Beranda Hukum Lima Remaja Jabung Tewas Ditembak, LBH Laporkan Tim Tekab 308 ke Komnas...

Lima Remaja Jabung Tewas Ditembak, LBH Laporkan Tim Tekab 308 ke Komnas HAM

1033
BERBAGI
Direktur LBH Bandarlampung,, Alian Setiadi

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDAR LAMPUNG — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung berencana melaporkan Tim Tekab 308 Polresta Bandarlampung ke Komnas HAM dan Komnas Perlindungan Anak terkait penembakan mati lima remaja berusian 17-an tahun yang disangka sebagai begal.

“Polisi latah, karena Jabung terkenal Kampung begal. Hal Ini pelanggaran HAM, dan tidak bisa dibiarkan. Imej (begal) harus kita hapus, jangan sampai Jabung kedepannya identik dengan begal,”tegas Alian di hadapan para tokoh adat, masyarakat, pamong desa dan keluarga korban, di LBH Bandarlampung, Selasa (18/4/2017) sore.

Berdasarkan investigasi LBH Bandarlampung, lima remaja asal Jabung, Lampung Timur yang tewas ditembak Tim Tekab 308 Polresta Bandarlampung itu, bukanlah begal. Menurut keluarganya mereka adalah anak baik-baik dan masih duduk di bangku SMA.

Dalam konprensi Pers tersebut, LBH Bandarlampung membeberkan beberapa temuan hasil investigasinya dalam kasus tersebut yang dipimpin oleh Direktur LBH Bandarlampung, Alian Setiadi. Dari hasil temuan investigasinya tersebut, disinyalir adanya pelanggaran HAM berat yang diduga dilakukan oleh anggota Tekab 308 Polresta Bandarlampung.

Selain dihadiri lima anggota keluarga terduga begal yang tewas ditembak, dalam konpersi pers tersebut turut hadir beberapa tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan pemerintah Desa Jabung, Lampung Timur.

Alian Setiadi mengatakan, pihaknya melakukan investigasi bersama jaringan advokasi perempuan dan anak Lampung. Investigasi tersebut, dilakukan selama dua hari dengan metode wawancara kepada keluarga, masyarakat Jabung dan sekolah para pelaku anak dibawah umur yang tewas ditembak.

Dalam perkara ini, kata Alian, polisi sudah latah dengan memukul rata Jabung, sebagai kampung begal. Dampaknya, polisi memberantas kawanan begal di kampung dengan 45 desa itu dengan brutal.

“Berdasarkan fakta-fakta yang ada dan dihadirkan, lima orang korban atau terduga begal ini semuanya pelajar bahkan ada anak yang d ibawah umur,” katanya.

Menurut Alian, seharusnya pemerintah dan aparat kepolisian duduk bersama, mencari solusi bagaimana menekan agar angka kejahatan tidak terjadi didaerah tersebut.

“Bukan orangnya yang justru dihabisi, tapi bagaimana cara memberikan arahan-arahan,”ungkapnya.

Alian menjelaskan, tindakan tegas yang mengakibatkan meninggal dunia terhadap lima anak dibawah umur merupakan kejahatan kemanusian. Sebab, perbuatan yang dilakukan aparat kepolisian sebagai bagian dari serangan yang meluas dan sistematis yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil.

Dikatakannya, itu melanggar Pasal 58 dan Pasal 66 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, anak berhak mendapatkan perlindungan hukum dari segala bentuk kekerasan fisik. Selain itu juga, berhak tidak dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan, dan penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.

“Dalam penggunaan senjata api, petugas harus mentaati peraturan yang berlaku seperti yang telah tertuang dalam Peraturan Kapolri No. 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dan Perkapolri No. 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian,”jelasnya.

Seperti dalam Pasal 47 Perkapolri 8/2009 yang menyebutkan, bahwa penggunaan senjata api hanya boleh digunakan apabila benar-benar diperuntukkan untuk melindungi nyawa manusia. Senjata api petugas, hanya digunakan saat menghadapi keadaan luar biasa membela diri sendiri dari atau orang lain.

Dengan demikian, lanjut Alian, atas dugaan terjadinya pelanggaran HAM tersebut, pihaknya mendorong Polda Lampung dan Mabes Polri untuk dapat mengadili anggota polisi Polresta Bandarlampung yang telah melakukan penembakan terhadap lima anak terduga begal tersebut.

“Kami akan melaporkan pelanggaran HAM Berat ini, ke Komnas HAM RI dan Komnas Perlindungan Anak. Komnas HAM dan Perlindungan Anak, agar segera membuat tim investigasi dan melakukan penyelidikan. Karena pelanggaran HAM Ini, adalah perkara serius yang harus segera ditangani,”pungkasnya.

Sementara, ketua tim investigasi LBH Bandar Lampung, Kodir Ubaidilah telah merilisi hasil investigasi tersebut dengan diberi judul Mengapa Harus Jabung? Didalam temuannya yang melakukan penelusuran selama dua hari, Ia membeberkan adanya bekas luka yang dianggap pihaknya dan keluarga sangatlah tak wajar.

Satu persatu korban terduga pelaku begal ia beberkan, diantaranya seperti Ys (20) ada dua bekas luka tembakan bersarang ditubuhnya yakni di mata kiri, paha kiri, serta mengalami patah leher dan kaki kiri. Kemudian Sa (20), yang tewas dengan tujuh luka tembakan di bagian dada, bokong, lengan kanan dan kiri.

Selanjutnya, Is (18) yang mendapat enam luka tembak, yakni empat luka tembak didada, paha kiri dan luka dibawah ketiak lenganan kanan. Sementara Rn (17), mengalami tiga tembakan, yakni di bagian dada, pangkal paha dan paha serta patah leher.

“Untuk teduga pelaku He (18), paling banyak mengalami luka tembakan dengan sembilan tembakan yang bersarang didada, perut, kedua lengan serta jari kelilngking nyaris putus. Bahkan ditemukan adanya luka lebam di kepalanya,”ujarnya.

Temuan tersebut, kata Kodir, berdasarkan keterangan dan foto-foto kondisi jenazah dari pihak keluarga, sebelum kelima terduga pelaku tersebut dimakamkan. Lalu temuan lainnya, pihaknya tidak menemukan adanya catatan kriminal dari pihak sekolah tempat mereka mengenyam pendidikan.

“Apalagi sampai mereka (pelaku)disebut residivis tidak ada, semuanya tidak ada catatanan kenakalan di sekolahnya. Bahkan dari mereka ini, ada yang menjadi pengurus aktif di organisasi sekolah,”jelasnya.

Sebelumnya, warga Lampung dan netizen juga memprotes beredarnya foto nggota Tekab 308 Polresta Bandarlampung yang berfoto bersama jenazah para tersangja pelaku begal menuai kecaman dari netizen. Foto tersebut menjadi viral di media sosial (Medsos).

Kapolri Jendral Tito Karnavian pun sempat berkomentar dan menilai bahwa photo tersebut sangatlah tidak etis.

Sebelumnya, Polresta Bandarlampung mengklaim lima tersangka begal tewas dalam baku tembak dengan Tim Tekab 308 di jembatan layang wilayah Srengsem, Bandarlampung, 1 April 2017.

Menurut Polresta Bandarlampung, iima remaja itu tewas baku tembak setelah disergap Tekab 308 saat mengintai calon mangsanya.