Lumbung Penyair: Kepenyairan Lampung Mutakhir

  • Bagikan
Isbedy Stiawan ZS

Oleh: Isbdy Stiawan ZS

SAAT itu, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) dihelat acara Cakrawala Sastra Indonesia. Pelaksananya Dewan Kesenian Jakarta, dan berlangsung 13-15 September 2005. Tampil sastrawan dari Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan. Sebagai pembicara adalah Ahmad Tohari, Sunu Wasono, Nirwan Dewanto, Kenedi Nurhan, dan Korrie Layun Rampan.

Dari Lampung yakni Ari Pahala Hutabarat, Dahta Gautama, Inggit Putria Marga, Isbedy Stiawan ZS, Iswadi Pratama, Jimmy Maruli Alfian, Lupita Lukman, dan Oyos Saroso HN. Karya-karya delapan penyair Lampung dibukukan berjudul Perjamuan Senja (DKJ, September 2005; xiv + 214).

Melompat jauh ke 1987, di TIM Jakarta juga berlangsung Forum Puisi Indonesia 1987. Sebanyak 5 penyair Lampung kala itu diundang dan tampil dalam forum yang diikuti sekira 80-an penyair se Indonesia.

Tahun 1987 boleh dibilang tonggak awal bagi kepenyairan Lampung di kancah nasional. Pada 1987, penyair Lampung yang diundang adalah Achmad Rich (alm), Isbedy Stiawan ZS, Iwan Nurdaya-Djafar, Sugandi Putra (alm), Syaiful Irba Tanpaka, Djuhardi Basri (atasnama Solo, Jawa Tengah) dan Naim Emel Prahana (Yogyakarta).

Namun, sebelum melanjutkan pembicaraan tentang kesusastraan di Lampung, saya menyinggung sedikit sosok A.M. Zulqornain Ch (Asaroeddin M.Z, Amzuch, dan Asaroeddin Malik Zulqornain Ch—itulah alias dari sastrawan ini), sastrawan yang boleh dibilang “memelekkan” penciptaan sastra di daerah ini di tingkat nasional.

Amzuch jalan sendiri kala itu. Pada 1978-an, saat saya memasuki dunia teater berkenalan dengannya. Sejak itu kami berjuang menembus media, terutama terbitan Jakarta, Sumatera Barat, dan daerah lainnya. Amzuch — ia kusebut “guru spiritual” turut mengantar pada masa-masa awal. Setelah itu lahir penyair Syaiful Irba Tanpaka, dan lain-lain. Sosok Amzuch sebagai pioner sastra dan sastrawan Lampung, tak bisa dihapus.

Kembali ke Cakrawala Sastra Indonesia (CSI) 2005, “penobatan” Lampung sebagai lumbung penyair. Tentang “lumbung penyair” bagi Lampung dinyatakan Nirwan Dewanto dalam Cakrawala Sastra Indonesia (CSI). Nirwan memang membicarakan karya dan kepenyairan Lampung — bersama Sunu Wasono, sedangkan Ahmad Tohari untuk cerpenis Jawa Tengah, Kenedi Nurhan (Sumatera Selatan), dan kepenyairan Kalimantan dibahas oleh Korrie Layun Rampan.

Istilah lumbung penyair, rasa-rasanya pas untuk Lampung kala itu. Ibarat tanah bagi pertanian, daerah ini sangat subur bagi kelahiran penyair. Provinsi di ujung selatan Sumatera ini juga dekat dengan Jakarta. Daerah ini tidak bisa menolak keberadaan Jakarta sebagai pusat dan ibukota negara Indonesia. Seakan penolakan pusat (baca: Jakarta) yang dilaungkan kelompok Revitalisasi Sastra Pedalaman seperti tak berlaku bagi Lampung.

Perkembangan kepenyairan di Lampung, baik sebelum dan sesudah 2005 sangat menggembirakan. Kegiatan sastra yang berlangsung di daerah ini juga lumayan banyak. Penyair di Lampung semasa itu, selain banyak juga kualitas karyanya tak diragukan. Pernyataan Nirwan, menjadi perbincangan di Kompas beberapa hari usai CSI. Adalah F. Rahardi yang menulis di Kompas bahwa yang bisa “menyamai Lampung” hanya Bali.

Selepas 1987, penyair Lampung tumbuh terutama dari kampus (Unila). Peran Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) cukup kuat untuk merawat bibit dan menjadi tumbuh seorang seniman (penyair). Maka pernah ada dua wilayah dalam kepenyairan di Lampung: dari kampus (khusus Unila) dan di luar kampus. Selain nama-nama tersebut di dalam Perjamuan Senja, sastrawan asal kawah UKMBS (ataupun Unila umumnya) adalah Ahmad Yulden Erwin, Rifian A Cheppy, Budi Elpiji, Ivan Sumantri Bonang, Juperta Panji Utama, Arman AZ (prosa), Iin Muthmainnah, untuk menyebut beberapa nama.

