Beranda Teras Berita Maaf Saya Tidak Terpilih

Maaf Saya Tidak Terpilih

323
BERBAGI
Gunawan Handoko*

PRAKTIK
politik uang oleh sebagian besar calon anggota legislatif (Caleg) maupun partai
politik pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 lalu berlangsung lebih vulgar bila
di banding Pemilu 2009. Bahkan
Pemilu 2014 merupakan yang terburuk sepanjang era reformasi. Jika sebelumnya
politik uang dilakukan secara diam-diam, sekarang para caleg maupun tim sukses
secara terang-terangan mendatangi dan meminta konstituen untuk memilihnya di
hari pemungutan suara dengan imbalan tertentu.

Judul
tulisan ini untuk menjawab judul tulisan Mario Rustan, di The Jakarta Post,
(20/4) lalu yang berjudul “My sincerest apologies, I did not vote.” Namun sebagai caleg, saya hanya bisa menjawab dengan pernyataan yang sama. Permintaan maaf
saya dengan tulus, saya tidak terpilih. Sebab,
menyaksikan fenomena politik uang ini, saya jadi teringat ucapan beberapa
sahabat sekitar satu tahun lalu ketika mereka tahu bahwa saya ikut jadi caleg.
Bahkan, saya diminta untuk berpikir ulang dengan alasan biaya yang sangat mahal.
Di
zaman sekarang ini, kata sahabat saya, untuk menjadi caleg tidak  cukup hanya dengan modal pintar, memiliki
integritas dan moral serta rekam jejak yang baik. Semua akan tenggelam dan
terlindas oleh politik transaksional.Bahkan
para sahabat mengingatkan agar saya jangan terlalu idealis untuk tidak
melakukan praktik kotor dengan jual beli suara, baik kepada calon pemilih
maupun penyelenggara pemilu.
Masa
bodoh dengan celotehan para sahabat, yang pasti saya tetap maju dengan komitmen
untuk tidak melakukan politik kotor dalam bentuk apapun. Akhir dari perjuangan
ini, saya ingin meraih kemenangan secara terhormat. Begitu sebaliknya, jika
harus kalah maka kekalahan yang terhormat pula.
Maka
setiap kali bersosialisasi di hadapan masyarakat selalu saya sampaikan bahwa
saya tidak akan pernah memberikan uang sebagai bentuk imbalan. Suara rakyat
bukan untuk dibeli, tapi diperjuangkan. Media
untuk sosialisasi bukan kartu nama, melainkan liflet yang memuat tentang
riwayat hidup sejak lahir sampai hari ini disertai dengan riwayat organisasi.
Saya
ingin agar masyarakat benar-benar tahu tentang rekam jejak (track record) dan berbagai hal
tentang diri saya, bukan sekedar melihat foto dan nama serta nomor urut. Seyogianya
para politisi dan calon pemimpin yang merupakan orang-orang terhormat dapat
memberikan pendidikan politik dan demokrasi secara benar bagi masyarakat,
dengan harapan agar masyarakat dapat memilih calon wakilnya yang diyakini akan
berpihak pada kepentingan rakyat.  Jangan
sampai muncul istilah membeli kucing dalam karung. Sayangnya, yang terjadi
justru sebaliknya.
Caleg
banyak yang membabi buta, menyebar virus pragmatisme demi meraih kekuasaan. Ironis
dan menyedihkan, jika pada Pemilu 2009 politik uang hanya sekitar 10 persen,
konon sekarang naik sekitar 33 persen. Ini
sebagai bukti ketidaksiapan para Caleg dalam menghadapi kontestasi politik,
khususnya terkait dengan kualitas individunya.
Para
caleg memiliki kecenderungan takut kalah saat pemilu, selain tidak berani
bersaing untuk menghadapi Caleg lain yang lebih berkualitas, baik di internal
atau eksternal partai politik. Lebih
parah lagi, jika pada Pemilu 2009 kecurangan atau tindak pidana pemilu
dilakukan oleh caleg atau parpol, pada pemilu 2014 ini pidana pemilu semakin
meluas dan terstruktur yang melibatkan penyelenggara.
Ambil
saja contoh, adanya surat suara yang sudah dicoblos, surat suara tertukar,
penggelembungan suara maupun pidana pemilu lainnya hanya mungkin dilakukan oleh
penyelenggara pemilu itu sendiri mulai dari PPS, PPK, KPUD sampai KPU.Tersingkirnya
politikus murni Diberlakukannya Pemilu dengan sistem proporsional terbuka
dimaksudkan agar ‘orang-orang baik’ di luar Partai Politik seperti akademisi,
kaum intelektual dan mantan birokrat serta kaum cerdik pandai lainnya memiliki
kesempatan untuk masuk ke parlemen. Namun pada kenyataannya justru jauh dari
harapan. Kelompok ini lebih memilih untuk tetap di luar dan mengontrol kerja
parlemen.
Kesempatan
tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha dan para medioker yang
nota bene tidak tahu tentang kerja-kerja politik. Kelompok
ini masuk menjadi caleg dengan mengandalkan uang dan kehadirannya secara
langsung telah menggeser politikus murni yang berasal dari internal partai
politik. Akibat
berkurangnya jumlah politikus murni telah menyebabkan para medioker menjadi kuat
karena mereka memiliki kapital lebih besar dan berani untuk berjudi dengan
politik.
Dari
hasil pleno rekapitulasi suara di tingkat KPU Kabupaten/Kota dapat terlihat
bahwa para caleg yang meraih suara terbanyak adalah para medioker, sementara
politikus murni banyak tersingkir akibat tidak memiliki kemampuan finansial.
Inilah
sisi negatif dari sistem proposional terbuka yang tidak bisa dilihat dengan
kacamata kuda. Partai
politik yang  diharapkan dapat berfungsi
sebagai kawah candradimuka bagi para politisi terpaksa harus membuka diri bagi
kader eksternal pada saat penjaringan bakal calon legislatif.
Bagi
partai politik yang telah mapan dan memiliki mekanisme yang jelas dalam proses
kaderisasi nampaknya sulit untuk ditembus oleh kader ekternal. Maka, wajar jika mereka menyerbu partai politik papan bawah untuk dijadikan batu
lompatan guna memenuhi ambisinya menjadi dewan.
Saya
memakai istilah batu lompatan karena tidak ada jaminan bahwa setelah terpilih
menjadi legislator nanti mereka akan loyal kepada partai politik. Justru
yang dikhawatirkan, partai politik tidak bisa mengendalikan legislator medioker
ini, karena mereka memiliki segalanya.
Di
akhir selesainya hajat Pileg ini saya harus mengakui bahwa benteng legislator
tidak dapat di tembus melewati ‘jalan suci’ yang bernama cerdas, pintar dan
kredibilitas. Apalagi hanya bermodal moral yang baik, melainkan harus dengan
uang.
Meski
tidak jadi, saya merasa bangga kepada ribuan pemilih cerdas yang telah
memberikan hak suaranya dengan sadar dan ikhlas tanpa imbalan uang dan barang.
Namun dengan tulus saya berucap, maaf, saya tidak terpilih. (*)

*)
Caleg DPRD Provinsi Dapil Lampung 3 dari Partai Gerindra
Loading...