Lampung Jazz Festival 2016 Tebar Pesan Perdamaian bagi Indonesia

  • Bagikan

Herman Batin Mangku*

Suara bas dan hentakan zig-zag drum mencabik-cabik malam. Melodi gitar dan liarnya suara tuts piano menari-nari bersama kerlipan lampu warna-warni dan germis kecil di panggung megah Lampung Jazz Festival 2016.

Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo tak bergeming dari tribun kehormatan hingga lagu terakhir dari Syaharani bersama Komodo Band yang dimotori drumer Gilang Ramadhan hingga pukul 00.00 malam Minggu lalu (12/11).

Lampung Jazz Festival 2016 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung dan berlangsung sejak Jumat (11/11) berhasil menebar cinta, pesan perdamaian bagi Indonesia, sekaligus mencatatkan Lampung dalam agenda festival jazz nasional.

Jazz, sebagaimana gendre musik lainnya, media universal yang menebarkan cinta dan perdamaian. Cabikan-cabikan bas dan drum serta improvisasi nada meluruhkan sekat-sekat kesukuan, agama, dan ras para jezzer dan penonton Lampung Jazz Festival 2016.

Festival jazz yang digelar kali kedua ini–sebelumnya tahun 2013–seperti menjadi oase gerahnya kondisi politik tanah air saat ini. Jezzer dan penonton dari berbagai suku, ras, dan agama melebur dalam keindahan improvisasi musik jazz.

N.E.W.B. yang mengusung jazz fusion atau jazz progresif dari Jakarta menyelipan pesan perdamaian bagi Indonesia di tengah penampilan mereka yang berhasil mencuri hati para penonton bertahan dari gerimis.

“Mari kita bersatu dan berkarya untuk Indonesia, jangan sampai terpecahbelah oleh perbedaan suku, ras, dan agama. Anak muda harus punya harapan dan cita-cita untuk Indonesia,” ujar Echa Soemantri, drumer N.E.W.B. yang bermata sipit dan berkalung salip.

Para penonton pun memberikan aplus bahkan minta grup jazz ini menambah durasi penampilan dari grup band yang terdiri dari Nathania Jualim (gitar elektrik), Wesley Geraldo (bas elektrik), Boby Limijaya (piano), dan Echa pada drum).

Pada penampilan pamungkas, Ivan Nestorman menyatakan kebahagiaannya untuk pertama kali menginjak Pulau Sumatera. Vokalis dan gitaris dari Indonesia Timur ini mengatakan kebanggaan pada keberagaman Indonesia.

“Indonesia memang mungkin belum baik, tapi sejelek-jeleknya Indonesia adalah yang terbaik bagi kita,” ujarnya berdialog dengan penonton sebelum menyanyikan tiga lagu berbahasa daerahnya.

BACA: Jazz dan Obsesi Bu Guru Naning

Sebagian besar penonton tak mengerti arti lagu yang dalam bahasa daerah Indonesia Timur, bisa jadi juga, tak semua penonton paham arti lagu-lagu asing yang dinyanyikan ekspresif dan komunikatif oleh Syaharani.

Namun, melodi musik menyatukan apresiasi para jezzer dan penonton. Bahasa musik, bahasa keindahan dan kedamaian, tak hanya bagi mereka yang hadir malam itu di Lampung Jazz Festival 2016, lewat berbagai media informasi, efek dominonya juga akan dirasakan Indonesia dan dunia.

Gilang Ramadhan, eks drumer Krakatau bersama Indra Lesmana, Tri Utami, dan kawan-kawan, mengatakan tak mudah menggelar festival semegah Lampung Jazz Festival 2016 ini. Namun, kerja keras menggelar even ini, akan dicatat komunitas jazz tanah air dan dunia.

  • Bagikan