Beranda Kolom Kopi Pagi Lepolmasi, Repot Nasi

Lepolmasi, Repot Nasi

3348
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

“Para pejuang lepolmasi itu hebat ya Mblung,”kata Udin Pelo saat seamprokan sama Jemblung di warung kopi Mbak Caca Marica.

“Hebat, maksudmu?” Jemblung penasaran.

“Ya hebatlah…meleka kan bisa menulunkan Suhalto, lalu daman belubah. Olde balu belganti olde repolmasi. Temua dilepolmasi. Kalena lepolmasi banyak lembaga balu. Ada kapeka, ada komisi ini itu. Itu kan hebat namanya…”

“Kalo itu sih hiya. Tapi kita kan dari dulu ya gini-gini aja. Kita tetap harus kerja keras agar bisa ngempanin anak-bini…”

“Dulu katanya daman Suhalto lakyat nggak bisa plotes-plotes dan membuli kamelintah ya Mlung?” giliran Pino Pelo yang penasaran.

“Janganlah membuly pemerintah, kamu bersuara lain aja bisa kena pasal. Kalau macam-macam bisa dituduh pe-ka-i! Semua aman terkendali”

“Nah, itu aku suka Mblung! Aman telkendali….semua aman,halga balang-balang mulah. Belas mulah, makan nasi nggak lepot,” potong Pino.

“Harga nyawa juga murah!”

“Maca cih Mblung?”

“Zaman Orde Baru kan kamu masih kecil, belum tahu apa-apa. Dulu aku sudah agak gede, sehingga bisa tahu banyak informasi lewat koran dan buku. Dulu nggak ada telepon genggam dan medsos seperti sekarang. Yang kaya ya tetap kaya, yang miskin seperti saya ya tetap miskin!”

“Katanya dulu nggak ada kolupsi ya Mblung? Nggak ada pejabat dan wakil lakyat yang ditangkap KPK?” Pino masih penasaran.

“Ya jelas nggak ada!” sergah Jemblung,”KPK iku kan lembaga baru. Dibentuk setelah era reformasi. Lembaga ini dibentuk karena pemberantasan korupsi tidak bisa hanya mengandalkan polisi dan jaksa. Ya… mungkin karena ada yang takut para pejabat akan habis masuk bui,makanya lembaga ini dibikin letoy…”

“Letoy sepelti Wak Kajol ya Mblung?”

“Bukan! Letoy itu maksudnya tidak berdaya, loyo.”

“Oh ya Mblung, katanya dulu daman olde balu semua lakyat hidup makmul ya? Semua makan nasi?”

“Ya elaaaah. Kalo kita yang biasa makan nasi ya makannya nasi. Orang Indonesia timur yang biasa makan sagu ya makannya sagu. Tapi ya nggak enak-enak amat. Ada juga saat susah, sampai-sampai banyak orang desa yang makan tiwul. Bahkan setahun sebelum Suharto lengser dia pernah mengampanyekan makan tiwul. Tapi habis itu kabarnya dia sakit diare…”

“Sakit menclet?”

“Hiya itulah yang pernah aku baca di koran lampost jaman dulu…”

“Kalau sekalang pala pejuang lepolmasi pada ke mana ya Mblung?

“Macam-macam. Ada yang sedang asyik menikmati hasil perjuangannya, ada juga yang masih berjuang!”

“Hahahahaaa… aku tahu Mblung!” pekik Pino Pelo,”…meleka beljuang agal kelualganya enggak lepot nasi kayak saya…. Aneh ya Mblung. Ela belganti repolmasi kok malahan kita jadi lepot nasi…”

“Aih… sudah sudahah No! Ayo kita kerja!” kata Jemblung usai menyeruput seruputan terakhir kopi yang sudah mulai dingin.

Loading...