Beranda Pendidikan Kampus Mahasiswa Indonesia Mainkan Rebana dengan Syair Lima Bahasa

Mahasiswa Indonesia Mainkan Rebana dengan Syair Lima Bahasa

208
BERBAGI
Pentas mahasiswa Indonesia di Nanchang. (dok. nu.or.id)

NANCHANG–Gemuruh tepuk tangan berkali-kali terdengar saat terbang rebana dimainkan mahasiswa-mahasiswi Indonesia dalam acara Nanchang University (NCU) Postgraduate New Year Art Gala Festival. Tepuk tangan makin gemuruh ketika diiring nyanyian lima bahasa: Aceh, Arab, Inggris, Mandarin, dan Indonesia.

Lantunan syair “Meuratep” khas Aceh dinyanyikan Nelli mengiring gerakan singkat tari Saman saat pembuka penampilan. Dilanjutkan dengan “Hamawi Ya Mis Mis” dan lagu Lenka berjudul “Trouble” yang digubah liriknya. Kemudian ditutup dengan cuplikan lagu “Sempurna” Andra and the Backbone dengan lirik digubah dalam bahasa Mandarin dan Indonesia.

Penampilan tersebut dimainkan 12 mahasiswa Indonesia di Nanchang University yakni Nurwidiyanto, Khoiruddin, Najibullah, Beni Arief Hidayat, Ahmad Syaifuddin Zuhri, dan Hilyatu Millati Rusydiyah dari Semarang. Boihaki dan Nelly dari Aceh. Hukmawati, Ummi Fadhilah, Jusmianti dan Fatmawati dari Makassar. Mereka tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok cabang Nanchang.

Acara di gedung Music Hall Nanchang University, Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok pada Senin (29/12) tersebut disaksikan lebih dari 500 penonton. Mulai dari mahasiswa lokal, asing, dosen, dan civitas akademika Nanchang University lainnya.

Sebelum mereka tampil, harus mengikuti seleksi ketat selama dua kali dalam sebulan bersama dengan 38 grup penampil mahasiswa lokal lainnya.

Dari total 15 lolos final, penampilan mahasiswa Indonesia mendapat applaus berkali-kali dari penonton. Selain sebagai satu-satunya dari mahasiswa asing yang tampil adalah karena tabuhan dari alat terbang rebana yang dibawakan sangat rancak dan dinamis.

Sehingga, di akhir acara diumumkan menjadi penampilan favorit pilihan penonton oleh pembawa acara berdasarkan dari respon di akun resmi mikroblogging Weibo (twitter-nya Tiongkok) milik panitia yang ditunjukkan dalam layar LCD di panggung.

“Nimenzhenlihai, feichanghaoting” atau kalian sangat lihai dan sangat enak didengar tabuhan musiknya,” ujar Chen mahasiswa S2 jurusan music Nanchang University dengan mantap, usai acara.

Penampilan tersebut merupakan kedua kali dari mahasiswa Indonesia setelah tanggal 25 sebelumnya tampil dalam acara NCU School of Life Science Art Festival. Penampilan mereka mendapat dukungan sponsor penuh dari Li Xueyuan atau School of Life Science.

“Dalam penampilan yang dibatasi maksimal enam menit ini kami harus berkali-kali latihan,” ungkap Nurwidiyanto selaku Koordinator tim.

Ia menerangkan, dari evaluasi penampilan tanggal 25 Desember lalu, kami mendapat ide untuk mengkreasikan kembali penampilan dengan menambah lagu bahasa Inggris sehingga ada lima bahasa dari sebelumnya empat bahasa serta dengan menambah beberapa gerakan dan ketukan musiknya

“Kreasi perubahan itu kami siapkan dalam semalam sebelum penampilan, itu supaya pesan yang ingin kami sampaikan ke penonton bisa ditangkap,” tambah mahasiswa S2 Jurusan Matematika itu.

Satu set alat musik terbang rebana tersebut adalah bantuan dari Bupati Demak Jawa Tengah (Jateng) H. Dachirin Said dan beberapa tokoh masyarakat Semarang untuk mahasiswa asal Jateng yang kuliah di Nanchang University akhir tahun 2013 lalu. Sudah total enam kali penampilan dengan alat tersebut sejak didatangkan. Mulai dari penampilan kebudayaan di kampus hingga di luar kampus.

Mahasiswa Indonesia di Nanchang University sendiri sejak 2011 aktif tiap tahun mempromosikan budaya Indonesia secara swadaya melalui pagelaran Festival Budaya dan Kuliner Indonesia, partisipasi penampilan tari Saman, tari Paduppa Makassar, angklung, musik perkusi, rebana dan penampilan seni lainnya.

Saat ini terdapat 39 mahasiswa Indonesia yang berasal dari Aceh, Jakarta, Semarang dan Makassar. Mereka mendapat beasiswa belajar S2 di kampus tersebut dari pemerintah Tiongkok dan mengambil berbagai jurusan seperti TI, Manajemen Perusahaan, Matematika, Jurnalistik, Hubungan Internasional, Bahasa Mandarin dan lain sebagainya.

Sumber: nu.or.id

Loading...