Maestro String Art Mbah Surip Ajarkan Penyandang Disabilitas dan Anak Yatim Berkarya

  • Bagikan
Mbah Surip dengan string art wajah Gus Dur karyanya.
Mbah Surip dengan string art wajah Gus Dur karyanya.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN—Mbah Surip (45), merupakan sosok yang sebelumnya malang melintang bekerja di pertambangan dan kini memilih fokus menekuni seni rupa string art dan memberikan edukasi kepada penyandang disabilitas dan anak yatim piatu untuk bisa berkarya.

Untuk belajar seni rupa string art, kata Mbah Surip, membutuhkan ketekunan, keuletan,  dan kesabaran. Menurut Mbah Surip, hal itu bisa menjadi salah satu terapi bagi anak disabilitas yang memiliki kelainan syaraf otak atau cerebral palsy (CP).

“Pola dalam mengedukasi anak berkebutuhan khusus (disabilitas CP) ini, memang perlu perlakukan khusus. Tapi semua itu tergantung dari mentor dan orangtua yang mendukung. Karena ketika nanti tangannya bergetar saat mengaitkan benang dari paku ke paku, itulah yang dirasakan berat,”ujarnya yang juga memiliki anak penyandang disabilitas Cerebral Palsy (CP).

Ia mengatakan, seorang anak penyandang disabilitas CP yang masih terus belajar dengan dirinya adalah Reyhan Saputra (16) asal Kabupaten Pesawaran. Sejak dua bulan terakhir ini, Reyhan belajar menekuni seni rupa string art.

“Perkembangan Reyhan cukup lumayan, dia (Reyhan) bisa menyelesaikan gambar sketsa wajah Presiden Joko Widodo dalam delapan hari,”ucapnya.

Selain Reyhan, ia juga mengajarkan seni rupa string art kepada penyandang disabilitas Cerebral Palsy kepada seorang wanita berusia 22 tahun bernama Sinta Meliyana asal Kota Metro yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Awal mula ketemu Sinta, saat itu Ia diminta oleh salah satu pengurus penyandang disabilitas Kota Metro untuk memberikan edukasi string art kepada penyandang disabilitas dan keluarga disabilitas. Kemudian, ia melihat salah satu karya string art, menurutnya karya itu cukup lumayan meski baru pertama kali diberikan edukasi.

“Saat itu saya berpikir, bahwa yang merajut karya string art itu adalah ibunya Sinta. Begitu saya tanya, ternyata karya itu Sinta sendiri yang merajutnya. Sejak dari situlah, saya berusaha memberikan edukasi kepada Sinta untuk terus berjuang agar bisa berkarya,”ungkapnya.

Dalam waktu satu minggu merajut menggunakan benang, kata Mbah Surip, hasil karya Sinta ini sangat luar biasa. Kemudian karya seni rupa string art berikutnya, diselesaikan oleh Sinta selama empat hari.

“Sinta telah menghasilkan karya seni rupa string art seperti wajah mantan Walikota Metro Achmad Pairin serta tokoh Kota Metro lainnya. Sinta juga membuat karya string art wajah Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dan pada Juni 2021 lalu Sinta memberikan karyanya itu langsung kepada Gubernur Lampung,”bebernya.

Menurutnya, di kalangan anak disabilitas yang diberikan edukasi oleh dirinya, Sinta termasuk sebagai rekor tercepat merajut benang mengasilkan karya seni rupa string art meski kondisi tangannya masih gemetar saat merajut.

“Sinta konsisten dalam menyelesaikan tanggungjawabnya dalam merajut membuat karya seni rupa string art yang dilakukannya dari hari ke hari,”kata dia.

Keseharian Sinta, lanjut Mbah Surip, yakni di rumah saja dengan ditemani tayangan televisi. Sinta tinggal bersama neneknya, Sumirah di Jalan Rambutan, Kelurahan Mulyojati 16C, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro. Sejak lahir hinga sekarang tumbuh dewasa berusia 22 tahun, Sinta dirawat neneknya. Sementara kedua orangtuanya, tidak tahu di mana keberadaannya.

“Meskipun hanya tamat sekolah dasar (SD), Sinta mampu membaca dan menganalisa huruf dan angka yang diajarkannya melalui seni rupa string art. Sehingga pola-pola yang diajarkan dalam string art, Sinta dapat menyelesaikannya dengan cepat dan tepat,”terangnya.

Ia menambahkan, dalam keluarga disabilitas berkarya Kota Metro, ada enam anak spesial termasuk Sinta yang diajarkan oleh dirinya mengenai seni rupa string art. Mereka membuat sketsa wajah tokoh-tokoh Kota Metro yang menurutnya dianggap berpengaruh dan peduli terhadap penyandang disabilitas di Kota setempat.

“Seni rupa string art wajah tokoh-tokoh Kota Metro yang dibuat anak-anak penyandang disabilitas CP ini, seperti Moses Herman mantan Walikota Metro pertama, Lukman Hakim, Saleh Chandra, Achmad Pairin, Djohan, Achmad Chrisna Putra, Anna Morinda dan Yunita Virya,”kata dia.

