Beranda Kolom Sepak Pojok Logika Tumpul

Logika Tumpul

83
BERBAGI

Oleh Slamet Samsorizal

Mas Nakurat terkadang bersyukur memiliki logika tumpul. Apa pasal? Ia tak perlu berpusing-pusing mencerna persoalan yang menurutnya rumit tapi sederhana. Sederhana namun aslinya ya rumit.

Menyaksikan di mana-mana, termasuk di perkampungan, lagi musim proyek gali-menggali saluran air apa pun namanya: got, parit, comberan, gorong-gorong; ia cuma menyimpulkan tampaknya Desember sudah dekat dan Pemerintah selalu berbaik hati, sehingga pembangunan fisik yang diprioritaskan adalah galian singset tadi. Padahal Pak Bejo, tetangga sebelah suka kasih komentar: “tu ngabisin dana proyek, karena udah akhir tahun Mas …. Kan gak masuk akal, di berbagi daerah udah turun hujan .. ini galian buat saluran air malah baru digali. Piye to?”

Ada lagi: harga BBM sudah diputusknaikkan, tapi kalangan DPR baru sekarang (sadar) dan akan menggunakan Hak Interpelasi, demi menanyakan alasan mendasar kenaikan tsb. Sementara masyarakat sudah telanjur “sekarat, ”  para wakil Mas Nakurat baru pada kaget usai turun dari mobil mewah dan akan memasuki restoran berkelas atas.

Logika tumpul, memang tidak selalu linear dengan akal waras. Maka, kalau Anda menonton televisi dan memelototi bagaimana para pengamat bercincong ria, Anda akan temukan dua hal. Pertama, dia hebat karena itu cap-nya adalah pengamat, pakar, profesional, ilmuwan. Kedua, kalau dia hebat kok negara (dalam hal ini bias diwkili oleh Presiden) tak merekrutnya sebagai pembantunya (menteri), staf ahli khusus, atau konsultan misalnya. Kasihan mereka, kerjanya terkadang nyinyiri kebijakan negara, program pemerintah,  atau apa pun yang ketika bergejolak di masyarakat, malah mementungi topik-topik itu.

Mari kita saksikan bagaimana, Implementasi Kurikulum 2013 yang hingga kini menjadi bola liar dan mengesankan jadi bahan cemoohan banyak pihak. Mas Nakurat, setuju kepada para pengritik yang dengan keilmuannya mampu menjelaskan hingga masyarakat paham, mengapa Kurikulum 2013 patut ditinjau kembali. Akan tetapi, yang selalu mencemaskannya adalah para pengritik itu belum semuanya berperilaku sebagai akademisi atau menampakkan sosok seorang ilmuwan.

Sudahkah kita memahami kajian yang akan kita kaji? Itu sikap yang mesti dilakukan orang yang disebut pengiritik, pengamat, apalagi ilmuwan.  Jangan cuma memahami kulit, tetapi mengritik pedas hingga ke darah daging. Kiat ini justru akan menjadi bumerang bagi si pengritik yang sekaligus ilmuwan. Hal yang pernah Mas Nakurat alami, ketika menonton debat di sebuah program acara televisi.  Boro-boro ia memahami hakikat dan perangkat yang tersaji dalam Kurikulum 2013, melihat wujud Kurikulumnya pun si pengritik itu belum pernah. Kasihan deh loo

Jago ngomong, itu khas orang Indonesia. Nyinyir yang kata Mas Eko Endarmoko, penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia itu  “banyak omong” gampang menaut dengan “sedikit konsep, ide, pikiran” juga menjadi ciri lain kita dalam melontarkan gagasan. Apalagi kalau tiba-tiba ditodong pertanyaan wartawan. Maka, agar tampak cerdik cendekia, orang pun lantas tanpa gagap berceloteh asal cuap sambil sedikit-sedikit membandingkan dengan Negara-negara maju terus menggunakan sok nginggris. Jadi, tak mengherankan, ketika kita menyimak lain ladang lain belalang. Lain yang ditanya, lain pula yang dijawab.

Logika tumpul juga merasuki benak Mas Nakurat, ketika khasanah politik kita berseliweran aneka istilah: DPR Tandingan, DPR Bayangan, DPR Jalanan, Kementerian Bayangan. Padahal, katanya mereka sudah mengapresiasi dinamika politik. Padahal, katanya mereka adalah para suma cumlaude yang dengan nasib bejo melanglanglenggang ke forum-forum bermartabat ya sebagai politisi dan teknokrasi.

Jika logika tumpul  Mas Nakurat yang dimainkan, hasilnya akan sederhana: yuk kita amati dengan sepenuh indera apa yang sedang mereka propagandakan dalam wujud kebijakan. Jika hasilnya berbalik ke arah minus, yuk sama-sama kita lempangkan ke fokus dan rel semula.  Terlambat? Tidak, jika berangkat dengan logika tumpul sekali pun. Ini jika dibandingkan dengan baru dilontarkan sebuah program, agenda, kebijakan, dan semenit kemudian reaksi miring sudah bermunculan.

Jarang memberi kesempatan kepada niat baik sering menjadi tontonan sehari-hari. Bu Guru di sebuah SD yang menghukum dengan niat mendidik, sering ditanggapi dengan kemiringan 180 derajat oleh orang tua murid dengan lebay. Ini contoh lain. Maka, guru menyeterap murid dengan menjemur 5 menit di lapangan menjadi berita dengan rating tertinggi mengalahkan kasus korupsi yang sangat tegas menyengsarakan rakyat.

Logika tumpul adalah keheranan dua tetangga Mas Nakurat: Bang Nirin dan Paijo ketika tahu para koruptor itu ternyata “anak sekolahan yang sekolahnya pinter-pinter dan gelarnya mrepet. Kaya, cantik, ganteng, sopan, dan orang terpandang!”. Sementara dirinya, selalu minder karena khas orang terpinggirkan: pemulung,  penjaga malam di penampungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kalau pagi menjadi kuli batu, dan satu lagi pengojek.

Logika tumpul tak selalu berantonim dengan logika tajam. Keduanya bukan paradoks. Keduanya bukan sebuah anomali. ***