Beranda Views Kopi Sore Maju Sebagai Wakil Walikota

Maju Sebagai Wakil Walikota

223
BERBAGI

Eko J. Saputra

BEBERAPA sahabat bertanya terkait keikusertaan saya pada pesta demokrasi Kota Bandarlampung periode 2015-2020. Melalui tulisan ini, izinkan saya menjelaskan beberapa hal. Pertama, saya katakan bahwa benar saya sudah mengambil formulir pendaftaran calon Wakil Walikota Bandarlampung sepekan lalu lewat penjaringan Partai NasDem.

Sebagai bentuk keseriusan ikut meramaikan pesta demokrasi lima tahunan tersebut, saya sudah mengembalikan berkas sebagai syarat pada pencalonan tersebut Jumat (6/3). Selanjutnya, saya juga akan mendaftar ke beberapa partai yang membuka penjaringan calon kepala daerah. Dalam waktu dekat saya akan mengambil formulir calon wakil walikota dari Partai Hanura.

Ada sahabat yang bertanya, apa sih motivasi say a terjun ke dunia politik. Apalagi saya bukan orang partai dan “belum pernah” terjun ke dunia politik. Bahkan, ada sahabat yang ekstrem dan sangat skeptis dengan politik. Mereka menganggap politik itu syarat dengan kecurangan, kepentingan, kemunafikan, kotor dan pesepsi negatif lainnya. Saya tidak mengamini serta tidak menyangkal ucapan rekan ini. Sebab realitianya kadang seperti itu.

Saya sempat tecengang dan terdiam mendengar ucapan rekan ini. Lewat perenungan dan berbagai pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba terjun ke dunia politik. Sebab banyak juga tokoh politik menjadi panutan, motivasi, dan inspirasi banyak orang.

Misalnya mendiang Nelson Mandela. Kebenaran yang ia gagas lewat gerakan pembebasan kulit hitam sempat dikecam. Bahkan, Nelson Mandela sempat dipenjara selama 27 tahun karena menyampaikan gagasannya. Tapi dunia akhirnya mengakui perjuangannya bahwa apa yang ia lakukan selama ini benar. Perjuangan Nelson Mandela mendapat apresasi dari dunia. Iapun akhirnya menjadi presiden Afrika Selatan.

Agama sendiri tak melarang praktek politik. Sebab nabi-pun melakukan politik agar kebenaran bisa menyebar luas, meski harus berhadapan dengan pro dan kontra. Jadi, saya berkesimpulan bukan politiknya yang salah. Tapi visi dan misi di balik praktik politik tersebut yang jadi penilaian.
Jika nantinya masyarakat Kota Bandarlampung menghendaki, saya membawa misi dan “kepentingan”. Apa itu? Sesuai dengan kehalian yang dimiliki, saya akan membantu program pemerintah terutama dalam pengembangan diri sumber daya manusia.

Satu lagi. Sebagai praktisi olahraga, saya akan mengajak semua pihak membangun tim sepak bola yang mampu memiliki prestasi di kancah nasional. Sebab sejarah mencatat, kekuatan sepak bola Lampung pernah menjadi perhitungan. Di era 70-an Lampung memiliki Jaka Utama, era 80-an ada Lampung Putra, era 90-an ada PSBL, dan terakhir di era 200-an ada Lampung FC.

Saat ini, sepak bola bukan hanya sekedar olahraga. Melainkan sebagai kebutuhan dan mampu menggerakan sektor ekonomi. Saya ingat betul ketika Lampung FC bermain di Stadion Pahoman. Banyak sektor ekonomi bergerak di sana. Mulai dari tukang parkir, pedagang makanan,hingga angkutan umum.

Inilah kesempatan saya untuk berbuat bagi bangsa ini. Sebab esensi hidup sebenarnya bukan seberapa besar yang kita dapat dari alam semesta. Namun, seberapa banyak yang kita kembalikan sebelum kita meninggalkannya.

Mengutip pesan mantan gubernur Lampung Sjachroedin ZP. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Yang pasti untuk memulai tak perlu hebat. Tapi kalau ingin hebat harus dimulai.

SALAM OKE

Loading...