Majikan dan Karyawan

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Beberapa hari ke depan kita semua memasuki bulan ujung tahun 2021; makna masuk ke bulan tersebut banyak tafsir yang dapat kita dedahkan. Salah satu di antaranya adalah peristiwa itu ditunggu oleh sebagian karyawan berkaitan dengan nasibnya. Evaluasi dilakukan untuk meneruskan atau diputuskan hubungan kerja dengan majikan, mewakili perusahaan atau apa pun namanya.

Mereka dengan berdebar setiap memasuki bulan akhir tahun, karena evaluasi begini sangat menyakitkan; namun apa hendak dikata karena itu tercantum dalam kontrak kerja yang mereka tanda tangani setiap awal tahun. Harap dan cemas ini menyelimuti perasaan mereka; sehingga tidak jarang ada di antara mereka terkena stress.

Libur akhir tahun bagi mereka adalah mimpi indah di siang bolong; karena memikirkan kelangsungan hidup untuk tahun depan adalah prioritas segalanya dan belum tentu kepastiannya. Apalagi kalau dipikirkan bagaimana sulitnya sekarang mencari pekerjaan, sampai ada yang mengatakan lebih mudah mencari lubang jarum daripada lowongan pekerjaan.

Apakah itu pada karyawan saja? Ternyata tidak. Majikan pun terkena stres karena harus memikirkan mencarikan bonus bagi karyawan sesuai perjanjian kontrak kerja. Dengan kondisi seperti saat ini, dengan dampak pandemi Covid-19 yang masih sangat terasa di perusahaan atau di lapangan pekerjaan, maka secara keseluruhan sebenarnya posisi neraca dalam keadaan rugi. Serapan program begitu rendah, semua rencana awal berubah dalam perjalanan. Posisi dilematis ini memberikan tekanan luar biasa kepada para majikan, atau pimpinan. Jika tidak dipenuhi hak hak karyawan, maka gejolak akan terjadi, dan itu akan mengganggu produksi atau kinerja. Tentu pada akhirnya akan berpengaruh kepada performa perusahaan atau institusi, dan jika ini terjadi jelas akan berakibat kepada neraca kinerja.

Ternyata karyawan dan majikan pada bulan akhir tahun sama sama mengalami stres yang luar biasa. Hanya penyebab saja yang membedakan sebagai pemicu. Pada titik ini mereka berjumpa hanya beda pintu masuk yang berbeda. Lalu mengapa kita mendedahnya persoalan ini ? Ternyata ada pembelajaran yang berharga dapat kita pahamkan.

Pertama, majikan dan karyawan; pimpinan dan bawahan, ternyata merupakan hubungan simbiosis mutualisme atau saling melengkapi. Oleh karena itu, tidaklah patut jika majikan atau pimpinan mengambil jarak yang begitu jauh, hanya untuk sekeping wibawa. Bisa dibayangkan hanya ucapan terima kasih saja tidak keluar untuk seorang pengemudi yang telah membawa kita ke mana-mana. Padahal, ucapan itu adalah “bumbu masak kehidupan” bagi mereka, yang akan mereka ceritakan dari masa ke masa kepada lawan bicaranya.

Kedua, majikan dan karyawan; pimpinan dan bawahan, adalah dua sisi mata uang yang saling meneguhkan keberadaan masing masing. Sisi kanan tidak bermakna kanan jika tidak ada kiri. Begitu juga  sebaliknya: kiri tidak akan bermakna kiri jika tidak ada kanan. Yang besar tidak akan pernah ada, jika tidak ada yang kecil. Yang kecil tidak akan pernah ada jika tidak ada yang besar memaknainya. Oleh sebab itu hubungan komplementer ini seharusnya dijaga, bukan dengan main pecat karena tidak suka dengan yang membawanya menjadi karyawan. Atau menyanjungnya setinggi langit hanya karena akan diperas keringatannya melebihi kemampuannya.

Ketiga, atasan dan bawahan tidak bisa saling menafikan. Oleh karena itu, jarak yang jauh didekatkan, jurang yang menganga ditimbun; sehingga tidak ada tumbuh dendam di sana. Karena jika itu yang tumbuh, maka sesat dunia akan terbawa sampai ajal menjemput. Sementara batas periode kepemimpinan itu ada. Sangatlah bijak jika kita berpikir waktu tempuh pemimpin tidak akan bisa mengejar saat datangnya kodrat. Karena bisa jadi hari ini pimpinan besok jadi rakyat. Orang bijak mengatakan jangan buang sahabat cuma karena tak sepakat.

Pergulatan akhir tahun ternyata juga pergulatan pilu dan bahagia; walaupun semua kita menyadari bahwa keduanya itu adalah risiko atau bajunya kehidupan. Namun tidak elok jika pemimpin justru mengambil keputusan dengan mendahulukan pilu dari pada bahagia. Karena itulah salah satu tugas pemimpin untuk membahagiakan yang dipimpin. Bukan sebaliknya.

Semoga Desember ini bukan “Desember Kelabu” seperti kata Maharani Kahar dalam satu lirik lagunya, tetapi Desember bahagia buat seluruh karyawan negeri ini, apapun profesinya. Mari kita tutup tahun keprihatinan ini dengan sekeping bahagia, dan tidak lupa mensyukuri nikmat pemberian Sang Khalik.***

  • Bagikan