya penghargaan atas jasa-jasanya.

Kalau dihitung sejak pertama kali memperkuat tim PON Lampung, dengan empat kali memperkuat tim PON Lampung berarti setidaknya ia sudah mengabdikan 17 tahun hidupnya untuk kejayaan cabang olahraga senam Lampung. Medali emas (juga perak) ia persembahkan di semua PON yangt ia ikuti.

Ironisnya, sampai hari ini di bidang pekerjaaan  Ade tetaplah petugas kebersihan di Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung. Masih tenaga honorer pula (belum PNS). Padahal, ia sudah menjalani pekerjaannya sebagai tenaga harian lepas di bidang kebersihan alias tukang sapu selama 12 tahun.

Ade sebenarnya tidak mau berkisah soal pekerjaannya. Kepada Don Pechy, Ade mengaku ia sengaja menyembunyikan soal pekerjaannya karena dulu ia pernah ditegur keras (tentu oleh orang yang lebih berkuasa) karena bercerita soal pekerjaannya sebagai tukang sapu.

Tidak. Kali ini meskipun Ade tidak ingin bercerita soal pekerjaannya, publik di Lampung sudah tahu bahwa pahlawan kita ini belasan tahun menahan rasa pedih karena tidak kunjung diangkat menjadi PNS.

Saya dan mungkin banyak warga Lampung akan terus menunggu kapan ada kebaikan hati petinggi di Lampung mengangkat derajat Ade ke tempat yang semestinya. Bukan hanya memanfaatkan keringat dan tenaga Ade untuk mendulang emas setiap empat tahun sekali.

  • Bagikan