Beranda News Peristiwa Letusan Gunung Anak Krakatau dan Dentuman Keras Terus Terdengar dari Pulau Sebesi

Letusan Gunung Anak Krakatau dan Dentuman Keras Terus Terdengar dari Pulau Sebesi

664
BERBAGI
Kondisi Gunung Anak Krakatau lewat udara yang terus mengalami erupsi pada Ahad, 23 Desember 2018. Pada Sabtu, 22 Desember 2018, secara visual teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 sampai 1.500 meter di atas puncak kawah. TEMPO/Syafiul Hadi
Kondisi Gunung Anak Krakatau lewat udara yang terus mengalami erupsi pada Ahad, 23 Desember 2018. Pada Sabtu, 22 Desember 2018, secara visual teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 sampai 1.500 meter di atas puncak kawah. TEMPO/Syafiul Hadi

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Sejak peristiwa terjadinya gelombang tsunami Selat Sunda yang menghantam wilayah pesisir Lampung Selatan, hingga memporak-porandakan ratusan rumah warga di Desa Way Muli, Kunjir dan PPI Bom pada Sabtu 22 Desember 2018 malam lalu. Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, masih memantik kekahawatiran warga yang tinggal di Pulau Sebesi dan Sebuku.

Sebelum dievakuasi, warga yang tinggal di Pulau Sebesi dan Sebuku yang wilayahnya paling terdekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK) tersebut semakin khawatir. Pasalnya, suara letusan GAK terjadi terus-menerus bahkan setiap menit dengan dibarengi adanya suara petir.

Tiga hari pascaterjadinya gelombang tsunami yang ditengarai akibat terjadinya erupsi GAK, warga Pulau Sebesi dan Sebuku memilih mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.

BACA:Dari Desa Kunjir, Gelegar Letusan Gunung Anak Krakatau Terdengar Keras

“Suara letusan GAK itu terjadi terus-menerus. Suaranya sangat keras sekali terdengarnya dari tempat tinggal saya,”kata Sulaiman (63), warga Pulau Sebesi kepada teraslampung.com saat tiba di Dermaga Canti usai dievakuasi oleh Tim SAR gabungan, Selasa 25 Desember 2018.

Sulaiman menceritakan, saat kejadian gelombang tsunami, rumah miliknya hancur namun ia dan keluarganya selamat dan beberapa warga Pulau Sebesi lainnya mengungsi di dataran lebih tinggi. Meski selamat dari gelombang tsunami, namun kami tetap khawatiran bagaimana caranya agar bisa dievakuasi keluar dari tempatnya tinggal yang lokasinya memang dekat dengan GAK.

Kejadian gelombang tsunami ini, kata Sulaiman, memang sedikit berbeda dan tidak seperti biasanya aktivitas dari GAK tersebut. Karena suara letusan GAK itu terus menerus, bahkan letusannya hampir setiap beberapa menit sekali dengan dibarengi suara gemuruh petir.

“Saat kami sekeluarga mengungsi bersama warga lainnya, kami melihat sedikit berbeda aktivitas GAK ini dari biasanya. Jadi sudah suara gemuruhnya kuat, ditambah lagi petir terus menggelegar. Anehnya, petir itu menghantam tepat di atas Gunung Anak Krakatau, Seperti menanjap gitu (di Gunung Anak Krakatau). Setelah itu barulah GAK itu meledak mengeluarkan larva,”ungkapnya.

BACA: Letusan Gunung Anak Krakatau Bercampur Air, Menuju Segala Arah

Dikatakannya, selain rumah miliknya hancur beberapa rumah milik warga lainnya pun ikut hancur setelah dihantam gelombang tinggi tsunami tersebut. Menurutnya, bahkan ada juga korban yang meninggal dunia namun ia tidak mengetahui berapa korban yang meninggal dunia tersebut.

“Ya ada korban yang meninggal dunia, kalau yang saya dengar dari warga katanya dua orang. Satu korban yang meninggal itu masih anak-anak umur sekitar 5 tahun. Tapi sudah ketemu apa belum, saya tidak tahu persis,”terangnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh warga Pulau Sebesi lainnya, Nurmelis (43) dan suaminya saat keduanya berhasil dievakuasi oleh tim SAR Gabungan saat tiba di Dermaga Canti.

Nurmelis mengatakan, saat kejadian gelombang tsunami Sabtu malam 22 Desember 2018, malam itu ia bersama keluarganya sedang nonton televisi. Lalu sekitar pukul 21.00 WIB, terdengar suara dentuman suara ombak yang cukup besar dan dilihatnya air sudah masuk ke dalam rumahnya.

“Tapi saat itu, kami belum lari pergi meninggalkan rumah dan saya juga masih bengong ada apa ini?,”ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Tak lama berselang, kata Nurmailis, datang gelombang tinggi, saat itu juga ia bersama keluarganya langsung lari menyelamatkan diri menuju ke dataran yang tinggi. Sementara rumahnya hancur rata dengan tanah dihantam gelombang tinggi tsunami.

“Malam itu juga, kami semua mengungsi di atas gunung dan kejadian itu tidak ada tanda-tanda apa gitu sebelumnya. Rumah saya hancur, semua harta benda sudah tidak ada lagi yang tersisa,”ucapnya sembari menangis dan mengusap air matanya.

Menurutnya, selama dua malam ia bersama keluarga dan warga lainnya mengungsi diatas gunung, bahkan di tempatnya mengungsi itu, ia bersama beberapa warga Pulau sebesi lainnya sudah kehabisan stok bahan makanan.

Hal senada juga dikatakan oleh Kasat Polair Polres Lampung Selatan, Iptu Sudrajat, yang bersama tim gabungan lainnya mengirimkan bantuan sembako dan akan mengevakuasi para warga yang tinggal di Pulau Sebesi dan Sebuku.

“Ya benar, letusan dari GAK itu terus-menerus dan suaranya sangat kuat sekali dari Pulau Sebesi dan Sebuku. Tapi kepulan material dari aktivitas GAK tidak terpantau, karena tertutup mendung,”ungkapnya.

Salah seorang nelayan bernama Hartono, warga Pulau Sebuku, mengatakan saat gelombang tsunami menerjang, malam itu ia sedang pergi melaut dan saat itulah ia terbawa arus menuju ke tengah laut.

Setelah gelombang ombak reda, Hartono berusaha untuk menepikan perahunya. Begitu sampai di tepian pantai, ia melihat kapal-kapal kondisinya sudah berantakan semua.

“Kalau yang saya lihat di Pulau Sebuku, hanya ada satu pondok saja yang rusak dihantam gelombang tsunami. Kalau yang lainnya tidak ada, karena posisinya agak jauh dari bibir pantai. Saat ini sebagian warga, sudah mengungsi ke darat bersama keluarganya,”ungkapnya.

Diketahui, Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menunjukkan aktivitasnya, mulai Juni 2018 lalu. Aktivitas dari GAK tersebut, terus berfluktuasi selama enam bulan terakhir. Peningkatan aktivitas erupsi juga sempat terpantau tinggi, yakni pada September dan Oktober 2018 lalu.

Gelombang tsunami yang menghantam kawasan pesisir Lampung Selatan dan Anyer, Banten pada Sabtu 22 Desember 2018 malam lalu, ditengarai akibat adanya aktivitas erupsi GAK.

Longsoran material kelaut itulah yang disinyalir menimbulkan adanya gelombang tinggi dan memporak-porandakan ratusan rumah yang ada di wilayah pesisir lampung Selatan serta Anyer, Banten.

Loading...