Beranda Teras Berita Lampung, Peluang dan Tantangannya

Lampung, Peluang dan Tantangannya

441
BERBAGI

PLTU Tarahan

SORE di akhir Juni itu saya buru-buru ke Bandara Soekarno Hatta untuk perjalanan ke Lampung setelah kunjungan ke FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) di Teluk Jakarta bersama Komisaris Utama, anggota Dewan Komisaris PLN dan Pak Bagiyo Riawan- Direktur (Pengadaan Strategis & Energi Primer) dan tentunya bersama Pak Suryadi ‘Gas’ Mardjoeki – Kepala Divisi Gas dan BBM (KDIVGBM). Karena keaktifannya mengurus gas untuk PLN, nama ‘Suryadi Gas’ lebih populer dari pada Suryadi Mardjoeki nama aslinya.

Keberadaan FSRU itu menjamin PLTGU Muara Karang Jakarta berkapasitas 1600 MW bisa beroperasi tanpa BBM sehingga pemakaian BBM untuk memroduksi listrik di Jawa Bali saat ini hanya 2,5 %. Sisa 2,5 % BBM ini hanya untuk memproduksi listrik di Bali dan akan berkurang kalau kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 sudah beroperasi akhir tahun ini.

Karena berangkatnya sudah sore, sampai di Lampung sekitar jam 5.00 langsung menuju kantor PLN Distribusi Lampung untuk berdiskusi dengan pegawai Distribusi Lampung serta perwakilan P3B Unit Pelayanan Transmisi (UPT) Lampung dan Sektor Tarahan-Lampung. Diskusi berlangsung meriah sampai jam 8.30 malam dengan diselingi istirahat untuk sholat magrib. Dari diskusi hangat ini saya mendapat beberapa informasi penting.

Pertama, pertumbuhan beban puncak dan penjualan listrik di Lampung masing-masing 13,6% dan 13,3%. Ini sangat tinggi untuk ukuran Wilayah/Distribusi se Indonesia ! Ini peluang dan tantangan besar bagi PLN Lampung untuk mengembangkan bisnisnya.  Kedua, komposisi pegawai Distribusi Lampung ternyata 60% berusia di bawah 30 tahun dan 50% berpendidikan D3-S1. Wow, ini sangat potensial! Sangat menantang untuk diubah menjadi kekuatan besar khususnya menghadapi pertumbuhan tinggi. Ketiga, dari sisi pasokan listrik, Lampung paling memadai diantara daerah/unit PLN se Sumatera. Lampung sudah tidak menghadapi defisit daya walaupun masih harus diperkuat dengan transmisi Lampung – Menggala.

Dalam paparannya Pak Made Artha – GM PLN Distribusi Lampung sudah bertekad untuk memanfaatkan tiga kelebihan ini menjadi kekuatan PLN Lampung ke depan. Tapi tekad GM saja tidak cukup. Perlu dukungan dan tekad senada dari seluruh pegawai Distribusi Lampung untuk membangun kekuatan besar ini. Sekarang tinggal bagaimana mewujudkannya. Inilah tantangan PLN Distribusi Lampung merubah peluang besar menjadi unit PLN yang efisien (susut single digit), andal (gangguan turun 25% sampai bisa mengalahkan Distribusi Bali) dan berkualitas (kecepatan layanan pelanggan baru 5, 15, 40 hari dan tanpa calo).

Dari diskusi malam itu saya mendapat kesan ada semangat membara di Lampung ini sehingga tantangan diatas pasti bisa diwujudkan. Buktinya diskusi berlangsung sampai jam 8.30 malam. Itu pun sudah saya batasi. Kalau tidak dibatasi, diskusi bisa panjang sampai malam. Padahal semua yang hadir belum makan malam. Keuntungan lain PLN Distribusi Lampung hanya mengurusi distribusi saja. Tidak lagi mengurusi pembangkit dan transmisi. Jadi, mari kita tunggu cahaya baru dari Lampung ini.

Besok paginya, jam 7.30 saya sudah berada di PLTU Tarahan. Saya tiba lebih dulu dari pak Arfan – Manajer Sektor Tarahan- yang tiba beberapa saat kemudian. Pak Arfan adalah Manajer yang baru dipromosikan dari PLTGU Cilegon, baru tiba di Lampung dari Cilegon dengan menyeberang selat Sunda memakai kapal ferry Merak – Bakauheni.

