Lupa kok Dilawan

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Boleh dapat dipastikan semua manusia pernah mengalami lupa, tidak terkecuali Nabi sekalipun. Hanya bedanya jika Nabi lupanya itu karena dituntut Tuhan untuk memberi pembelajaran pada umat-Nya, sementara manusia itu lupa adalah ketidakingatan. Berdasarkan studi literatur, lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk mengungkapkan kembali informasi yang telah kita terima atau yang sudah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami.

Lebih lanjut dijelaskan ada beberapa faktor penyebab lupa (kompasiana.com): Pertama, karena gangguan antara item satu dengan yang lain sehingga informasi atau materi yang ada di dalam sistem memori tidak dapat diproses ke dalam otak, hal ini juga disebut konflik. Hal ini lebih mendalam lagi jika kita membedahnya menggunakan interfence theory (teori gangguan). Kedua, karena adanya tekanan kepada item yang telah tersimpan, baik sengaja atau tidak.

Ketiga, karena perubahan keadaan lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Anderson, 1990). Keempat, karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses belajar mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karena sesuatu hal sikap dan minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena kurang suka kepada beberapa guru) maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.

Kelima, perubahan urat syaraf otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol, dan gegar otak akan kehilangan ingatan item-item informasi yang ada dalam memori permanennya. Hal ini akan menjadi lebih luas lagi jika kita mau membahasnya dari aspek agama, tentu saja peran mahluk lain cukup besar dalam mendorong manusia untuk lupa, terutama yang berkaitan dengan ajaran Tuhan.

Semua di atas kita sisihkan terlebih dahulu; coba kita merenung sejenak dan bertanya kenapa Tuhan memberi manusia lupa. Ternyata lupa itu adalah salah satu anugerah Tuhan untuk mahluk-Nya yang bernama manusia; sehingga dapat terus bergerak dinamis untuk melakukan perubahan dunia. Bisa dibayangkan jika manusia tidak diberi lupa akan janjinya sebelum lahir ke dunia; karena menurut beberapa nukilan Tuhan memberikan kontrak hidup pada saat manusia akan dilahirkan: yaitu berkenaan dengan jodoh, balak, rezeki, dan maut. Bila manusia tidak diberi lupa akan hal itu, maka manusia hanya tinggal dirumah menunggu saja tanpa upaya; berarti tidak ada perubahan apa pun dunia ini.

Namun demikian, perlu disadari bahwa lupa sebagai factor manusiawi bisa berbahaya jika itu menjadi faktor kolektif. Karena lupa yang satu ini bisa membahayakan manusia itu secara keseluruhan, sebab bisa menjelma menjadi sesuatu yang destruktif sifatnya. Oleh karena itu, agama-agama Samawi, seperti telah disinggung di atas; mengingatkan bahwa lupa dengan setan itu berkelindan satu sama lain.

Lupa sendiri bisa bersifat perspektif ke depan, atau bersifat referensi ke belakang. Bersifat perspektif jika kita salah memperhitungkan akibat dari sesuatu perbuatan yang kita lakukan hari ini. Sebagai contoh jika kita memberi izin untuk dilakukannya sesuatu hari ini, maka izin itu harus berlaku umum untuk sesuatu yang lain juga. Jika itu tidak kita lakukan; maka kita akan dituntut akan berbuat adil.

Sedangkan yang bersifat referensi kebelakang ialah kita lupa bahwa tidak ada peristiwa yang tanpa didahului oleh peristiwa lainnya. Jika kita melakukan suatu perlakuan saat ini tanpa hirau akan peristiwa sebelumnya, maka kita termasuk kelompok orang yang lupa akan sejarah. Karena rangkaian peristiwa itu berlangsung sepanjang terbentangnya dunia ini, maka adanya gerakan “melawan lupa” adalah bentuk peringatan sosial kepada ingatan kolektif yang ada pada manusia.

Tidak salah jika orang bijak mengatakan “kacang jangan lupa kulitnya” atau jangan sampai ketiga lupa ini hinggap di kita, yaitu lupa diri, lupa ingatan, lupa segalanya. Karena yang terakhir ini membuat tidak ada pembeda kita manusia dengan mahluk lainnya di muka bumi ini. Namun ada sesuatu yang wajib dilupakan yaitu perbuatan baik kita kepada makhluk lain, dan serahkan itu kepada Tuhan. Sementara ingat selalu kesalahan kita kepada mahluk lain, karena selagi ada waktu percepatlah untuk bermohon maaf.

Selamat ngopi sore…