Nama-nama yang masih eksis sampai kini, seperti Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ (prosa), Inggit Putria Marga, sebagai bukti sesungguhnya dunia sastra di Lampung belum padam. Namun, regenerasi setelah Agit Yogi Subandi dan Fitri Yani — maaf kalau saya salah — sangat lambat. Lampung yang diklaim Nirwan Dewanto sebagai lumbung penyair, mungkin hanya tinggal lumbung.

UKMBS Unila tidak lagi melahirkan penyair melalui workshop setiap penerimaan anggota baru tiap tahun. Padahal dari kawah ini, terbukti muncul penyair-penyair kuat. Semacam Inggit, Jimmy, Lupita, Fitri Yani, dan Agit Yogi Subandi.

Di luar nama-nama tersebut, sesekali muncul ke permukaan: Yulizar Fadli dan Alexander Gebe. Selain itu, ada Anton Kurniawan, Y. Wibowo, Edy Samudra Kertagama, Yuli Nugrahani, Jafar Fakhrurozi, Rahmad Saleh Ranau, Fathurrahman, Muhammad Alfariezie, dan lain-lain yang tak sempat saya sebutkan,  turut meramaikan perpuisian di Lampung.

Regenerasi kesastrawanan di Lampung beberapa tahun belakangan terbilang stagnasi. Agak tersendat. Kalaupun muncul, masih belum tampak kiprahnya. Jelas ini urusan kualitas karya, selain produktivitas.

Pada sisi lain, patut gembira, Ahmad Yulden Erwin yang cukup lama “tidur atau istirahat” selepas Mimbar Penyair Abad 21, kembali menekuni “jalan sunyi kepenyairan” dan kehadirannya kali ini sangat menyentak. Ia memang sudah matang dalam segala urusan: teknik dan intelektual. Bahkan, AYE bersama Ari Pahala Hutabarat pernah masuk sebagai 5 besar Kusala Award. Dan, inggit Putria Marga dinobatkan penerima Kusala.

Lain daripada itu, kemunculan sastrawan Lampung bagaikan seterika. Mereka datang sebelum namanya dikenal, lalu meninggalkan tanpa kenangan. Ditambah lagi fenomena even sastra semacam festival maupun pertemuan sastrawan, juga penerbitan buku sastra “bergotong-royong” untuk pencetakan; membuat “sastrawan bergerombol” di mana-mana. Orang cepat ditahbiskan sebagai sastrawan (penyair), hanya karena karyanya lolos kurasi dan dimuat dalam buku antologi sastra. Pada akhirnya, begitu mudah menyandang penyair (sastrawan), tanpa harus “berdarah-darah” meminjam Cak Nun. Seakan berpuisi atau bersastra jalan mudah dikenal dan bisa ke mana-mana.

Buah dari berbagai even berupa festival sastra dan penerbitan antologi sastra, tetap ada faedahnya. Setidaknya karya sastra semakin meluas. Kini “yang bukan penyair” boleh ambil bagian dan tercatat. Setidaknya, namanya ada dalam daftar penyair Indonesia. Betapapun ringkas usianya. Artinya apabila even-even sastra mulai mengendur, apakah masih ada penyair?

Dunia digital atau media sosial yang meruak seperti saat sekarang, membuat banyak media cetak gulung tikar, meneruskan ke online (website), ataupun lebih ekstrem, yakni menutup halaman sastra. Jelas ini memukul telak para sastrawan yang menganggap publikasi terindah ialah lolos kurasi sang redaktur yang acap bertangan besi. Karena dari media cetak berhonor, para sastrawan “menggantungkan” penghasilan.

Namun, media sosial ternyata juga banyak positifnya di samping yang buruk. Saat ini banyak orang berbondong menulis di laman dunia maya. Bahkan, media pemberitaan juga “menggantungkan” informasinya di langit-langit maya. Betapa banyak media yang dulu beredar sebagai media cetak (sastra koran, tabloid, majalah), beralih ke media website (sastra medsos). Termasuk ruang-ruang sastra; ada yang berhonor ada pula “maaf, kami belum bisa memberikan honorarium bagi karya yang dimuat”. Dan, masih banyak juga yang memburu.

Adanya media sosial, utamanya FB dan WA, kita pun mudah terhubung dengan banyak orang. Baik dalam negeri maupun mancanegara. Keterhubungannya sosial ini semakin memudahkan untuk menjalin pertemanan dan serupa itu. Sehingga banyak lahir “penyair” dari maraknya media sosial. Medsos juga mempercepat kita menerima informasi berbagai kegiatan sastra. Baik festival maupun penerbitan antologi sastra. Bahkan, dinding FB bisa dijadikan kebun puisi. Terlepas soal kualitas karya.

