Lupa Jadi Rakyat

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada saat menghadiri acara resmi, di samping duduk anak muda bergelar Doktor yang mengepalai suatu Departemen Ilmiah, dengan amat santun menemani dan mengajak berbicara ringan ringan saja. Waktu ditanya kepada beliau, kapan acara ini akan dimulai; yang bersangkutan menjawab beberapa saat lagi; dengan alasan ada beberapa undangan yang belum hadir, dan berpesan minta ditunggu kehadirannya.

Ingatan melayang jauh ke belakang,pada satu acara perhelatan perkawinan saat itu ada seorang mantan petinggi negeri ini; beliau tidak mau menggunakan jalur khusus saat antri bersalaman dengan kedua mempelai dan keluarga. Panitia dibuat sibuk untuk menyilahkan yang terhormat beliau, kebetulan posisi beliau ada didepan persis penulis. Beliau tetap kekeh untuk antri sebagaimana orang kebanyakan. Beliau berguman dan kedengaran sayup sayup berkata dengan istrinya; “kita sudah jadi rakyat ya harus berperilaku sebagai rakyat” istrinya tersenyum bahagia sekali tampaknya, walaupun pasangan itu sudah tidak muda lagi, namun semangat hidupnya membakar segala rintang yang ada. Terakhir mendapat berita beliau telah berpulang, semoga beliau ditempatkan oleh Yang Maha Menghidupi di Syurga Janatunnaim.

Pada kesempatan lain beda lagi, ada seorang mantan pejabat yang sama sekali tidak mau bergabung dan membaur, bahkan beliau minta jalur khusus untuk dapat sampai kepanggung pengantin yang sudah berjubel. Dilihat dari tampilan usia, belum begitu lanjut, dilihat dari kesehatan masih tampak muda dan perkasa; tetapi beliau merasa masih seperti pejabat yang sedang menjabat. Sehingga panitia harus ekstra keras memberikan pelayanan super VVIP kepada “tuan besar” ini.

Beda lagi kasus di salah satu desa pinggir kota, tetapi sudah masuk wilayah kabupaten tentangga. Sebelum mencalonkan diri seorang kepala desa terkenal ramah dengan siapa pun, termasuk istrinya yang sangat ringan tangan. Karena perilaku yang baik ini, semua tokoh desa mengusung menjadikannya kepala desa. Tetapi entah setan mana yang merasuki bapak kepala desa ini, pada waktu menjabat berubah seratus delapanpuluh derajat. Beliau menjadi pongah, sok penguasa; sehingga tokoh yang semula mengusungnya semua berpaling. Pada periode kedua ini beliau mencalonkan diri lagi untuk menjadi Kepala Desa periode dua. Tidak satupun tokoh yang mempedulikannya; hanya jika ada Tangan Tuhan saja yang mampu membawa yang bersangkutan untuk mencapai kemenangan.

Berdasarkan tiga nukilan di atas ternyata ada orang yang siap untuk menjadi rakyat, ada yang tidak siap untuk menjadi rakyat, dan yang ketiga lupa dengan rakyat. Lalu rakyat itu sebenarnya siapa? Rakyat (bahasa Inggris: people) adalah bagian dari suatu negara atau unsur penting dari suatu pemerintahan. Rakyat terdiri dari beberapa orang yang mempunyai ideologi yang sama dan tinggal di daerah atau pemerintahan yang sama dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama yaitu untuk membela negaranya bila diperlukan (diunduh: 13/9/2021).

Ada unsur yang dilupakan dalam batasan di atas bahwa; setelah menjadi pejabat, apapun jabatannya; pada waktunya akan tetap kembali menjadi rakyat. Jadi jika seorang sohib risau menanyakan kemana pimpinan daerah ini, ada atelit yang sudah empat kali mendapat medali emas pada pesta olahraga bergengsi di negeri ini; masih saja sang atlet menjadi tenaga honorer. Ini menunjukkan pejabat itu boleh lupa yang tidak boleh lupa adalah rakyat. Bahwa pada waktunya dia akan menjadi rakyat seperti

Sang atlet tadi, itu soal lain. Peristiwa ini diperpanjang lagi dengan adanya atlet memperoleh medali emas; harus pulang ke rumahnya dengan naik angkot; sementara pimpinan daerahnya ikut menonton di tempat penyelenggaraan pesta olah raganya, yang konon beliau akan diusung menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Kasihan sang atlet yang dari rakyat jelata ingin mendarmabaktikan hidupnya untuk kejayaan negeri ini. Ia harus menelan pil pahit karena para pimpinannya lupa melayani rakyat. Tentu begitu dikonfirmasi tetap saja yang benar pejabat, dan yang salah rakyat. Itu sudah hukum sosial dimanapun berada.

Ternyata termasuk penyakit utama negeri ini adalah pejabatnya lupa jadi rakyat; sehingga begitu yang bersangkutan harus menjadi rakyat; banyak yang harus sekolah lagi. Sementara sekolahan untuk itu tidak ada, apalagi gurunya. Walaupun sebenarnya para pujangga Nusantara sudah memberikan tamzil melalui karyanya; salah satu diantaranya adalah tulisan jawa yang memiliki “sandangan” (tanda baca), apapun tanda diberikan huruf itu tetap bunyi; tetapi jika diberi tanda “pangku” , maka huruf itu tidak berbunyi alias mati.

Maksud dari lambang itu adalah menunjukkan sifat manusia, jika menderita, susah dan lainnya bentuk kesulitan apapun, dia tetap bisa keluar sebagai pemenang. Sebaliknya jika diberi kenikmatan; maka lupalah dia akan segalanya. Oleh karena itu, melalui agama; Tuhan mengingatkan melalaui firmanNYA; “semakin kamu bersyukur, maka akan kutambah nikmat itu, sebaliknya jika kamu kufur, maka azab yang akan KUtimpahkan pada kalian”. Semoga kita masuk dalam golongan orang yang pandai bersyukur atas semua yang Tuhan berikan kepada kita.

 

 

  • Bagikan