Lanyah

Bagikan/Suka/Tweet:
Kuss Indarto*

Orang Jawa punya istilah “lanyah” yang kurang lebih berarti terbiasa, “fasih”,
atau “luwes” dalam melakukan sebuah aktivitas. Istilah tersebut mengindikasikan
pelakunya telah mempraktikkannya dengan rutin, lama, dan terus-menerus.
Misalnya, “Bayine wis lanyah le mlaku” (Si bayi sudah lancar berjalan), “Mbak
Ponirah lanyah tangane olehe mbathik
” (Mbak Ponirah sudah terampil tangannya
dalam membuat batik), dan seterusnya. 

Dua kalimat contoh itu mengindikasikan
bahwa si bayi telah lebih dulu jatuh bangun berlatih berjalan dan diduga baru
di bulan kesebelas lancar berjalan. Demikian pula, Mbak Ponirah mungkin telah
berlatih membatik sejak usia dini dan baru dikatakan fasih atau terampil
setelah masuk di tahun ketiga, bahkan lebih.
Pendeknya,
semua aktivitas butuh upaya, latihan, mempraktikkan langsung secara kontinyu,
berkesinambungan, dan terus-menerus sehingga bisa mengalami “trial and
error” untuk kemudian mencoba menghindari atau meminimalisasi titik
“error”-nya agar pekerjaan lebih optimal. Seorang pelukis bila tidak
terus melukis secara “istiqomah”, terlalu banyak jeda, maka akan
kehilangan kefasihannya dalam mengguratkan garis atau sekadar mencampurkan
warna yang tepat. 
Seorang montir yang libur berpraktik hingga setahun, niscaya
akan terkurangi kecekatannya tatkala kemudian menghadapi sebuah mesin yang lama
tidak ditanganinya. Belum lagi kebaruan sistem dalam mesin yang menjadi
tantangan baru mesti harus dipelajari rentang waktu yang relatif lama.
Apakah
(calon) pemimpin juga membutuhkan ke-lanyah-an untuk memimpin rakyatnya? Pasti.
Pemimpin juga perlu magang dalam situasi yang kurang lebih sepadan, meski
bobot, gradasi, level, dan kompleksitas permasalahannya berbeda. Karakter
lembaga yang dipimpinnya pun niscaya akan berbeda, dan ini berpotensi membentuk
karakter pemimpinnya. Lembaga militer, lembaga bisnis, lembaga sosial, pun
lembaga negara atau lembaga pemerintahan, sudah pasti memiliki titik
diferensiasi yang variatif satu sama lain.
Mereka
yang biasa menjadi pimpinan di lembaga militer level bawah tentu tak akan butuh
banyak waktu ketika berpindah di level yang lebih tinggi di jalur militer.
Demikian pula, orang yang telah bertahun-tahun sukses menjadi pimpinan lembaga
pemerintahan di level menengah, tentu memerlukan proses adaptasi yang bisa
relatif lama ketika harus berpindah memimpin lembaga bisnis yang levelnya
setara.
Akhirnya,
sekarang, Anda pun bisa bernalar ketika melihat fakta seperti ini: seorang
jenderal militer yang pernah membawahi puluhan ribu tentara dan telah libur
memimpin selama 16 tahun, sudah mencoba berbisnis dengan banyak persoalan,
kini, tiba-tiba berkehendak menjadi pemimpin bagi ratusan juta warga sipil.
Butuh berapa tahun dari 5 tahun masa jabatannya itu untuk beradaptasi dengan
rakyat dan sistem kenegaraan yang telah terbangun puluhan tahun?
Eksperimentasi
yang fatalistik seperti apa yang mungkin terjadi dengan pemimpin yang selama
ini hanya meneriakkan gagasan namun belum pernah membenamkannya dalam proyek
miniatur apapun dalam skala apapun? Maaf, saya tidak ngeri dengan tentara. Saya
hanya ngeri dengan pemimpi (tanpa “n”) kosong yang diberi kesempatan. Saya
ingin pemimpin yang “lanyah”!
Wirobrajan,
YK, ujung Mei 2014.


* Kurator, tinggal di Yogyakarta