X
    Categories: Mesuji

Kereeen… Mahasiswa Unila Sulap Biji Karet Mesuji Jadi Kerupuk Layak Jual

Mahasiswa PKM-PM Unila di Desa Adi Luhur, Mesuji. Mereka membantu warga membuat industri rumah tangga dengan memanfaatkan biji karet.

TERASLAMPUNG.COM  Biji karet atau klatak yang selama ini sering dianggap tidak berguna, ternyata bisa diolah menjadi penganan yang enak. Itulah yang dilakukan para mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ketika mendapati banyak biki karet di Desa Adi Luhur, Kecamatan Panca Jaya, Kabupaten Mesuji.

Eka Prianti dan Zupika Audina (mahasiswa jurusan Agribisnis), Carta Wijaya dan Rizal Gata Kusuma (jurusan Teknik Geofisika), dan Sartika (jurusan Kehutanan) mengolah biji karet menjadi kerupuk yang renyah. Mereka adalah mahasiswa Unila yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM.

Mereka mengolah biji karet menjadi kerupuk berbekal keahlian yang mereka miliki. Biji karet yang semula hanya dianggap sebagai gulma penganggu, kini berubah menjadi produk kerupuk yang bernilai ekonomi tinggi.

Desa Adi Luhur sejak dulu memiliki biji karet yang melimpah. Maklum, desa tersebut memiliki lahan kebun karet yang lumayan luas, karena sebagian besar  penduduknya berprofesi sebagai petani karet.

Potensi biji karet atau yang disebut warga sekitar sebagai klatak tersebut mendorong lima mahasiswa asal Universitas Lampung (Unila) untuk mengolahnya menjadi komoditas yang bernilai jual lebih.

“Program ini bertujuan menciptakan usaha mandiri masyarakat yang kreatif, inovatif, dan tepat guna dengan memanfaaatkan biji karet sebagai bahan baku,” tutur Eka Prianti, Ketua PKM-PM Unila,  Kamis (23/06/2016).

Menurut Eka, saat ini program tersebut telah mencapai hasil 80% dari target. Yakni, terciptanya industri rumah tangga  yang berkelanjutan.

“Kami sudah memberikan pelatihan membuat kerupuk berbahan biji karet yang layak jual kepada para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Adi Luhur. Masyarakat juga kami latih melakukan pengemasan, pelabelan, dan pemasaran,” kata Eka.

Tidak hanya itu.Kelompok KWT juga diberi modal awal berupa mesin pres kemasan, timbangan, alat pemotong kerupuk, plastik kemasan, label, serta bahan-bahan pembuatan kerupuk.

Biji karet yang sudah diolah menjadi kerupuk dan siap dijual.

Menurut Eka, kini sudah terbentuk dua sentra produksi kerupuk biji karet di Desa Adi Luhur. Yaitu KWT Melati dan KWT Mawar. Kerupuk biji karet saat ini dijual di pasaran dengan harga Rp 10.000 per kemasan ukuran 150 gram dengan berbagai varian rasa.

Selain itu, produk kerupuk biji karet tersebut telah mengikuti berbagai perlombaan dan pameran. Jugam  telah dipasarkan di berbagai tempat.

“Para pemesannya adalah masyaraakat umum dan instansi,” kata dia.

Eka mengaku program ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Antara lain dari  kepala desa setempat, dinas terkait, bahkan mendapat apresiasi dari Bupati Mesuji, Khamami.

“Kami berharap kerupuk biji karet dapat berkembang dan menjadi produk oleh-oleh khas Mesuji yang disukai oleh masyarakat luas dan memberikan alternatif bagi petani karet untuk meningkatkan penghasilan, mengingat harga getah karet yang kian hari semakin menurun,” Eka menandaskas.

TL/Rls

Teras Lampung :Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya