Beranda Views Sepak Pojok Longsor, Bola Api, Bola Salju atau Gunung Es Suap Komisioner KPU

Longsor, Bola Api, Bola Salju atau Gunung Es Suap Komisioner KPU

5865
BERBAGI
Ilustrasi/Supriyanto

Oyos Saroso H.N.

Hujan masih berada di depan pintu. Banjir masih mengepung sejumlah kota dan desa di Indonesia. Longsor pun terjadi di mana-mana.

Ini memang musim penghujan. Curah hujan menurut BMKG sedang tinggi-tingginya. Angin kencang, gelombang laut tinggi, dan sambaran petir siap mengancam warga.

Banjir baru saja reda di Jabodetabek. Kemarin lusa banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Kemarin (9/1/2020) banjir dan melanda sejumlah daerah di Indonesia: Grobogan, Banjarnegara (Jateng), Lahat (Sumsel), eTanggamus (Lampung). Banjir dan longsor sepertinya masih berpeluang susul-menyusul terjadi di sejumlah wilayah di negeri yang konon nan elok permai ini.

Di sela-sela musibah banjir dan tanah longsor–juga banjr air mata dan longsornya harga diri–kita kembali disuguhi tontotan yang sungguh tidak aduhai: seorang komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Wahyu Setiawan, dicokok KPK karena diduga menerima suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota legislatif.

Seorang yang berkepentingan hendak menjadi anggota legislatif lewat prosedur PAW diduga kuat memberi uang setoran hingga ratusan juta kepada komisioner penyelanggara pemilu. Ini tentu ora baen-baen, kata orang Brebes.

Tidak main-main. Kenapa tidak main-main? Jelas, karena orang yang diduga menerima suap itu anggota KPU RI. KPU pusat. Seseorang yang di dalam jabatannya, pada dirinya sendiri, melekat otoritas yang tinggi. Jangan dilihat asal-usul, pendidikan, apa lagi tampangnya. Lihatlah bagaimana dengan jabatannya itu seluruh harapan tegaknya demokrasi di Indonesia disematkan. Dan, karena satu contoh buruk ini–kalau dugaan menerima suap akhirnya terbukti–maka ia akan menjadi bola api atau bola salju yang terus menggelinding, membakar apa saja yang ada di dekatnya, membesar dan membesar kemudian menyeberang atau menyebar ke  mana-mana.

Kenapa bisa “menyeberang” atau “menyebar” ke mana-mana? Bisa seperti karena anggota KPU RI juga bisa “punya kaki” di mana-mana.  Maksudnya, anggota KPU RI punya kewewenangan memilih 5 anggota KPU provinsi setelah tim seleksi KPU Provinsi menghasilkan 10 nama. Kalau misalnya seorang komisioner yang integritasnya buruk dan biasa menjalankan praktik KKN pernah menentukan 5 saja anggota KPU Provinsi, lalu 5 anggota KPU Provinsi itu kemudian juga punya hak memilih anggota KPU Kabupaten/Kota, maka sudah bisa dihitung berapa banyak peluang “error”-nya.

Karena otoritasnya yang besar di bidang penyelenggaraan pemilu, tidak heran jika ketika ada seorang komisioner berkasus dengan hukum terkait pemilu atau bersangkut paut dengan anggota legislatif, sorotan publik akan sangat tajam. Serentak dengan itu, publik kemudian beramai-ramai akan menelisik rekam jejak si “pendosa” ini. Lalu ungkapan nyinyir atau belas kasihan pun berdatangan. Akan dicari tahu pula dari organisasi apa komisioner yang tersangkut hukum ini berasal.

Kini, ketika Wahyu Setiawan ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap terkait calon anggota legislatif, rasa keingin-tahaun plus kecurigaan publik tentang lembaga penyelanggara pemilu pun makin besar. Ada warganet berkata,”Jangan-jangan selama ini jual beli suara itu memang benar-benar ada!”

Warganet lain mengomentari berita penangkapan Wahyu Setiawan dengan enteng: “Permainan lama!”. Yang lain menimpali,”Itu sih sudah dari dulu….”

Ujung-ujungnya, KPU seolah tidak ada baiknya sama sekali. Padahal, sebenarnya masih banyak anggota KPU yang memang berintegritas. Namun begitulah hukuman dan persepsi publik. Sekali ada satu oknum lancung ke ujian, yang lain akan kena getahnya.

Proses hukum terhadap komisioner KPU masih berlangsung. Kita harus menghargai azas praduga tak bersalah.

Semoga kasus Wahyu Setiawan bukanlah seperti apa yang menjadi kekhawatiran publik: hanya puncak gunung es karena sejatinya masih ada (untuk tidak menyebut banyak) komisioner KPU di daerah yang perilakunya nyaris serupa.

Loading...