Logika Nyeleneh

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pagi itu sambil menyurut kopi panas membuka pesan pesan dari sohib yang ada; satu kiriman tauziah dari sahabat karib yang mantan pimpinan redaksi berisi tentang bahasan bagaimana Sang Khalik memberikan pesan pada ciptaan-NYA melalui diturunkan penyakit pada seseorang atau kaum, serta apa yang dikandung maksud dari penderitaan yang ditimpahkan kepada seseorang. Ternyata logika manusia tidak mampu menemukenali persoalan itu secara jernih, karena itu ranahnya iman yang berangkat dari keyakinan.

Berbeda lagi dengan Abunawas, sebagai Tokoh Nyeleneh yang hidup sejaman dengan Khalifah Harus Al Rasyid (diadopsi dari Gus Baha). Pada satu kesempatan beliau membuka topinya dan memandang kedalam topinya sambil tertawa dan senyum senyum sendiri. Setiap beliau membuka topi dan memandang dalamannya topi, beliau tersenyum bahagia sekali. Lama lama banyak orang memperhatikan tingkah laku Abunawas.

Satu saat ada yang memberanikan diri bertanya, mengapa setiap Abunawas membuka topi dan melihat dalamnya selalu tersenyum bahagia. Abunawas menjawab bagaimana saya tidak bahagia karena saya melihat Syurga. Orang tadi penasaran ingin melihat surga di dalam topi tadi. Abunawas menjawab bahwa boleh syaratnya ialah bisa melihat surga itu jika orang yang melihatnya itu orang yang beriman.

Karena ancaman halus, sistimatis, dan sedikit gila itu, setiap orang yang melihat harus mengatakan ya melihat Syurga, karena jika tidak mengatakan itu, maka dia termasuk kategori orang tidak beriman. Singkat cerita hal ini didengar oleh Harun Al Rasyid; maka beliau menitahkan Pengawal untuk menghadapkan Abunawas. Setelah terjadi dialog maka disetujuilah Harun Al Rasyid akan melihat dalam topi Abunawas. Benar saja setelah beliau melihat tidak ada Syurga di sana, tetapi jika beliau mengatakan tidak melihat Syurga, maka dia adalah seorang Raja yang tidak beriman. Dengan berat hati demi gengsi dan kekuasaan Harun Al Rasyid mengatakan “melihat” Syurga.

Tamsil ini untuk menjembatani banyaknya peristiwa nyleneh di masyarakat akhir akhir ini; yang beda tipis peristiwanya tetapi maknanya tidak terlalu berbeda. Bisa dibayangkan ada dokter yang tidak percaya virus, kita diminta mengamini; padahal kita beda profesi. Ada petugas yang atasnama perintah membabibuta melaksanakannya yang penting selesai. Akhirnya begitu diminta pertangungjawaban dengan lantang menjawab semua tugas sudah selesai dilaksanakan kecuali tugas pokok.

Pembatasan kegiatan masyarakat dimaknai semua orang tidak boleh beraktivitas di luar rumah; perintah itu diterjemahkan hitamputih; sementara situasi sosial tidaklah demikian gambarannya. Sehingga muncul adegan adegan nyleneh di mana mana. Ada petugas tidak paham mana maling ayam mana Paspampres, sehingga menghadapinya persis sama. Ada juga petugas yang tidak paham logika tukang jualan kopi, sehingga tidak sayang dengan pakaian seragamnya untuk melakukan hal yang nyeleneh. Wal hasil begitu Tukang Kopi berdiri naik pitam, petugas kehilangan kendali diri.

Lebih parah lagi pereintah pembatasan tidak disertai petunjuk teknis pelaksanaan di lapangan. Akhirnya pedagang protes minta jatah makan untuk keluarganya, hal ini karena perintah ditelan mentah mentah sebagai instruksi, bukan dimaknai sebagai aturan main sosial; sehingga pemimpin dilevel menengah semua seperti Kantor Pos, hanya mendistribusi kemudian tidur kembali. Kita bisa bayangkan selevel pimpinan wilayah daerah yang seharusnya merupakan pemimpin yang memimpin; ternyata hanya mengover saja dari kiri ke kanan; atau kanan ke kiri. Inisiatif produktif sebagai pemimpin tidak tampak manakala dihadapkan kepada situasi darurat. Mereka hanya gagap dan sikap sempurna meneeriakan Siap Laksanakan. Siapnya dimana melaksanakan apa, begitu ditanya balik mereka sendiri tidak paham akan perintah itu.

Lebih parah lagi,  anggota DPR tidak satu pun yang berinisiatif melakukan penyelamatan konstituennya. Tidak ada yang tergerak untuk mengusulkan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dijadikan Posko Penanganan Bencana,. Syukur syukur dijakdikan rumah sakit darurat. Tetapi nanti tiba waktunya mereka mengemis-ngemis dan merengek-rengek kepada rakyat untuk memilih mereka. Tindakan paling ringan pun tidak mereka lakukan dengan tidak mengambil tunjangan satu bulan dari semua anggota tidak perduli dari partai manapun, kemudian uangnya disumbangkan kepada team penanganan bencana.

Tampak sekali kondisi ini seolah menunjukkan “selamatkan diri masing-masing”. Semua tindakan lebih kepada masyarakat sipil, kesadaran perorangan membantu sesama, membantu tetangga. Semua dilakukan dengan kesadaran pribadi sebagai manusia yang beradab, tidak ada perintah, tidak ada koordinator; semua berjalan mengalir begitu saja.

Semoga mereka yang terpanggil membantu sesama ini akan mendapatkan kemudahan dalam segala urusan baik dunia maupun akherat serta mendapatkan rahmat dari Sang Maha Pencipta.

 

  • Bagikan