Dari maraknya medsos, festival sastra (juga penerbitan antologi sastra), dan semacam itu, bermunculan penulis puisi dari Lampung. Bahkan cukup banyak. Ini juga terjadi di daerah-daerah lain. Pegiat literasi hampir tak beda dengan sastrawan. Generasi baru sastra bermunculan di tengah hiruk media sosial dan festival.

Era ini dapat dicatat, misalnya, kehadiran Mintarsih Mimin, Heri Mulyadi, Titin Ulpianti, Agusri Junaidi, Apri Medianingsih, Jauza Imani, Atut Dewi Sartika, dan sebagainya. Medsos yang membangun “pertemanan” jelas tidak salah, sebab link atau jejaring amat diperlukan untuk menghubungkan satu orang dengan orang-orang lainnya. Saling tukar informasi (kabar) dan sejenisnya. Ini juga yang kemudian meramaikan taman puisi di Tanah Air.

Dari media maya ini, banyak pelatihan penulisan karya sastra dihelat. Kita yang tadinya tidak kenal dan akrab dengan sastrawan senior dan kesohor, bisa berakrab-akrab serta foto bersama. Tidak ada lagi sekat senior dan junior, sebagaimana terjadi di era 1980-an. Penyair sekelas Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, ataupun Sapardi Djoko Damono, bisa berdekat-dekat sambil bercanda dengan generasi sastra baru.

Fenomena selfie pada akhirnya “lebih pokok” daripada menulis sastra secara serius (sebut: kualitas). Semacam euforia semangat “bergerombol” sebagai ejawantah manusia sosial – mangan ora mangan ngumpul – dapat dilihat mudah sekali dalam “persahabatan sastra” kita ini hari. Salah? Tidak. Selagi bisa diimbangi dengan kesungguhan berkarya.

Dalam suasana “prihatin” lambatnya regenerasi sastra di Lampung, sedikit terhibur dengan terbitnya buku puisi tunggal Solihin Utjok bertajuk Sebait Syair untuk Tuhan. Buku Solihin ini patut disambut riang, karena memang kualitasnya sebagai karya puisi. Saya dan Ari Pahala Hutabarat saat peluncuran di Metro, mentahbis Solihin sebagai penyair Lampung. Tentu dengan harapan, penyair ini dapat mempertahankan kualitas karya-karya puisi berikutnya.

Ini juga yang saya harapkan kepada Rahmad Saleh Ranau. Saat penyair “asuhan” KoBer ini berkunjung ke rumah saya dan menyodorkan segepok puisi calon buku tunggalnya, intuisi kepenyairan saya mengatakan: ini puisi ini penyair! (sama hal kala saya membaca puisi-puisi Solihin Utjok untuk endorsmen). Kepada Saleh saya sarankan kirim ke media yang digawangi Umbu Landu Paranggi, Nusa Bali. Dan terbit, meski setelah ULP wafat.

Kepada penyair Lampung yang lain, marilah merawat puisi-puisi dalam batin ini dengan terus membangun “persaingan” yang sehat antarpenyair. Tanpa pernah punya “saingan” kita tak akan lagi belajar dan belajar – menulis dan menulis.

Lalu, bagaimana dengan genre prosa di Lampung? Penulis cerpen dan novel di Lampung yang sempat terbaca, menurut saya cukup banyak. Mereka dari Forum Lingkar Pena. Di luar kelompok itu, adalah Fajar Mesaz dari Mesuji yang telah menerbitkan beberapa novel. Fajar juga pemenang penulisan cerpen Krakatau Award.

Jelang saya akhiri pembicaraan ini, Taufik Rinaldi (Metro) telah mengejutkan saya. Sebuah novel tipis (149 hlm) bertajuk Pulang — Hal-hal yang Belum Sempat Kamu Bicarakan (Diva Press, November 2018), hadir dengan cara yang berbeda. Novel TR tersebut, menurut saya, puitis. Serupa larik-larik puisi yang imajis. Agak “mendekati” gaya Goenawan Mohamad dalam sebuah novelnya: Surti + Tiga Sawunggaling (Gramedia Pustaka Utama, 2018).

Maafkan kalau saya tak banyak membincangkan penulis prosa. Karena memang belum naik ke permukaan. Berbeda dengan Arman AZ saat berkiprah pada tahun 2000-an. Ia tercatat dalam “buku sastra Indonesia” hingga sekarang.****

* Sastrawan, tinggal di Bandarlampung

  • Bagikan