Beranda Seni Esai Lampung, Upaya Memaknai Sebuah Tanda

Lampung, Upaya Memaknai Sebuah Tanda

316
BERBAGI

Djadjat Sudradjat*

LAMPUNG adalah sebuah tanda. Tanda tentang sebuah provinsi yang berada di Pulau Sumatera di ujung paling timur. Sebagai sebuah tanda, makna atau tafsir tentang tanda bernama Lampung bisa berbeda-beda sesuai pengalaman dan persepsi masing-masing yang memaknainya. Begitulah jika kita mengikuti cara pandang semiotik untuk mencari jalan memahami sebuah realitas kebudayaan.

Ferdinand de Saussure, tokoh semiotik terkemuka, membagi tanda atas dua hal, yakni significant (penanda) dan signifie (petanda). Penanda berkaitan dengan bentuk (yang diucapkan dan dilihat) dan petanda berkaitan dengan makna atau tafsir tentang bentuk. Artinya, Lampung sebagai sebuah tanda dengan yang diucapkan/dilihat dan makna yang terkandung bisa jadi berbeda.1)

Sebagai sebuah tanda, meskipun mempunyai medan makna secara khusus, secara umum Lampung tetap terbuka ditafsirkan oleh siapa saja sesuai dengan latar belakang pengalamannya. Jadi, jika ada beragam persepsi tentang provinsi ini, adalah risiko dari sebuah tanda yang terbuka itu.

Tulisan ini juga adalah “tafsir” tentang tanda yang terbuka yang bernama Lampung.

Lazim sebuah wilayah punya banyak tanda. Ada geografi yang khas. Mungkin ada monumen, benda-benda jejak budaya, plaza yang unik, dan lapangan yang bersejarah. Ada masyarakat yang hidup dan bahasa (daerah) yang mungkin berbeda dengan di tempat lain. Dan, selain tanda yang sudah ada, masyarakat setiap hari juga memproduksi aneka tanda lain.

Begitu juga Lampung, yang mempunyai penduduk beragam etnik, yang jumlahnya saat ini (2010) sekitar 7,5 juta jiwa. Kolonisasi yang bermula pada 1905 dan migrasi penduduk dari banyak tempat yang terus-menerus membuat Lampung menjadi wilayah multietnik. Suku Lampung sendiri hanya sekitar 11,92%, sementara suku Jawa mencapai 61.88%, dan Sunda 11.27%.2)

Komposisi masyarakat yang plural itu perlu disebut, karena sekecil apa pun punya relasi bagaimana mereka memproduksi beragam tanda. Juga kesenian, bagaimana kesenian tradisi di provinsi ini hidup? Adakah banyak ragamnya dan adakah kesinambungannya dengan kesenian modern? Adakah dadi (puisi lisan) dan warahan (prosa dalam bentuk dongeng) punya kontribusi signifikan terhadap puisi modern yang ditulis oleh para penyair Lampung hari ini? Adakah Iwan Nurdaya Djafar, Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba Tampaka, Iswadi Pratama, Binhad Nurohmat, Ari Pahala Hutabarat, Inggit Satria Marga, Dina Oktaviani –sekadar menyebut beberapa nama—‘mewarisi” jejak sastra tradisi itu? Termasuk Udo Karzi yang menulis puisi dalam bahasa Lampung?3) Untuk menjawab pertanyaan ini tentu perlu penelitian khusus.