Beranda Ekbis Bisnis Madu Asli dan Kopi Bubuk “Say”, Cara Mahasiswa Lampung Menembus Pasar Pulau...

Madu Asli dan Kopi Bubuk “Say”, Cara Mahasiswa Lampung Menembus Pasar Pulau Jawa

546
BERBAGI
Madu Say siap dipasarkan

MALANG, Teraslampung.com—Meski masih baru, karya mahasiswa asal Lampung berupa produk madu hutan dan kopi bubuk asal Way Kanan mulai menjajaki peluang pasar di Jawa, khususnya di Bogor dan Malang, Jawa Timur.

Madu asli dan kopi Lampung yang diberi merek “Say” itu diproduksi di Nuwa Kham, asrama mahasiswa asal Lampung di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

Menurut Prima Sukmana Resma, mahasiswa Program Studi Industri Pertanian Universitas Brawijaya, ia merintis usaha madu dan kopi bubuk asal Way Kanan karena ingin memperkenalkan potensi unggulan daerah Lampung yang cukup terkenal.

Madu dan Kopi Bubuk “Say” mulai diproduksi pada pertengahan tahun 2014. Saat ini pemasaran difokuskan  di Bogor dan Malang. Alasannya, karena di dua wilayah itu banyak warga Lampung, baik karena sedang menempuh studi maupun merantau karena bekerja.

Produk ini menggunakan madu asal Kecamatan Way Tuba Waykanan. Menurut Priama, jenis madu ini merupakan kualitas madu terbaik.

Prima Suksmana bersama Gubernur Lampung Ridho Ficardo

Menurut Prima, memang cukup sulit untuk dapat menemukan madu yang benar-benar asli dengan khasiat terbaik. Namun, kata dia, madu dan kopi bubuk hasil kreativitas mahasiswa asal Waykanan dapat terjamin keaslian dan rasa serta khasiatnya.

“Madu Lampung, memang tak asing lagi bagi kita. Cairan kental dan manis ini memiliki khasiat yang sangat baik bagi kesehatan tubuh manusia. Madu Lampung asal Waykanan tidak menggunakan bahan campuran apa pun dan tidak ada proses pengurangan kadar air, artinya asli sehingga khasiatnya dapat terjamin begitu juga dengan bubuk kopi yang langsung diperoleh dari petani kopi Waykanan”, terang alumni SMA Al Kautsar Bandar Lampung.

Produksi madu yang dikemas dengan botol mini dengan berat 250 gram dijual RP 35.000/botol.  Sementara produk kopi bubuk asli  dengan kemasan berwarna merah,  berat 200 gram yang dijual Rp30.000/bungkus.

Menurut Prima, madu dan kopi bubuk lebih mudah diolah dan dibawa ke mana-mana tanpa khawatir wadahnya akan pecah. Selain itu, juga praktis dikonsumsi.

“Alasan inilah yang membuat saya senang dan fokus menjalankan peluang usaha ini,” kata Prima.

“Sejauh ini memang pemesanan lebih banyak datang melalui jaringan sosial media dan pertemanan. Namun, tidak tertutup kemungkinan kami akan jajaki pada perusahaan-perusahaan atau industri dan restoran, misalnya Starbucks dan Garuda ,” kata Prima.

Sebagai produk usaha ekonomi kreatif,  masalah kesehatan akan menjadi pokok utama dengan tetap menggunakan bahan alami, tanpa pengawet. Makanya, para mahasiswa itu optimistis usaha kreatif madu dan kopi bubuk asli akan disambut pasar sangat positif.

Dukungan dan apresiasi juga diberikan ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Waykanan, Raden Adipati Surya.

“Kreativitas anak muda asal Waykanan  yang sedang belajar di pulau Jawa ini harus diberikan ruang dan dukungan yang baik harapan kita tentunya kesuksesan sebab ide-ide kreatif dengan mempromosikan produk dari daerah asal tentunya akan membawa dampak yang positif bagi kemajuan Waykanan,” ujar Ketua DPRD Kabupaten Waykanan.

Gubernur Lampung Ridho Ficardo pernah menyambangi usaha madu dan kopi bubuk saat menghadiri seminar dan pameran produk usaha kreatif di Bandung Agustus 2014 silam. Namun, para mahasiswa kreatif itu merasa hal itu belum cukup untuk menunjukkan dukungan Pemerintah Daerah Lampung.

“Harapan besar dan aksi nyata akan dukungan Pemprov Lampung dan Pemkab Way Kanan kami nantikan akan kreativitas ini. Peluang ekonomi kreatif ini bukan semata untuk bisnis belaka tetapi lebih mempromosikan akan potensi Provinsi Lampung baik potensi unggulan produknya maupun kebudayaanya melalui promosi daerah Lampung dengan ikon-ikon lainya,” ujar Prima.

Aan Primadona Rosa