Selain mengajarkan anak-anak penyandang disabilitas CP, Mbah Surip mengajarkan anak-anak yatim piatu di sekitar tempat tinggalnya untuk belajar seni rupa string art termasuk membuat gantungan kunci dari tali kur dan kelereng. Selain itu, aa pernah mengedukasi 32 peserta dalam satu hari dari berbagai daerah di Lampung mengenai string art pada November 2019 lalu.

“Ke depan, saya berencana untuk memberikan kontribusinya kepada para penyandang disabilitas secara lebih luas lagi di Lampung melalui Forum Komunitas Keluarga Disabilitas (Forkasi). Saya sangat terbuka bagi siapapun yang ingin belajar seni rupa string art,”pungkasnya.

Kapolda Lampung, Irjen Pol Hendro Sugiatno dan Dewan Kesenian Lampung (DKL) mengapresiasi karya langka yang dilakukan Mbah Surip ini, terlebih lagi tidak banyak orang yang bisa berkarya seni string art di Lampung dan hanya Mbah Surip inilah satu-satunya seniman string art di Lampung yang merupakan seni rupa langka tersebut.

Pamerkan String Art Wajah Presiden, Wapres dan 36 Menteri

Karya seni rupa string art yang belum lama ini dibuat Mbah Surip dengan melibatkan beberapa tim anak-anak disabiltias Cerebral Palsy (CP) termasuk Reyhan dan Sinta, dengan membuat sketsa wajah Presiden Indonesia, Ir. H. Joko Widodo dan Wakil Presiden (Wapres) KH. Ma’ruf Amin bersama 36 orang menteri Kabinet Indonesia Maju (KMB). Dengan harapan, anak penyandang disabilitas juga bisa maju.

Proses pembuatan gambar string art wajah Presiden Wapres ukuran 100×122 dan diameter gambar 90 centimter tersebut, diselesaikan oleh Mbah Surip dengan melibatkan anak-anak penyandang disabilitas Cerebral Palsy (CP) selama tiga bulan.

Karya tersebut dibawa ke El’s Coffee Rostery Bandarlampung untuk dipamerkan pada event menyambut hari penyandang disabilitas Cerebral Palsy (CP) sedunia yang jatuh pada tanggal 6 Oktober 2021.

“Dalam acara itu, melibatkan anak-anak penyandang disabiltas dan keluarga disabilitas. Karya string art wajah Presiden Joko Widodo dan Wapres KH. Ma’ruf Amin bersama 36 orang menteri Kabinet Indonesia Maju itu, dipamerkan mulai dari tanggal 7-21 Oktober 2021,”ujarnya kepada teraslampung.com.

Mbah Surip mengatakan, pada event hari penyandang disabilitas Cerebral Palsy (CP) dunia tersebut, Ia disupport oleh Owner El’s Coffee Rostery serta keluarga El’s Coffee dan Polda Lampung. Menurutnya, bisa saja memperingati hari disabilitas Cerebral Palsy (CP) dunia tahun depan (2022), karena di tahun 2021 ini bisa dilakukan kenapa harus menunggu di tahun depan.

“Pembuatan string art wajah Presiden, Wapres dan 36 menteri Kabinet Indonesia Maju ini menggunakan dana tabungan saya pribadi Rp 70 juta. Dana ini, saya dapat dari hasil seni string art yang selama ini saya tekuni. Saya tidak berpikir yang lain, karena bagaimana event ini bisa berjalan itu saja,”ungkapnya.

Dikatakannya, setelah event tersebut dilaksanakan, pada tanggal 22 Okteber 2021 ini karya seni rupa string art ini rencanya akan dibawa oleh Kapolda Lampung, Irejn Pol Hendro Sugiatno untuk diserahkan langsung ke Istana Negara.

“Alhamdulilah, Pak Kapolda Irejn Pol Hendro mensupport kegiatan kami. Untuk komunikasi langsung memang belum pernah, tapi beliau (Pak Kapolda) sangat mengapresiasi dan mensupport hasil karya-karya seni string art saya dan juga anak-anak disabilitas ini,”bebernya.

Awal Kapolda Lampung Irjen Pol Hendro mengapresiasi karyanya itu, saat beliau datang ke El’s Cofffee Rostery beberapa waktu lalu dan melihat langsung karya seni rupa string art miliknya tersebut.

“Saat itu pak Kapolda bertanya kepada Elki selaku pemilk El’s Coffee Rostery, pesan dimana ini (seni rupa string art). lalu Elki mengatakan kalau penggiatnya seni rupa string art ini ada di Lampung,”kata dia.

Sejak saat itulah Kapolda Lampung memberikan suport kepada dirinya. Belum lama ini, Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad bersama beberapa pejabat Polda Lampung lainnya sudah datang ke rumahnya untuk melihat langsung galeri stringa art miliknya.

“Disitulah saya menyampaikan ke Pak Kabid Humas Polda Lampung, kalau saya ingin membuat event merayakan hari disabilitas Cerbral Palsy (CP) sedunia dan beliau juga mensupportnya,”pungkasnya.

  • Bagikan