Beranda News Sosial Lembaga Zakat Bukan Sekadar Menghimpun Dana

Lembaga Zakat Bukan Sekadar Menghimpun Dana

150
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Lembaga zakat yang ada di Indonesia dapat menghimpun dana-dana umat dalam jumlah yang menakjubkan. Namun, program-program yang dijalankan masih berupa program warisan tempo doeloe; sepele, karitatif dan belum mampu memberdayakan kaum duafa dan keluar dari kemiskinan secara nyata.

Hal itu diungkapkan Erie Sudewo, tokoh nasional yang popular sebagai founding father lembaga zakat modern, di hadapan dua belas pimpinan lembaga zakat nasional (LAZNas) yang beroperasi di Lampung dan pemerhati filantropi Islam di Lampung.

Selanjutnya, Erie yang hadir di acara yang bertema “Perzakatan Kita Hari Ini” yang diselenggarakan di Sekretariat DPW Forum Zakat (FOZ) Lampung ini, menyayangkan program-program lembaga zakat nasional di daerah yang “cuma” mengadopsi program nasional. Padahal, kebutuhan mustahik di daerah belum tentu sama dengan kebutuhan masyarakat di pusat. “Program yang dijalankan pun semestinya disesuaikan dengan sumber daya lokal. Di sini tantangan pejuang zakat modern.”

Bimo T. Prasetyo, owner Pandu Usaha yang berkantor pusat di Batam, menambahkan bahwa sebagai pimpinan lembaga zakat, peserta diskusi yang digelar Sabtu (4/6) harusnya memiliki sikap. “Sikap seorang pemimpin akan menunjukkan sikap lembaga yang menentukan pengaruh dan kebermanfaatan lembaga bagi masyarakatdan negara.”

Menilik pengelolaan zakat, Deddy Wahyudi, Presdir LAGZIS Indonesia yang berkantor pusat di Surabaya, menjelaskan ada tiga tipe lembaga zakat: lembaga karitatif, lembaga aset sosial, dan lembaga aset reform. “Ketika lembaga membagikan dana zakat secara langsung, berarti lembaga itu adalah lembaga karitatif,” ungkap Deddy. Sedangkan jika lembaga bisa mengelola dana zakat dalam bentuk program jangka panjang, lembaga naik level menjadi lembaga aset sosial.

Saat ini, tantangnya, sudah saatnya lembaga zakat menjadi lembaga aset reform yang mengelola dana zakat dalam program jangka panjang, berkelanjutan, dan berdampak meluas. “Sekurang-kurangnya, lembaga harus bisa di posisi kedua, yakni lembaga aset sosial.”

Pada akhir diskusi, Erie Sudewo mengingatkan para peserta diskusi bahwa tugas pemimpin di lembaga zakat sangat berat. Pemimpin harus bisa menentukan sikap, mau dibawa kemana lembaga yang ia pimpin. “Ingat, atasi 10 keluarga miskin, itu pekerjaan sosial. Atasi 10.000 keluarga miskin, itu pekerjaan perusahaan. Namun atasi 10 juta keluarga miskin, itu tugas negara. Tanpa kebijakan negara, mustahil rakyat miskin terentaskan.”

Diskusi yang diniatkan untuk songsong Ramadan 1437 H ini, dibuka oleh Ketua FOZWil Lampung, Juperta Panji Utama. Dalam sambutannya, Panji mengungkapkan, tujuan utama diadakannya diskusi untuk menata langkah pejuang zakat di Lampung dalam menggunakan dana-dana umat bagi kemandiarian duafa dan kehormatan negara.

Bada Ramadan, pungkas Panji, FOZwil Lampung akan menggelar kegiatan menyusun program yang berdampak luas pada semua pihak yang

Airin Erk/Putri Dini/Lampung Peduli