Pemkab Lampung Tengah Tingkatkan Budidaya Kelapa Dalam

  • Bagikan
Supriyanto/Teraslampung.com
Kelapa dalam (Teraslampung/Supriyanto)
GUNUNGSUGIH – Kelapa merupakan salah satu komoditas strategis karena mampu menjadi sumber pendapatan masyarakat. Kelapa dalam telah diusahakan oleh masyarakat Lampung secara turun-temurun, selain sebagai sumber pendapatan, sumber utama minyak, dan sebagai penyedia lapangan kerja. Sayangnya, bila dilihat dari segi pendapatan petani, potensi ekonomi kelapa yang sangat besar itu belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini, karena adanya berbagai masalah internal baik dalam proses produksi, pengolahan, pemasaran maupun kelembagaan. 
Kabid Bina Usaha Produksi Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lamteng, Radik, mengungkapkan, saat ini di Kabupaten Lampung Tengah luas tanaman  kelapa dalam mencapai sekitar 9.325 hektar. Diakuinya, untuk penambahan luasan lahan perkebunan kelapa saat ini sudah sangat sulit. Namun bukan berarti produksi kelapa di daerah ini tidak dapat ditingkatkan. 
Di Lampung Tengah terdapat sekitar 100 ribu KK petani. Bila satu KK menanam empat batang kelapa di lahan pekarangannya, maka akan diperoleh 400 ribu batang kelapa, jumlah ini tentunya setara dengan 4.000 hektar kebun kelapa. 
”Tentunya bagi yang punya pekarangan sedikit luas bukan hanya empat batang kelapa yang ditanam, tapi bisa lebih dari itu. Kami masih akan terus menggalakkan masyarakat untuk menanam kelapa dalam,” tegas Radk, Jumat (30/5). 
Pohom kelapa dalam: populasinya menurun.

Untuk mengembalikan kejayaan kelapa di Bumi Ruwah Jurai ini, kata Radik, harus kembali digalakan budidaya kelapa dalam. Selain memberikan bantuan bibit kelapa, juga memberikan pendampingan dalam pemberantasan hama kelapa. Beberapa hama penyakit yang sering menyerangan tanaman kelapa dalam seperti hama perusak pucuk, seperti kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros),  Kumbang sagu (Rhynchophorus ferruginous).

Perusak daun, seperti  Sexava sp,  Kutu Aspidiotus sp,  Ulat Artona (Artona catoxantha). Hama perusak bungan, seperti; Ngengat bunga kelapa (Batrachedra sp.),  Ulat Tirathaba. ”Kita juga mencarikan pasar untuk penjualan kopra. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen dilakukan pembinaan dan pelatihan petani dalam pembuatan kopra, maupun pemanfaatan limbah kelapa seperti pembuatan asap cair dari temupurung kelapa,”katanya. 
Menurut Radik, kecenderungan pengembangan budidaya kelapa sawit, maupun komoditas lain saat ini, sangat berdampak terhadap semakin berkurang komoditas kelapa dalam. Karena untuk pengembangan komoditas, seperti kelapa sawit, kakau maupun tanaman singkong, masyarakat lebih memilih mengorbankan tanaman kelapa dalam. Kondisi ini, mungkin saja terjadi karena produksi kelapa sudah tidak lagi maksimal, atau karena harga buah kelapa dirasakan sudah tidak memberikan keuntungan.
Padahal, berbagai manfaat kalapa dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat, tentu saja perlu adanya upaya kembali menggalakan masyarakat untuk budi daya tanaman kelapa dalam. ”Memang untuk penambahan luasan tanaman kelapa tidak mungkin dilakukan dalam skala besar, maka dapat diupayakan melalui pemanfaatan pekarangan rumah maupun di kebun rakyat skala kecil,”tandasnya.

  • Bagikan