Setelah berkeliling melihat PLTU Tarahan yang baru pertama kali saya datangi, saya melihat PLTU ini sangat istimewa. PLTU ini tidak punya pelabuhan batubara (coal jetty) tempat tongkang batubara berlabuh untuk menurunkan batubara, beserta peralatan ship unloader – crane pembongkar batubara dari tongkang ke darat. PLTU ini juga tidak punya tempat menimbun stok batubara terbuka (coal yard) beserta peralatan pengatur batubara (stacker reclaimer), seperti yang selalu ada di PLTU lainnya.

Di PLTU Tarahan ini batubara nya dikirim dari lokasi coal yard PT Bukit Asam yang lokasinya bertetangga. Hanya dibatasi sungai kecil. Di area PLTU ini hanya ada belt conveyor (ban berjalan) untuk membawa batubara dari coal yard PT Bukit Asam ke tangki penimbun batubara tertutup (coal silo). Coal silo ini dibuat dari beton berbentuk silinder yang menyimpan batubara 2×15.000 ton. Belt conveyor nya juga tertutup karena ban berjalannya ada dalam pipa.

Dengan kondisi seperti ini, di PLTU Tarahan tidak terlihat batubara. PLTU ini memang didesain sebagai PLTU yang ramah lingkungan.Tidak terlihat batubara di lokasi PLTU Batubara. Lha….ini kan istimewa.

Yang ada hanya pohon-pohon mangga, rumput hijau dan abu hasil pembakaran batubara yang jumlahnya relatif tidak banyak karena sudah diambil pabrik semen untuk campuran produksi semen.

Setelah melihat-lihat PLTU, lalu kami berdiskusi bersama pegawai di Sektor Tarahan yang kantornya juga berlokasi di PLTU Tarahan ini. Dari diskusi singkat ini saya mendapat beberapa informasi menarik.

Pertama, PLTU Tarahan yang boilernya memakai teknologi CFB (circulating fluidized bed) dulu sering trip karena boiler bocor. Sekarang bocornya tinggal 2x dalam 5 bulan terakhir. Sudah sangat jauh membaik. Kedua, komposisi pegawainya 80% berusia di bawah 40 tahun. Wow…ini potensi besar yang jarang ditemui di unit-unit PLN. Ketiga, teman-teman di Tarahan ini sudah menerapkan OPI sebagai bagian dari perbaikan proses bisnisnya. Ini bagus….! Saya mendapat laporan dari teman-teman OPI central coach bahwa OPI di Sektor Tarahan ini yang paling maju penerapannya di Sumatera.

Setelah berdiskusi singkat, lalu saya menuju lokasi PLTU Lampung 2×100 MW, pembangkit baru yang merupakan bagian dari Proyek 10.000 MW. Lokasinya tidak jauh dari PLTU Tarahan. Unit-1 sudah mulai commissioning dan saat saya datang sudah beroperasi dengan beban 70 MW. Unit-2 sedang dalam penyelesaian dan diharapkan bisa beroperasi komersial pada tahun 2013 ini. Keberadaan PLTU Lampung ini tentu sangat berarti untuk menopang pertumbuhan listrik 13-14% di Lampung.

Karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Sektor Tarahan diatas, saya memberikan 3 tantangan kepada Pak Arfan dan Sektor Tarahan:
1.       PLTU Tarahan harus bisa menjadi pembangkit batubara dengan kinerja operasi terbaik se Sumatera. Karena didesain sebagai PLTU ramah lingkungan yang tidak kelihatan batubaranya
2.       PLTU Tarahan harus bisa mendapat Proper Emas yang didahului dengan proper hijau tahun 2014.
3.       OPI yang sudah terimplementasi dengan baik harus bisa ditransformasi menjadi bagian dari budaya kerja di Sektor Tarahan.

Dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, saya yakin ketiga tantangan ini bisa diwujudkan oleh Pak Arfan dan Sektor Tarahan. Pak Ruly Firmansyah – GM Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan pasti sangat mendukung upaya-upaya menjawab 3 tantangan tersebut.

Bisakah? Mari kita tunggu hasilnya.

Sumber: http://optimus.pln.co.id/opi/index.php/catatan-pmo/70-lampung:peluang-dan-tantangannya

baca juga: PLN: Menyala Terus, Terus Menyala

Loading...