Beranda Kolom Kopi Sore Lepolusi Mentang

Lepolusi Mentang

156
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

“Lepolusi mentang itu apaan, Mblung?” tanya Pino Pelo kepada Jemblung, di warung kopi Mbak Caca Marica Hehe.

“Revolusi mental itu mental yang direvolusi,” jawab Jemblung sambil menyeruput kopi nasgitel.

“Ngawur kamu!” sela Ndul Letak. “Revolusi mental itu programnya Pak Jokowi! Biar nggak ngawur, mari kita googling!”

“Nah ketemu!” pekik Ndul Letak sambil menunjukkan tautan berita tentang revolusi mental di kompas.com edisi 17 Oktober 2014.

“Wah,beralti lepolusi mentang sudah lama jadi ploglam Pak Jokowi ya?” ujar Pino.

“Ya iyalah… itu kan slogan dia pada Pilpres 2014…” kata Jemblung.

Menurut berita itu, revolusi mental yang dimaksud Jokowi berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa. Indonesia, sebut Jokowi, merupakan bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong.

Selengkapnya dalam berita lima tahun lalu itu Jokowi bilang begini:

Karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. Tapi saya juga ndak tahu kenapa, sedikit demi sedikit (karakter) itu berubah dan kita ndak sadar. Yang lebih parah lagi ndak ada yang nge-rem. Yang seperti itulah yang merusak mental.

Perubahan karakter bangsa tersebut merupakan akar dari munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja tidak baik, bobroknya birokrasi, hingga ketidaksiplinan. Kondisi itu dibiarkan selama bertahun-tahun dan pada akhirnya hadir di setiap sendi bangsa. Oleh sebab itu, saya menawarkan ada sebuah revolusi mental.

Pendidikan dan penegakan hukum Terminologi “revolusi  tidak selalu berarti perang melawan penjajah. Kata revolusi merupakan refleksi tajam bahwa karakter bangsa harus dikembalikan pada aslinya. Kalau ada kerusakan di nilai kedisiplinan, ya mesti ada serangan nilai-nilai ke arah itu. Bisa mengubah pola pikir, mindset. Titik itulah yang kita serang. Satu-satunya jalan untuk revolusi sebagaimana yang dia maksudkan itu adalah lewat pendidikan yang berkualitas dan merata serta penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Kita harus mengembalikan karakter warga negara ke apa yang menjadi keaslian kita, orisinalitas kita, identitas kita.

“Setelah lima tahun apa hasil lepolusi mentang?” tanya Udin Pelo.

“Banyak!” kata Ndul Letak,”salah satunya pendidikan kita makin maju. Bangsa kita menjadi makin orisinal! Birokrasi makin bagus, makin transparan, pilkada dan pemilu makin jujur…”

“…jujur kacang ijo!” ceplos Mbak Caca, dari dapur.

“Apa sekalang penegakan hukum sudah tidak pandang bulu?” tanya Pino Pelo. “Apakah pendidikan kita sudah makin berkualitas?”

“Tentu! Buktinya penusuk Pak Wiranto cepat ditangkap, kecerdasan Arteria Dahlan ngomong di tipi banyak dapat tepuk tangan. Itu semua hasil revolusi mental!” entak Mat Ndul Letak.

“Mau bukti lain?” imbuh Mat Ndul Letak,”sekarang Jokowi dan Prabowo sudah berpelukan, Prabowo dan Megawati sudah makan nasi goreng bareng, Prabowo dan Paloh sudah menyatu, kampret sudah masuk ke kolam cebong, sudah nggak ada yang berminat jadi oposisi karena bisa kemarau panjang….”

“Wah… itu cih benal-benal lepot….” kata Pino Pelo sembari nyengir kuda.

Loading...