Beranda Headline Letusan Gunung Anak Krakatau Bercampur Air, Menuju Segala Arah

Letusan Gunung Anak Krakatau Bercampur Air, Menuju Segala Arah

13555
BERBAGI
Kondisi Gunung Anak Krakatau lewat udara yang terus mengalami erupsi pada Ahad, 23 Desember 2018. Pada Sabtu, 22 Desember 2018, secara visual teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 sampai 1.500 meter di atas puncak kawah. TEMPO/Syafiul Hadi
Kondisi Gunung Anak Krakatau lewat udara yang terus mengalami erupsi pada Ahad, 23 Desember 2018. Pada Sabtu, 22 Desember 2018, secara visual teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 sampai 1.500 meter di atas puncak kawah. TEMPO/Syafiul Hadi

TERASLAMPUNG.COM — Setelah tsunami Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018,  tipe letusan Gunung Anak Krakatau berubah dari tipe strombolian menjadi tipe surtseyan.

“Tipe letusannya sekarang sudah berbeda. Kalau dulu strombolian seperti air mancur. Kalau sekarang istilahnya (tipe letusan) Surtseyan,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Wawan Irawan kepada Tempo, Senin, 24 Desember 2018.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy K. Syahbana, mengatakan perubahan tipe letusan tersebut dapat dilihat dari rekaman video letusan Gunung Anak Krakatau yang beredar pasca kejadian tsunami Selat Sunda yang terjadi Sabtu malam, 22 Desember 2018.

BACA: Kesaksian Nelayan yang Selamat: Tsunami Diawali Suara Letusan Gunung Anak Krakatau dan Runtuhan Lahar

“Kalau melihat videonya, itu terlihat seperti magma yang telah berinteraksi dengan air, letusannya menyebar kemana-mana, ke segala arah,” kata dia, Senin, 24 Desember 2018.

Devy mengatakan, posisi awal Gunung Anak Krakatau saat dindingnya belum roboh itu di ibaratkan punya satu pipa saluran yang mengalirkan magma ke permukaan.

“Magma keluar dari situ, lubangnya kecil sehingga keluarnya strombolian, kecil-kecil. Tapi kemarin, terjadi longsoran tubuh gunung api. Tubuh gunung api yang tadinya seperti rumah dengan cerobong asap, sekarang rumahnya runtuh, asapnya bisa keluar kemana-mana,” kata dia.

Menurut Devy, rubuhnya dinding gunung api itu diduga membuat aliran magma tidak lagi terkonsentrasi di satu lubang. “Tubuh gunung sebagian collaps, jadi magma keluarnya itu bisa ke mana-mana tidak terkonsentrasi di satu lubang. Akhirnya magma berinteraksi dengan air,” kata dia.

Devy mengatakan, Gunung Anak Krakatau itu tumbuh di atas Gunung Krakatau yang tubuhnya hancur pasca letusan hebat 1883. Gunung Anak Kratau baru terlihat muncul ke permukaan mulai tahun 1927, dan tumbuh selama lebih dari 90 tahun hingga saat ini terlihat memiliki ketinggian 338 meter di atas permukaan laut.

Devy mengatakan, karakter tipe letusan Surtsyeyan ini sempat menjadi tipe letusan Gunung Anak Krakatau saat gunung tersebut mulai muncul di permukaan laut sekitar tahun 1927-1928. Saat itu juga dilaporkan sempat terjadi tsunami.

Tempo.co | Teras.id

Loading...