Beranda Kolom Kopi Pagi LJF dan Salah Paham tentang Musik Jazz

LJF dan Salah Paham tentang Musik Jazz

160
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Ketika remaja, kesukaan saya soal musik berubah-ubah. Tidak ada yang intens ditekuni: musik pop, keroncong, campur sari. Menjelang lulus kuliah, saya tersihir Guns N Roses dan Kenny G. Ketika mulai bekerja sebagai jurnalis di Jakarta, seorang kawan mengenalkan saya dengan pentas-pentas musik jazz. Pentasnya di tempat bagus, karcisnya mahal.

Karena saya jurnalis, saya kerap dapat tiket gratis. Salah satu liputan saya tentang pentas musik jazz yang menurut saya agak apresiatif adalah liputan pentas grup jazz asal Prancis di Taman Ismail Marzuki (1996). Pentas inilah yang membuka cakrawala saya  yang selama ini puritan. Sayangnya dulu belum era internet. Dokumentasi liputan saya hanya bisa ditemukan dalam bentuk koran di Harian Lampung Post. 

Seperti saya salah paham tentang jazz, saya kira hingga hari ini masih banyak orang awam yang mengira jazz adalah musik kelas menengah, musiknya kaum terdidik. Nuansa ini pula yang dapatkan dalam 1-2 tahun terakhir, seiring dengan mulai digelarnya Lampung Jazz Festival (LJF).

Karena pemahaman seperti itu, jadilah jazz terasa eksklusif dan ‘tidak merakyat’ seperti dangdut atau musik pop. Padahal, dalam sejarahnya, jazz adalah musik tradisional Amerika Serikat yang dikembangan oleh warga Afro-American di Amerika Selatan yang dimulai pada akhir abad 19 dan awal abad ke-20. Sebagai musik yang lahir dari tradisi, ia bukanlah milik kelas atas atau kaum intelek. Musik Afrika kemudian memberikan pengaruh jazz berupa ritme yang terus menerus, pergerakan dinamis, dan permainan emosi dan jiwa. Tanpa itu semua, jazz menjadi tidak berjiwa.

Penikmat keindahan visual dan bunyi yang awam seperti saya barangkali ada baiknya tidak mempersoalkan praduga atau salah paham genre musik. Yang penting apakah musik bisa dinikmati dan menggerakkan rasa. Jika ingin irama yang mendayu, kita bisa memilih dangdut. Jika mau yang romantis sembari bisa membayangkan kekasih tidur di pelukan kita bisa memilih pop. Sementara jika denyut irama kehidupan dengan cinta dan semangat hidup yang berdegup bersama irama dinamis hingga kita bisa mencapai ekstase, kita bisa mencoba jazz.

Sebagian dari ribuan penonton yang hadir dalam Lampung Jazz Festival (LJF) 2016 di Lapangan Korpri Bandarlampung, 11-12 November 2016, saya kira datang karena kemungkinan pilihan di atas. LJF setidaknya telah membuka tabir salah paham tentang jazz.

 

 

Loading...